Thursday, June 7, 2018

Waspadai Pecah Belah Umat di Balik Program Deradikalisasi


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Selama tujuh hari berturut-turut, Indonesia telah diserbu teror di beberapa tempat. Dari kerusuhan di Rutan Mako Brimob yang menewaskan lima polisi, hingga bom bunuh diri tiga keluarga di Surabaya. Paska aksi teror tersebut, pemerintah seolah menemukan momentum untuk menghidupkan proyek deradikalisasi. 


Desakan pengesahan terhadap revisi UU Terorisme pun muncul secara besar-besaran sejak terjadinya serangan teror berantai. Bahkan, Presiden Joko Widodo mengatakan akan mengeluarkan Perppu jika hingga berakhirnya masa sidang bulan Juni 2018, DPR tak juga mengesahkan RUU yang diajukan pemerintah. 



Menelusuri Program Deradikalisasi di Indonesia


Deradikalisasi dalam beberapa tahun terakhir menjadi populer. Apa itu deradikalisasi? Secara bahasa “deradikalisasi” berasal dari kata “radikal” yang mendapat imbuhan de dan akhiran isasi. Radikal berasal dari bahasa Latin, radix artinya akar. Ketika ada ungkapan gerakan radikal berarti gerakan mengakar atau mendasar, bisa positif atau negatif.


Kata “radikal” memiliki arti; mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan, maju dalam berpikir dan bertindak. Dalam pengertian ini, sebuah sikap radikal bisa tumbuh dalam entitas apapun; tidak mengenal agama, batas teritorial negara, ras, suku dan sekat lainnya. Sehingga ketika ada kata Islam radikal harusnya yang dimaksud adalah Islam yang diemban, yang dipelajari, dikaji dan diamalkan atau diemban secara mengakar atau murni Islam, sesuai syariah, menyeluruh (kaffah) tidak diintepretasikan atau dikompromikan sesuai zaman apalagi kepentingan nafsu pribadi.


Namun, dalam konteks kekinian isu terorisme, pemaknaan “radikal” sangat stereotip, over simplikasi dan subyektif. Label radikal ini hanya dilekatkan kepada individu atau kelompok Muslim yang memiliki cara padang serta sikap keberagamaan dan politik yang kontradiksi dengan mainstream (arus utama). Dengan pengidentifikasian radikal adalah orang atau kelompok yang memiliki prinsip-prinsip seperti; menghakimi orang yang tidak sepaham dengan pemikirannya, ingin mengganti ideologi Pancasila, ingin mengganti NKRI dengan Khilafah, gerakan untuk mengubah negara bangsa menjadi negara agama, memperjuangkan formalisasi syariah dalam negara, hingga menganggap Amerika Serikat sebagai biang kezaliman yang menimpa dunia. 


Deradikalisasi dibangun atas asumsi, bahwa ada ideologi radikal yang mengeksploitasi faktor kompleks (kemiskinan, keterbelakangan, marginalisasi, pemerintahan otoriter, dominasi negara super power, globalisasi, dsb). Ideologi inilah dinilai melahirkan spirit perlawanan dan perubahan dengan tindakan-tindakan teror. Karena itu, ideologi radikal pun dianggap sebagai akar dari fenomena terorisme. 


Jadi, yang dimaksud deradikalisasi adalah upaya mengubah sikap dan cara pandang yang dianggap keras (dengan julukan lain; fundamentalis) menjadi lunak; toleran, pluralis, moderat dan liberal. Padahal, definisi radikal sangatlah bias, persis seperti dunia Barat menerangkan konsep radikal, bahwa radikalisme banyak diasosiasikan dengan mereka yang berbeda pandangan secara ekstrem dengan dunia Barat (Lihat laporan utama majalah Time ed. 13 September 2004). Sama biasnya ketika Barat mendefinisikan terorisme. Terorisme adalah labelisasi kepada kelompok atau individu Muslim yang secara fisik atau non fisik mengancam kepentingan global imperialisme Barat. 


Di Indonesia, dengan definisi terorisme no global concencus (tidak ada kesepakatan global), akhirnya pemaknaan dan implementasi kontraterorisme pun melahirkan banyak korban dan umat Islam menjadi obyek sasaran. Proyek deradikalisasi ini tidak lepas dari politik luar negeri Amerika yang gencar disuarakan sejak tragedi 11 September 2001. 


War on terrorism  merupakan bentuk dari kontra terorisme. Faktanya, terorisme justru diarahkan pada gerakan-gerakan Islam. Istilah ini dijadikan AS sebagai alat memberangus kelompok Islam, sementara tidak digunakan untuk kelompok separatis lainnya seperti di Timor Timur atau Papua. Kini berlanjut dengan program deradikalisasi dan War on radicalism pun sebenarnya tidak lain dibidikkan kepada Islam politik dan para pejuangnya yang dianggap mengancam hegemoni Barat.  



