Monday, July 2, 2018

1000 Duka Di Suriah, Tanda Matinya Kemanusiaan


Oleh: Vivin Indriani (penulis, Member Komunitas Revowriter)


Ditengah hiruk pikuk perhelatan Piala Dunia sepak bola di Rusia, banyak yang tidak menyadari atau bahkan acuh tak acuh pada perilaku tuan rumah penyelenggara final laga dunia ini. Sejak berlangsungnya Piala Dunia(World Cup) dari tanggal 14 Juni 2018 lalu, empat hari setelahnya Rusia dan sekutunya Assad telah melancarkan kembali serangan udara ke wilayah Daraa, sebuah kota di barat daya Suriah, berjarak sekitar 13 kilometer dari utara perbatasan dengan Yordania.


Serangan yang kesekian ratus kali menggempur dan meluluh lantakkan desa-desa di wilayah Suriah yang di klaim Bashar Assad sebagai wilayah pemberontak ISIS. Meskipun tentu saja itu hanyalah dalih untuk menghancurkan basis kantong para mujahidin yang tidak lagi menghendaki Assad yang bengis memimpin Suriah. 


Dari video bisa kita lihat bahwa rentetan rudal dan senjata-senjata udara berbahaya terus menggempur desa dimana masyarakat masih beraktivitas dibawahnya. Puluhan ribu nyawa melayang. 160.000 orang mengungsi ke perbatasan Yordania berharap Yordania menolong mereka dari kekejian dihadapan mata mereka. Namun sayang, Yordania yang merupakan tetangga Suriah dan negri mayoritas muslim ini malah menutup pintu perbatasan. Membiarkan para pengungsi bergelombang menyesaki pintu perbatasan tanpa tahu kapan kesengsaraan mereka akan berakhir.


Sungguh pemandangan yang memilukan. Bagi mereka yang merasa memiliki kecintaan kepada saudaranya sesama muslim, tentu tak akan bisa nyenyak tidur atau enak makan melihat pemandangan mengerikan menimpa saudaranya. Rasulullah saw. bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى


“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]


Bagi mereka yang hatinya masih bisa disentuh oleh rasa kemanusiaan, tentu ini sesuatu yang meresahkan idealisme dan rasa keberpihakan mereka. Hal paling ringan yang bisa dilakukan sebatas melakukan aksi demo menuntut Negri Beruang Merah itu untuk angkat kaki dari Suriah.


Namun bagi mereka yang hatinya membatu, tidak perduli apapun kondisi yang tengah menimpa rakyat Suriah, hal ini sesuatu yang mengganggu keasyikan mereka. Sibuk dengan jadwal pertandingan, sibuk merayakan kemenangan negara yang bahkan bukan negaranya. Atau bahkan menangisi kekalahan negara yang juga bukan negaranya. Terutama jika negaranya tak lolos piala dunia.

1000 Duka Di Suriah, Tanda Matinya Kemanusiaan

Oleh: Vivin Indriani (penulis, Member Komunitas Revowriter)


Ditengah hiruk pikuk perhelatan Piala Dunia sepak bola di Rusia, banyak yang tidak menyadari atau bahkan acuh tak acuh pada perilaku tuan rumah penyelenggara final laga dunia ini. Sejak berlangsungnya Piala Dunia(World Cup) dari tanggal 14 Juni 2018 lalu, empat hari setelahnya Rusia dan sekutunya Assad telah melancarkan kembali serangan udara ke wilayah Daraa, sebuah kota di barat daya Suriah, berjarak sekitar 13 kilometer dari utara perbatasan dengan Yordania.


Serangan yang kesekian ratus kali menggempur dan meluluh lantakkan desa-desa di wilayah Suriah yang di klaim Bashar Assad sebagai wilayah pemberontak ISIS. Meskipun tentu saja itu hanyalah dalih untuk menghancurkan basis kantong para mujahidin yang tidak lagi menghendaki Assad yang bengis memimpin Suriah. 


Dari video bisa kita lihat bahwa rentetan rudal dan senjata-senjata udara berbahaya terus menggempur desa dimana masyarakat masih beraktivitas dibawahnya. Puluhan ribu nyawa melayang. 160.000 orang mengungsi ke perbatasan Yordania berharap Yordania menolong mereka dari kekejian dihadapan mata mereka. Namun sayang, Yordania yang merupakan tetangga Suriah dan negri mayoritas muslim ini malah menutup pintu perbatasan. Membiarkan para pengungsi bergelombang menyesaki pintu perbatasan tanpa tahu kapan kesengsaraan mereka akan berakhir.


Sungguh pemandangan yang memilukan. Bagi mereka yang merasa memiliki kecintaan kepada saudaranya sesama muslim, tentu tak akan bisa nyenyak tidur atau enak makan melihat pemandangan mengerikan menimpa saudaranya. Rasulullah saw. bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى


“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]


Bagi mereka yang hatinya masih bisa disentuh oleh rasa kemanusiaan, tentu ini sesuatu yang meresahkan idealisme dan rasa keberpihakan mereka. Hal paling ringan yang bisa dilakukan sebatas melakukan aksi demo menuntut Negri Beruang Merah itu untuk angkat kaki dari Suriah.


Namun bagi mereka yang hatinya membatu, tidak perduli apapun kondisi yang tengah menimpa rakyat Suriah, hal ini sesuatu yang mengganggu keasyikan mereka. Sibuk dengan jadwal pertandingan, sibuk merayakan kemenangan negara yang bahkan bukan negaranya. Atau bahkan menangisi kekalahan negara yang juga bukan negaranya. Terutama jika negaranya tak lolos piala dunia.


Sungguh konflik Suriah adalah konflik kepentingan. Kepentingan Assad yang menolak mundur dari jabatannya sebagai presiden, kepentingan Rusia yang menghendaki penjualan senjata terbarunya terdongkrak setelah memberikan 'iklan gratis' pertunjukan senjata-senjata tersebut dengan rakyat sipil Suriah sebagai model langsung korbannya. Sungguh buta mata dunia, sungguh telah mati rasa kemanusiaan, dan tergadai semua urat malu para penguasa negri-negri muslim yang mendiamkan hal itu terjadi didepan hidung mereka.

Sungguh konflik Suriah adalah konflik kepentingan. Kepentingan Assad yang menolak mundur dari jabatannya sebagai presiden, kepentingan Rusia yang menghendaki penjualan senjata terbarunya terdongkrak setelah memberikan 'iklan gratis' pertunjukan senjata-senjata tersebut dengan rakyat sipil Suriah sebagai model langsung korbannya. Sungguh buta mata dunia, sungguh telah mati rasa kemanusiaan, dan tergadai semua urat malu para penguasa negri-negri muslim yang mendiamkan hal itu terjadi didepan hidung mereka.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!