Tuesday, June 5, 2018

Tumbal Kapitalisme, Siswa SD Hamili Siswi SMP


Oleh : Endah Husna

(Pemerhati Anak dan Ibu, Kota Blitar)


Kejadian miris hingga membuat para orang tua mengelus dada, sedang dialami dua bocah di Jawa Timur. Seorang siswi SMP  di Tulungagung hamil 6 bulan setelah melakukan hubungan intim dengan pacarnya, seorang siswa SD (surya.co.id, 22/05/2018).

          

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung dsn Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT PSAI) melakukan assesmen kepada Koko (13) dan Venus (13), keduanya nama samaran. Koko merupakan siswa kelas V SD, sedangkan Venus adalah siswi kelas VII SMP. Kedua bocah ini berpacaran hingga membuat Venus hamil.

          

Menurut Kepala UPPA Polres Tulungagung, Ipda Retno Pujiarsih, Koko dan Venus berkenalan pada Pebruari 2017 di Pantai Gemah Tulungagung. Dari saling tukar nomer telepon, keduanya menjalin hubungan asmara. Hubungan keduanya semakin kebablasan karena kurangnya pengawasan orangtua. Kedua nya sering memanfaatkan rumah orangtua Koko yang sering kosong. Persetubuhan  dilakukan saat siang hari sekitar pukul 13.00 WIB dan sudah sering dilakukan sejak November 2017 hingga Maret 2018.

          

Kejadian ini terbongkar saat diperiksakan ke Pusekesmas oleh pihak Sekolah yang curiga dengan fisik Venus (19/5/2018). Setelah Venus mengakui bahwa dia hamil karena hubungn terlarangnya dengan Koko, maka pihak keluarga Venus menuntut tanggungjawab pihak keluarga Koko. Yang akhirnya kedua pihak keluarga sepakat menikahkan mereka. Namun yang membuat mengelus dada dan sangat konyol adalah pernyataan ayah Koko yang dengan enteng mengatakan, ulah anaknya adalah bagian uji kejantanan Koko setelah di sunat.

         

 Ngeri, Miris dan semakin prihatin dengan kejadian ini. Bukan malah semakin menurun kasus nya tapi malah semakin banyak bak jamur di musim hujan. Sudah bisa dibayangkan bagaimana generasi muda ke depan jika hubungan – hubungan terlarang ini (pergaulan bebas, -pen) terus di biarkan. Mulai dimaklumi adanya  pengawasan orangtua yang kurang, hingga kondisi rumah yang membuka peluang  untuk menerima tamu seperti pada kasus Koko dan Venus ini.

         

 Kasus serupa masih bermunculan sebagai akibat dari pemahaman orangtua yang akan tanggung jawab  dunia akhirat atas amanah anak yang di titipkan Alloh kepadanya tampaknya masih kurang. Begitu juga kondisi lingkungan yang cenderung acuh. Semuanya kian diperparah dengan cenderung absennya peran negara sebagai benteng yang kokoh guna mencegah dan  membasmi  “kecelakaan” ini. Hal ini bukan sekedar perkara hamil lalu selesai dengan nikah, bukan segampang itu. Tapi kaitan nya dengan halal haramnya hubungan mereka, bagaimana nasab keyrurunan mereka, bagaimana hukum wali nya, bagaimana hal waris nya, dan seabrek lain nya terkait pernikahan. Pemahaman yang seharusnya dimiliki oleh tiap anggota keluarga yang akan diturunkan kepada anak keturunannya demi menjaga martabat kemanusiaannya.

          

Menikah pun bukan solusi baik bagi kasus “kecelakaan” yang sedang hamil 6 bulan ini. Karena semisal Koko ini, dia tidak akan bisa menjadi wali bagi anak nya, Koko hanya menjadi ayah biologisnya saja. Waris pun tak akan diperoleh oleh anak biologis Koko. Dan parahnya solusi menikah kan anak karena “kecelakaan”  disaat hamil, diaamiini oleh oknum kebanyakan orangtua kedua belah pihak, karena dituntut oleh rasa malu kepada manusia. Tidak lagi ada rasa malu kepada Alloh.

           

Inilah realita kelam hidup di jaman yang semakin edan dengan model aturan kaptalis, yang penting senang siapapun kutendang. Adalah kebebasan sebagai salah satu pilar dari kapitalis, yakni bebas melakukan apapun sesuka hatiku. Tidak peduli melanggar hak orang lain atau tidak, karena faktanya memang demikian. Demikian semakin amburadul seperti hidup di  hutan rimba dengan aturan siapa yang kuat dia yang dapat. Yah inilah negeriku.

          

Lalu apakah kita akan diam seribu bahasa dengan semua ini, jika kita mengaku sebagai hamba Allah yang peduli terhadap generasi. Alihkan pandangan, tengoklah dalam diri Islam. Islam sebagai agama sekaligus aturan yang sempurna yang datang dari Alloh SWT memiliki aturan lengkap untuk mengatur masalah keluarga, karena Islam menganggap penting hal ini. Mulai bagiamana mendidik anak mulai dari pra baligh, baligh hingga akan siap memasuki pernikahan. Bahkan sudah menikah pun, ilmu tentang bagaiman berumah tangga juga wajib untuk terus dipelajari. Semua kesadaran akan pentingngnya belajar, menuntut ilmu sudah ditanamkan Islam sejak dalam kandungan. Ketakwaan individu sudah dipupuk sejak dini, hingga mampu menularkan kepada ketakwaan masyarakat disekitar dia tinggal. Dan yang tak kalah penting adalah negara, negara yang bertakwa kepada Allah SWT.

          

Melalui penerapan aturan Islam yang teruntuk seluruh manusia, bukan untuk orang Islam saja, akan membawa kepada Ridho Allah SWT. Maka masihkah kita tetap berharap pada aturan manusia saat ini, jika aturan Allah yang pasti baik untuk manusia sebagi ciptaan-NYA sudah teruji selama 1300 abad lamanya.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!