Bahaya di Balik Program Deradikalisasi


Deradikalisasi sangat berbahaya untuk umat Islam. Di antaranya berpotensi menyimpang, melahirkan tafsiran-tafsiran yang menyesatkan terhadap nash-nash syariah, membangun pemahaman yang konstruksi dalil dan argumentasinya lemah, menyelaraskan nash-nash syariah terhadap realitas sekular dan memaksakan dalil mengikuti konteks aktualnya. Contohnya adalah upaya tahrif (penyimpangan) pada makna jihad, tasamuh (toleransi), syura dan demokrasi, klaim kebenaran, serta kriminalisasi dan monsterilisasi terhadap terminologi Daulah Islam dan Khilafah.


Salah satunya, seperti yang baru terjadi di bulan Ramadhan ini. Kementerian Agama merilis 200 daftar nama muballigh dengan tiga kriteria, yaitu: mempunyai kompetensi keilmuan agama mumpuni, reputasi baik, dan berkomitmen kebangsaan tinggi (Pancasilais). Sebagian kalangan memahami keputusan tersebut dibuat karena kekhawatiran pemerintah terkait adanya isu ulama atau mubaligh yang dianggap kurang Pancasilais (https://kemenag.go.id/berita/read/507786/kemenag-rilis-daftar-200-nama-muballigh). 


Umat akan terpecah-belah dengan kategorisasi Pancasilais-tidak Pancasilais, radikal-moderat, fundamentalis-liberal, Islam ekstrem-Islam rahmatan, Islam garis keras-Islam toleran dan istilah lainnya yang sejatinya tidak ada dasar pijakannya dalam Islam. Hal ini mirip seperti langkah Orentalis dulu memecah-belah umat Islam dengan memunculkan istilah Islam putihan (berasal dari bahasa arab: muthian/taat) dan Islam abangan (abaan/pengikut/awam). Umat Islam yang taat ditempatkan sebagai musuh karena membahayakan bagi penjajah.


Upaya deradikalisasi tentunya warus diwaspadai, karena akan menjauhkan umat Islam dari Islam yang hakiki. Menghambat langkah kebangkitan Islam dan memalingkan dari pemahaman dan sikap berislam yang kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Menyebabkan umat Islam mengabaikan agamanya. Bahkan, cenderung menjadi alergi terhadap ajaran Islam sendiri. Pada akhirnya, umat tidak mampu menjadikan Islam sebagai akidah dan syariah secara utuh sebagai pedoman spiritual dan kehidupan politik untuk menyelesaikan problematika kehidupan. 


Deradikalisasi hanya akan melanggengkan penjajahan gaya baru (neo-imperealisme). Sejatinya demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis menjadikan sekularisme sebagai asasnya. Keduanya merupakan sebab kenapa penjajahan terus terjadi. Ekonomi Kaptalisme yang liberal (berusaha meminimalisir peran negara dalam sektor ekonomi) selalu disokong oleh demokrasi dengan kebijakan oleh rezim bisa dibeli dan diintervensi oleh Kapitalis penjajah yang mendzalimi dan menyengsarakan rakyat. 



Sikap Kita Yang Seharusnya


Terhadap deradikalisasi, maka sikap kita harus menangkalnya dengan perang pemikiran. Karena deradikaliasi itu bentuknya pemikiran, sehingga untuk melawannya diperlukan siraul fikr (pergolakan pemikiran) dan kifah as-siyasi (perjuangan politik). 


Sejatinya, yang sedang dibutuhkan umat sekarang adalah adanya yang menyampaikan pemahaman Islam secara kaffah. Yang mendorong umat untuk memandang setiap persoalan dari sudut pandang akidah dan syariah Islam. Bahwa setiap ajaran Islam harus diamalkan dan dijadikan solusi kehidupan. Sehingga mampu menyelamatkan negeri ini dari berbagai bentuk penjajahan. Inilah yang mampu membangkitkan pemikiran umat menuju peradaban mulia. 


Karenanya, perlu terus membangun sebuah kesadaran lewat interaksi-kontak pada umat dan pemilik simpul kekuasaan bahwa menerapkan syariah dan Khilafah adalah kewajiban agama. Selain itu, perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah justru ditujukan untuk mengentaskan manusia dari keterpurukan akibat penerapan sistem demokrasi-sekular saat ini. Sebab, sistem Islam hakikatnya hadir untuk menyejahterakan dan menyelamatkan negeri.[]



*) Pegiat di Komunitas Muslimah Banua Menulis


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!