Thursday, June 7, 2018

Tukar Uang Untuk THR, Riba?


Oleh: Deasy Rosnawati, S.T.


PERTANYAAN :


Menjelang Idul Fitri, banyak bermunculan jenis usaha jasa penukaran uang. Dimana orang-orang dapat menukar uangnya menjadi pecahan kecil dengan biaya tertentu. Biaya tersebut biasanya langsung dipotong saat penukaran. Misalnya uang Rp 100.000 ditukar pecahan sejumlah Rp. 95.000. Bolehkah hal ini dalam Islam?


JAWAB :


Mu’amalat tukar menukar mata uang dalam Islam disebut sharf. Baik pertukaran itu terjadi pada satu jenis mata uang seperti rupiah dengan rupiah, atau pertukaran tersebut terjadi pada dua jenis mata uang berbeda seperti antara rupiah dengan dolar.


Mu’amalat sharf memiliki ketentuan khusus yaitu bila mata uang yang dipertukarkan sejenis, maka pertukarannya harus tunai dan setara.  Akan tetapi bila mata uang yang dipertukarkan berbeda jenis, maka pertukarannya harus tunai dan boleh tidak setara.


Nabi SAW bersabda, “Emas (dapat ditukar) dengan emas, perak dengan perak, bur dengan bur, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, dengan ukuran yang sama dan secara tunai. Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian asal secara tunai. (HR Imam Muslim dari Ubadah bin Shamit).


Hadits ini menjelaskan enam jenis benda yang disebut sebagai ainur riba, yaitu barang-barang riba, yang apabila dipertukarkan sesama jenisnya, maka pertukarannya harus sama, tidak boleh ada kelebihan.


Pada enam jenis barang tersebut, dua diantaranya adalah emas dan perak. Dalam Islam, emas dan perak selain sebagai perhiasan, juga digunakan sebagai mata uang yaitu dinar untuk mata uang emas dan dirham untuk mata uang perak. Maka, khusus untuk pembahasan emas dan perak, larangan mempertukarkan dengan kelebihan, selain diterapkan pada perhiasan emas dan perak, juga bisa diterapkan pada mata uang.


Rupiah adalah mata uang, dolar adalah mata uang, sebagaimana dinar dan dirham. Maka, hukum yang berlaku pada dinar dan dirham juga berlaku pada mata uang rupiah dan dolar dan berlaku pada mata uang apa pun di dunia. Bahwa, pertukaran mata uang apa pun yang sejenis, wajib dengan ukuran yang sama. Tidak boleh ada penambahan atau pengurangan. Penambahan dan pengurangan pada pertukaran semacam ini disebut riba. Selain harus setara, dalam hadits tersebut juga dijelaskan bahwa pertukaran tersebut harus tunai. 


Seseorang menukar Rp 100.000 dengan orang ia kenal misalnya, karena uang penukarnya hanya ada Rp 99.000, maka ia menyerahkan Rp 99.000 tersebut seraya berkata bahwa yang seribu akan diberikan nanti. Transaksi semacam ini batil. Karena tidak tunai.


Begitupun, bila ia menyerahkan Rp 99.000 tersebut, lalu si penukar mengatakan bahwa tidak mengapa kurang seribu. Dan ia rela menerima tukaran uang Rp 100.000-nya dengan Rp 99.000 saja. Transaksi demikian pun batil. Karena tidak setara.


Tidak tunai dan tidak setara apabila keduaanya terjadi, atau salah satu dari keduanya terjadi dalam petukaran mata uang sejenis, maka pertukaran semacam ini terkatagori riba. Dan Islam mengharamkannya. Firman Allah dalam surat al-Baqarah (2) ayat 275, “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” 


Adapun pertukaran mata uang dengan jenis berbeda, hanya disyaratkan tunai. Rupiah dan dolar misalnya, boleh dipertukarkan dengan ukuran yang berbeda. Berapa pun kesepakatan pertukarannya boleh, yang penting tunai.  Nabi SAW bersabda, “Emas dengan uang bisa riba, kecuali terjadi serah terima.” HR. al-Bukhari.


Uang yang dimaksud dalam hadits ini, adalah uang kertas apa pun, dan emas yang dimaksud di sini, bisa emas dalam bentuk batangan, biji, perhiasan atau emas dalam bentuk mata uang dinar. Dan serah terima yang dimaksudkan disini adalah tunai.


Dari pemaparan ini, maka terjawablah pertanyaan yang diajukan mengenai hukum menukar uang ke dalam bentuk pecahan yang lebih kecil, akan tetapi dengan jumlah yang dikurangi; hukumnya adalah haram dan termasuk dalam mu’amalat riba. 


Dan riba adalah dosa besar yang pelakunya diancam oleh Allah untuk diperangi. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah(2) ayat 279, “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”


Selain itu, dosa para pelaku riba setara dengan dosa berzina dengan ibu kandungnya. Nabi SAW bersabda, “Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan seperti seorang lelaki menikahi ibunya sendiri.” HR. Ibnu Majah dan al Hakim.


Semoga Allah memberi taufiq kepada kita untuk menjauhinya sejauh-jauhnya.


Wallahua’lam




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!