Monday, July 30, 2018

Adakah Penjara Rasa Hotel?


Oleh: Yanyan Supiyanti A.Md 

(Pengajar di STP SD Khoiru Ummah Rancaekek dan Member Akademi Menulis Kreatif)


Penjara rasa hotel, begitulah kira-kira yang ditemukan di dalam Lembaga Pemasyarakatan (penjara) Sukamiskin, Bandung oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu.


Ditemukan beberapa fasilitas mewah di dalam penjara seperti adanya pendingin ruangan (AC), televisi LCD, dispenser, peralatan fitnes, kasur busa, lemari kabinet, toilet duduk, shower air panas, dan juga terdapat alat komunikasi elektronik.


Tentu saja, berbagai fasilitas mewah ini hanya bisa didapat oleh para warga binaan (narapidana) yang memang memiliki harta banyak.


Orang yang seharusnya dihukum atas suatu tindak kriminal, yang dengan hukuman itu diharapkan ada efek jera, tetapi malah mendapatkan fasilitas mewah seolah-olah kehidupan mereka sama sekali tidak merasakan seperti di dalam penjara. Ini tentu tidak sejalan dengan semangat pemberantasan kriminalitas. Jauh panggang dari api.


Islam memandang bahwa penjara adalah salah satu jenis ta'zir (sanksi yang kadarnya ditetapkan oleh Khalifah).


Sanksi dengan model pemenjaraan, telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin.


Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, sanksi pemenjaraan itu kadang ditempatkan di dalam rumah, kadang di masjid. Artinya, belum dibuatkan ruang penjara secara khusus. Kemudian pada masa Khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu, beliau telah menjadikan rumah Shafyan bin Umayyah sebagai penjara setelah dibeli dari pemiliknya seharga 400 dirham. Kemudian Khalifah Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu pernah membuat penjara yang diberi nama Nafi'an dan Makhisan.


Penjara harus memberi rasa takut dan cemas bagi orang yang dipenjara. Tidak boleh ada lampu yang terang (harus remang-remang) dan segala jenis hiburan. Tidak boleh ada alat komunikasi dalam bentuk apa pun. Tidak peduli, apakah dia miskin atau kaya, tokoh masyarakat atau rakyat biasa. Semua diperlakukan sama. Namun, seorang narapidana tetap mendapatkan makan dan minum, hanya saja dibatasi. Boleh tidur, istirahat,  dikunjungi keluarga atau kerabat dekat. Bahkan, jika kepala penjara memandang khusus untuk mendatangkan istri si narapidana, hal itu dibolehkan, tentu dengan melihat bagaimana perilaku si narapidana dan latar belakangnya.


Di masa Khalifah Harun al-Rasyid, para narapidana dibuatkan pakaian secara khusus. Jika musim panas tiba, dipakaikan pakaian yang terbuat dari katun, sedangkan pada musim dingin dibuatkan pakaian dari wol. Dan secara berkala, kesehatan para narapidana ini diperiksa.


Dengan model penjara seperti di atas, tentu akan menimbulkan efek jera bagi pelaku kejahatan. Efek jera inilah yang memiliki fungsi sebagai zawajir (pencegah), artinya sanksi yang dijatuhkan akan mencegah pelaku yang bersangkutan atau orang lain untuk melakukan kejahatan serupa. Juga berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa), setiap kejahatan yang dilakukan secara sadar atau sengaja merupakan dosa, dan dosa akan berbalas siksa dan adzab. Karena itulah sanksi dari hukum Islam akan mampu menebusnya.


Sistem Islam akan mendidik ketaqwaan warga negaranya, sampai rasa takutnya kepada Alloh Ta'ala jauh lebih tinggi daripada rasa takutnya akan kematian. Bahkan, kematian itu sama sekali tidak ditakutinya. Indahnya Islam bila diterapkan.

Wallahu 'alam bi ash-shawab.[]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!