Saturday, July 28, 2018

Al-Qur’an Bukan Sekedar Mantra Hafalan

 

Oleh: Kunthi Mandasari

 (Member Akademi Menulis Kreatif Regional  Jawa Timur) 


Pernyataan dukungan Gubernur NTB terhadap bapak jokowi untuk lanjut dua periode, terkait pilpres 2019 membuatnya menjadi buah bibir.  Dengan alasan beliau telah melaksanakan pembagunan infrastruktur di Indonesia Timur. Selain itu beliau beralasan,  satu periode tidak cukup untuk melaksanakan program yang dibuat,  jika mengaca pada pengalaman pribadinya selama menjabat di NTB. 


Tidak cukup sampai disitu,  setelah pernyataanya membuat pro dan kontra masyarakat.  Melalui 3 paket video di instagram pribadinya,  pada 6 Juli 2018 lalu.  Pada video tersebut beliau berpesan kepada seluruh tokoh dan guru bangsa,  agar tidak mengutip ayat -ayat perang dalam Al-Qur’an dalam konteks politik tanah air. 


Beliau menekankan,  bahwa kita satu bangsa.  Tidak sedang berkontes politik atau apapun.  Dan harusnya meletakkan pada fastabiqul khairat,  berbeda-beda gagasan semangatnya untuk ta’aruf,  untuk saling mengisi dan belajar. Begitulah pokok unggahan video pembelaan beliau. 


TGB merupakan gubernur Nusa Tenggara Timur,  lulusan Al-Azhar,  penghafal Al-Qur’an dan seorang doktor.  Pantas jika pernyataan dukungan beliau menjadi kontroversial dan menjadi sorotan. Mengingat pemerintah yang berkuasa saat ini dinilai tidak pro terhadap umat islam. Dengan pengeluaran UU ormas dan digunakan untuk mencabut badan hukum ormas secara sepihak. Pengesahan UU terorisme,  dimana selama ini yang tertuduh sebagai teroris adalah kaum muslim dan ajarannya. Serta framming negatif terhadap kaum muslimin. 


Sebagai seorang penghafal Al-Qur’an juga tidak mendorong beliau untuk menerapkan isi seluruh Al-Qur’an, justru pernyataan beliu berbanding terbalik agar tidak mengutip ayat Al-Qur’an. 


Alasan yang mendasari dukungan beliau dirasa kurang tepat,  jika hanya mengacu pada pembangunan infrastruktur di Indonesia timur. Mengingat masih banyak yang harus menjadi pertimbangan, misalnya kebutuhan pokok yakni sandang,  pangan dan papan seluruh penduduk Indonesia.  Masih banyak penduduk Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Harga pangan yang semakin mahal,  apalagi BBM baru saja naik lagi. Harga telur pun melonjak drastis,  yang biasanya dibawah 20rb pada hari-hari normal sekarang mencapai Kisaran 30rb. 


Masalah remaja yang semakin menghawatirkan,  karena konten tontonan yang semakin memprihatinkan.  Aneka aplikasi yang membuat remaja jauh dari fitrah. Peran pemerintah dalam mengkontrol konten tontonan masih dirasa kurang maksimal. 


Hutang negara yang semakin melilit,  dengan jumlah yang fantastis. Menguatnya dollar dan masih banyak persoalan yang belum teratasi dan selama ini pejabat yang bersangkutan memberikan tanggapan yang cukup menggelikan dan berkesan cuci tangan. 


Virus sekuler semakin mewabah,  bukan hanya kalangan awam yang mudah tercemar.  Faktanya juga menyerang kaum penghafal Al-Qur’an. Dan ini jauh lebih berbahaya,  karena orang awam hanya akan bertaqlid/mengikuti dari sosok yang melakukan,  bukan pada hal yang mendasari sesorang bertindak. Padahal penting sekali meletakkan dasar dari sebuah pilihan,  sebagai seorang muslim,  jelas bahwa halal san haram menjadi tolak ukurnya. 


Sekuler yang dalam prakteknya memisahkan agama dari kehidupan, yang merupakan biang kerusakan.  Padahal Allah swt menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup,  sebagaimana dalam Surat An-Nahl (16) ayat 89 :

artinya :

Pada hari Kami bangkitkan pada setiap umat, pemberi bukti atas mereka dari diri mereka, dan Kami datangkan kamu pemberi bukti atas orang-orang itu. Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al Qur'an) yang menerangkan atas tiap sesuatu serta petunjuk dan rahmat dan kegembiraan bagi Muslimin.


Terjun ke dalam sistem demokrasi untuk memperjuangkan hukum Allah sangatlah mustahil,  dan bukan sebuah solusi. Karena tidak akan mampu memperjuangkan islam dalam golongan yang menuhankan hukum buatan manusia. Yang bisa dibuat sesuka pemesan yang hendak melanggengkan kekuasaan.  


Al-Qur’an bukanlah sebuah mantra hafalan semata,  namun jelas-jelas diperintahkan untuk diterapkan dalam secara menyeluruh.  

Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]


Penerapan Al-Qur’an secara kaffah hanya mampu dilakukan melalui institusi negara yaitu khilafah.  Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.  Wallahu a’lambiashawab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!