Tuesday, July 24, 2018

Adzan Terakhir Untuk Ayah


Oleh: Najwa Alifah (Revowriter Aceh)


"ie mata kamoe roe oeh wate rindu karena hana pat le kamoe meungadu" air mata kami mengalir di saat rindu karena tiada tempat lagi kami mengadu." Begitulah arti bahasanya sepenggal syair aceh yang ku petik ditengah deraian air mata yang menyelimuti rumah keponaanku.


Sosok ayah yang selama ini mencengkrama bahagia menemani kami di gubuk beratap rumbia kini berubah dengan duka dan air mata. Suara takbir dan dzikir mengiringi keranda menuju ke pemakaman. Tak kuasa ku mebendung air mata yang mengalir sembari ku memandang wajah ibu dalam kepasrahan mengikhlaskan kepergian Ayah.


Allahu akbar Allahu Akbar.. air mata ku mengalir deras bagai butiran salju yang pecah. Seakan putus tulang tenggorokanku menahan sesak yang begitu dalam saat mengumandangkan adzan terakhir untuk ayah.

Kini tinggalah nama yang terkenang. Kepergiannya kehilangan berat bagiku. Aku telah hilang pundaknya yang menjadi sandaranku. Pelukan eratnya yang membuatku tenang dikala masalah datang. Nasehatnya yang membakarku ke arah jalan yang benar.


Waktu telah berjalan seminggu. Seakan masih terdengar panggilan itu di telingaku. Panggilan yang memerintahkanku untuk sholat, panggilan yang menggerakanku dari nyenyaknya tidur malam, dan panggilan dakwah darinya yang masih menggema dekat dalam sanubariku. Ternyata itu semua tinggal kenangan seiring waktu berlalu hanyalah rindu yang terkapar. 


Kisah di atas semoga menjadi pelajaran bagi kita. Betapa orang tua adalah harta terbaik kita di dunia. Tiada yang lebih ikhlas seikhlas kasih sayang mereka yang tulus mencintai kita mendidik hingga dewasa.


Berbakti kepada orangtua adalah kewajiban setiap muslim. Letaknya langsung setelah ibadah kepada Allah SWT. Selagi mereka masih ada, kita harus mengoptimalkan bakti kepadanya dan sayangilah mereka. Dengarkanlah selalu nasehat baiknya. Karena jika mereka sudah tiada kita akan sulit menemukannya. 


Kepergian yang tak mampu dihalangi dan kematian yang takan dapat dihindari. Semua akan berjalan bergiliran menurut waktunya. 


Begitulah jalan hidup manusia semuanya akan berakhir. Kesengangan, keluarga harta dan kerabat semua ditinggal pergi. Yang abadi hanyalah amal yang selama ini jika ada kita tekuni.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (Q.S. Al-Anbiyā' 21 : 35)


Waallahu ‘alam bishawab


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!