Wednesday, June 6, 2018

Zonasi Bikin Frustasi


Oleh: Dwi Listianingsih, S.Pd. (Tim Kontak Sekolah Muslimah Tidar Community)


Sejak tahun 2017, telah diberlakukan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Harapan dari dilaksanakannya program zonasi ini adalah, agar akses layanan dan kualitas pendidikan dapat merata. Selain itu, agar siswa dapat memperoleh sekolah yang dekat dengan rumah siswa. Seperti slogan yang berbunyi Sekolahku Dekat Rumah Pendidikan Merata dan Bermutu.. 


Namun, penerapan dari sistem zonasi ini menimbulkan beberapa kontroversi. Berdasarkan pengalaman PPDB pada tahun 2017, beberapa sekolah yang tergolong favorit tidak dapat memenuhi kuota yang ditargetkan. Hal ini terjadi karena pada masa-masa sebelumnya, sebagian besar siswa berprestasi di sekolah tersebut berasal dari luar daerah. Dengan adanya batasan zonasi, siswa dari luar daerah menjadi pesimis untuk mendaftar di sekolah dengan kualitas bagus, tetapi berbeda wilayah zonasi.


Kendala lain yang dihadapi siswa adalah di beberapa daerah terdapat sekolah-sekolah dengan akses tranportasi yang masih terbatas. Hanya ada beberapa angkutan yang beroperasi di daerah tersebut dan sampai pada jam tertentu saja. Hal ini menyebabkan kesulitan tersendiri bagi siswa yang tinggal jauh dari lokasi sekolah tersebut, meski masih dalam satu wilayah zonasi. Terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu dan tidak memiliki kendaraan pribadi. 


Untuk berangkat dan pulang sekolah, para siswa harus rela berangkat lebih pagi agar tidak tertinggal angkutan. Bahkan, jika angkutan sudah penuh penumpang, siswa rela naik ke atap angkutan karena takut terlambat sampai di sekolah. Bukankah hal ini berbahaya? Sedangkan sekolah yang lebih dekat dan memiliki kemudahan akses transportasi, ternyata sudah berbeda wilayah zonasi. Sehingga, kemungkinan untuk dapat diterima di sekolah tersebut semakin kecil. 


Buah Zonasi

Tahun ini, peristiwa tragis terjadi di Kabupaten Blitar. Karena tak mendapat informasi yang cukup mengenai sistem zonasi, seorang pelajar mengakhiri hidupnya lantaran takut tak bisa diterima di sekolah idamannya (https://tirto.id). Padahal siswa tersebut termasuk siswa yang berprestasi dan menjadi peserta olimpiade. Sungguh disayangkan, hanya karena terkendala dengan sistem zonasi, ia gagal mendapatkan pendidikan yang berkualitas. 

Kasus ini juga semakin menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang ada saat ini tidak mampu membentuk karakter siswa yang berkualitas. Siswa mungkin berprestasi di bidang akademik, akan tetapi pemahaman keagamaannya kurang. Karena pendidikan kita berkiblat pada Negara sekuler, yang memisahkan agama dari kehidupan. Maka bukan hal yang baru lagi jika kemudian muncul berbagai kasus bunuh diri di kalangan pelajar. 


Islam Menjamin Pendidikan Warga Negara

Pendidikan adalah kebutuhan dasar bagi setiap warga Negara. Maka, dalam Islam, pendidikan menjadi tanggung jawab Negara. Negara wajib menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat secara gratis, tanpa ada batasan zonasi. Mulai dari pendidikan tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Berbagai fasilitas untuk meningkatkan kualitas pendidikan juga harus disediakan oleh Negara. Seperti perpustakaan, laboratorium, asrama, dan sarana prasarana lainnya yang menunjang pendidikan siswa. 


Kurikulum yang diterapkan pun berlandaskan akidah Islam dengan tujuan pendidikan membentuk kepribadian Islam, berpola pikir dan pola jiwa Islam. Bukan hanya sekedar transfer ilmu atau informasi seperti sistem pendidikan yang diterapkan saat ini. Keberhasilan pendidikan hanya didasarkan semata-mata pada tingginya nilai yang diperoleh siswa. Dalam sistem pendidikan Islam, para pelajar dipersiapkan untuk menjadi ulama-ulama yang faqih fiddin dan menjadi penemu-penemu di tengah-tengah umat. 

Sehingga tak akan ada lagi pelajar yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya ketika menemui suatu masalah yang sebenarnya tak perlu dirisaukan. Segala sesuatunya akan dipikirkan terlebih dahulu dalam sudut pandang Islam.  Karena standar dalam beraktivitas bagi seorang muslim adalah syara’ dan ridha Allah SWT. 

Wallahu a’lam bishowab.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!