Saturday, July 28, 2018

Al-Usrah ‘Imad al-Bilad, Keluarga Adalah Tiang Negara.


Oleh : Iit Supriatin

Al-usrah ‘imad al-bilad. Keluarga adalah tiang Negara.

Al-Qur’an menyebutkan suatu komunitas dengan kata ‘ummat’. Ummat terkecil dalam masyarakat disebut keluarga, sementara ummat besarnya disebut Negara. Al-Qur’an juga menamakan ibu yang melahirkan dengan kata ‘umm’. Di pundak umm yang melahirkan ini pembinaan anak-anak dibebankan. Anak-anak yang tumbuh dalam pembinaan yang tepat, akan tumbuh sebagai tiang-tiang ummat, tiang bangsa atau Negara. 

‘Ummat’ dan ‘umm’ adalah dua kata yang memiliki akar yang sama. 

Tegaknya suatu ummat yang besar yaitu Negara, bermula dari tegaknya ummat terkecil, yaitu keluarga. Berangkat dari keluarga pula kekokohan dan katangguhan sebuah masyarakat atau Negara akan lahir sebagai penentu. 

Tegaknya ummat terkecil atau keluarga, bermula dari tegaknya pembinaan yang tepat dari seorang ibu. Ibu sang madrasatul al-ula adalah pendidik pertama dan poros utama pembentuk generasi masa depan yang berkualitas yang akan menjadi pilar penyangga Negaranya. 

Hatta, tepat kiranya jika pada adagium diatas dikatakan keluarga tiang Negara, hakikatnya, tegaknya suatu Negara bermula dari peran keluarga. 

Suatu keluarga disebut memiliki ketahanan yang kuat manakala berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dalam menjalani kehidupan meskipun berhadapan dengan kendala yang berat dan lingkungan yang tidak Islami. Yasir dan Sumayyah adalah suami istri yang memiliki kemandirian nilai. Kokohnya aqidah keislaman tidak membuat mereka khawatir sekalipun ancaman dan kematian itu sendiri harus mereka hadapi. Pun untuk anggota keluarganya, keistiqomahannya dalam memertahankan nilai-nilai Islam tidak pula menjadi duka cita  menakutkan yang memborbardir keimanan mereka untuk melepas Islam.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. [Qs.  Al-Ahqaf ayat  13]

Dalam era kehidupan saat ini yang pengaruh globalisasinya begitu besar, sesama anggota keluarga tidak bisa saling mengawasi setiap saat. Bahkan mungkin kesibukan yang tinggi dari masing-masing anggota keluarga, akan menjadi berkurangnya komunikasi sekalipun alat komunikasi sudah sedemikian canggih. Maka kemandirian nilai menjadi perkara yang amat penting untuk ketahanan keluarga. Sebagai imun untuk tetap terpelihara kuatnya nilai aqidah.

Manusia sebagai makhluk hidup dan makhluk sosial erat kaitannya dengan kebutuhan akan sandang, pangan, papan hingga pengembangan diri. Dalam  pemenuhannya tentu saja dibutuhkan pendanaan yang memadai yang harus di raih dengan cara-cara dan sumber yang halal. Setiap keluarga, khususnya ayah atau suami atau kepala keluarga, dituntut untuk mampu mengembangkan keluarganya, memiliki etos dan kemampuan berusaha, sehingga kemandirian ekonomi yang menjadi salah satu aspek ketahanan keluarga bisa terwujud. Sebaliknya, apabila terjadi kerapuhan keluarga yang di picu faktor ekonomi, dengan mendorong kaum ibu untuk bekerja bukanlah sebuah solusi praktis. Karena hal ini akan berlawanan dengan perwujudan fungsi keluarga yang lain yang melibatkan ibu. 

Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya. (HR. Ibnu Hibban 10: 344. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kehidupan keluarga tidak lepas dari berbagai goncangan. Konflik suami istri, ketidak-harmonisan menantu dan mertua atau bahkan orang tuanya sendiri, hubungan orang tua dan anak, pengaruh keluarga terhadap persoalan keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar yang tidak selalu baik dalam perjalanan keluarga, adalah goncangan-goncangan yang bisa memperrapuh keutuhan sebuah keluarga. 

