Saturday, July 14, 2018

4LAY GENERATION


Oleh : Amila Rosyada


Tanah air kembali dibanjiri fenomena unik nan absurd. Pasalnya, di tahun 2018, negeri yang terkenal dengan sebutan wkwkwk island ini baru saja digemborkan dengan kemunculan sesosok artis yang mendadak viral di berbagai kalangan masyarakat pribumi melalui dunia Maya. 

Makin gempar lagi karena sosok-sosok viral baru-baru ini adalah anak-anak muda belia Indonesia. Terus terang saja, dimulai dengan munculnya seorang gadis desa, Nurrani, yang telah menyedot beribu-ribu perhatian lewat tingkah polahnya di akun sosial media miliknya. Melalui beberapa video yang dia unggah tersebut, ia dengan jelas mengutarakan isi hatinya pada sang pujaan hati dengan berbagai ekspresi yang menurut kalangan masyarakat begitu nyeleneh, dan tidak seperti kebiasaan umum bagaimana seseorang bertingkah di depan banyak orang.

Bahkan saking hebohnya kisah cinta cintaan si Nurrani dengan pujaan hatinya, ia sempat diundang di berbagai stasiun televisi dan mendapatkan banyak tawaran syuting. Video tentang dirinya makin bertambah banyak, termasuk ketika dirinya bertemu beberapa artis dan membuat video bersama.

Belum kelar, ketenaran mendadak si gadis desa, Nurrani, lagi-lagi muncullah sesosok anak muda berdarah asli Indonesia yang menggemparkan dunia kids jaman now. Siapa lagi yang tak asing dengan nama Bowo Alpenliebe, si artis dadakan dari dunia Maya yang sempat dan masih dihebohkan dengan meet and great dirinya dengan para fans.

Berbagai kabar adanya pro kontra dengan biaya meet and greet yang sangat tidak masuk akal dan kabar adanya perbedaan jauh antara realita dirinya dengan ekspektasi para fans bahkan adanya pemujaan ektrem para fans fanatiknya yang berujung pada tragedi miris. 

Kita sama-sama tahu, Dua sosok muda mudi Indonesia ini masih dan masihlah sangat muda. Dua sosok artis dadakan tanah air ini adalah generasi penerus bangsa kedepannya nanti. Mereka berdua dan beribu-ribu muda mudi lainnya sempat mendapat tenar melalui dunia maya, tepat nya melalu sebuah aplikasi di sosial media. Siapa lagi yang tak kenal dengan aplikasi Tik tok yang merajalela di dunia kids jaman now. Para remaja dari berbagai pelosok berburu, berlomba-lomba mengejar ketenaran demi mendapat gelar artis Tik tok.

Satu kata. Miris.

Tepatnya tanggal 3 Juli lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memblokir sementara aplikasi Tik Tok ini. Pasalnya, Menteri Kominfo Rudiantara di beberapa media mengatakan, pemblokiran ini akan dicabut setelah pihak Tik Tok melakukan perbaikan dan membersihkan konten-konten illegal. 

Satu kata. Huuftt....

Tak perlu ada kata hujatan untuk mereka dan ribuan artis Tik tok maupun artis dadakan lainnya yang sebagian besar adalah muda mudi Indonesia. Mereka hanyalah korban. Mereka tak akan seheboh ini dengan sendirinya. Mereka ada karena sebuah akar masalah yang tertimbun rapat, tumbuh subur dan terus menerus disiram.

Mereka buah dari kebebasan. Kebebasan amburadul yang tak lain dan tak bukan berasal dari sistem demokrasi yang dianut dan dipraktekkan tiap hari nya. Kebebasan berekspresi, bertindak tanpa batas dan semua kebebasan yang seakan tak akan ada yang mengatur dan mau mengatur.

Ditambah lagi kurangnya bahkan tiadanya peran pemerintah dalam menjaga masyarakat dalam mengonsumsi dan menggunakan sosial media. Hal ini justru memperparah keadaan. Lagi lagi seperti ini lah rasanya yang memang sudah menjadi kewajaran apabila demokrasi masih menjadi akar untuk menopang tanah air.

Parah.

Berbeda jauh dengan apabila Islam menjadi pondasi bagi negeri ini bahkan untuk seluruh dunia. Tak akan sempat muda mudi kita sekonyol saat ini dalam bertingkah, tak akan sempat mereka terlena dalam menjadi tenar di masyarakat bahkan hingga tak lagi punya urat malu.

Karena Islam ada untuk menyelamatkan, bukan membiarkan keonaran. Mengkaji Islam adalah kuncinya. Memperbanyak ilmu adalah lentera nya. Marilah kita sama sama berbenah, karena negeri ini makin membutuhkan generasi baru penerus kejayaan peradaban. 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!