Kondisi rapuhnya keluarga sangat berpengaruh pada kualitas generasi. Faktor keluarga adalah faktor utama yang berkontribusi pada semakin banyaknya  generasi yang  terjerumus penyimpangan perilaku. Misalnya narkoba, geng motor, LGBT, serta pergaulan bebas.

Maka, diperlukan konsolidasi antara suami istri untuk memperkokohnya. Ketika ada hal-hal yang kurang menyenangkan masuk dalam keluarga, seseorang harus berfikir dan belajar untuk tetap berinteraksi secara baik. Komunikasi dan menghilangkan egoisme adalah dua hal penting yang bisa menghadang goncangan-goncangan yang masuk kedalam ketahanan keluarga.

Keshalihan seorang Muslim tidak hanya bersifat pribadi. Cakupan keshalihannya tidak cukup atau sebatas untuk menyalihkan diri sendiri dan keluarga saja, termasuk menyalihkan masyarakat atau Ummat pun adalah kewajiban  setiap Muslim.

Banyak permasalahan terjadi di masyarakat yang menuntut pemecahan dan jalan keluar, sebagai keluarga dan anggota masyarakat, dituntut PERAN SOSIALnya sehingga keberadaannya bermanfaat dan bisa dirasakan di tengah-tengah masyarakat. Dari keuletan, ketangguhan serta peran sertanya mengatasi permasalahan Ummat inilah akan membuatnya menjadi keluarga terbaik sebagai cerminan keluarga yang memiliki ketahanan. 

Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Qudha’i dan Jabir Ra.)

Banyaknya persoalan yang dihadapi dalam menjalani kehidupan keluarga, bukan hanya diperlukan kekuatan daya pikir dan mentalitas paripurna bagi anggotanya, mengokohkan iman dan terus menerus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi hal primadial dan kunci pokok yang akan menghantarkan kesemuanya kepada jalan keluar. Inilah hal paling fundamental yang menjadi kunci penting ketahanan keluarga. 

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. [Qs. At-Thalaq ayat 2-3]

Mewujudkan ketahanan keluarga sebagai salah satu pilar ketahanan masyarakat dan bangsa, tidak bisa dibebankan pada kualitas individu dalam memerankan diri di masing-masing keluarganya. Fungsi religi, nilai, proteksi, ekonomi, sosial dan afeksi, mustahil diwujudkan oleh masing-masing keluarga tanpa peran besar Negara. Negara diharapkan menyediakan seluruh perangkat dan prasarana agar setiap individu dan setiap keluarga  mampu memerankan fungsi-fungsinya secara ideal, tanpa gangguan dan tidak tumpang tindih. Misalnya ketahanan keluarga dalam nilai ekonomi, menyediakan program dan sarana pelatihan agar individu terampil bekerja, membuka lapangan kerja, memberikan kemudahan permodalan dan pengembangan usaha. Kemudian hapus semua praktik kecurangan di dunia usaha. (sumber: MHTI)

Ironis, dalam paradigma sistem demokrasi yang saat ini dianut pemerintah, hal ini sulit dilakukan. Terlebih peralihan ke dalam babak sistem sekular kapitalis-liberalis telah semakin menggelembung amplitudonya. Karena faktanya, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, resesi moral sudah tak mendapat perhatian, krisis iman dan akhlak enggan untuk diperdulikan.

Jadi Pak, Bu, jika sistem demokrasi dari awal mula di adaptasi hingga saat ini masih saja rapuh dan setia dengan kegagalannya, solusi tuntasnya adalah berjuang bersama menegakkan sistem yang telah nyata ukiran keberhasilannya selama kurun waktu delapan abad lamanya, yang dampak kesejahteraannya bukan saja di nikmati oleh kaum Muslimin tapi juga oleh non-Muslim, yaitu sistem Syari’at Islam yang tegak dalam sebuah Daulah Islamiyah. Sebuah sistem dalam wadah yang mampu menyelesaikan permasalahan dan mewujudkan pengoptimalisasian peran dan fungsi keluarga dan negara di semua aspek. Islam-lah satu-satunya aturan yang mampu menyelamatkan negeri ini, yang akan secara nyata menghadirkan Negara sebagai Soko Guru (pilar utama dan paling besar) Ketahanan Keluarga.

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah (perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah) dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahannam ; dan itulah seburuk-buruk tempat. (Qs. Ibrahim ayat 28-29).


Wallahu a’lam.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!