Tuesday, June 5, 2018

THR (Tanpa Hari Raya)


Oleh : Anairasyifa (anggota Writing Class With Hasni)


Marah. Menangis. Berdoa. Kita tersandera batas-batas negara. Geram, itulah yang kita rasakan. Tontonan kebengisan tanpa kedamaian. Dentuman senjata menjadi irama. Jalanan lengang tanpa manusia, sementara anyir darah beradu dengan kepulan debu.


Hari raya di sini istimewa. Hari raya di sana adalah biasa. Ya,mereka terbiasa melewati hari-hari raya sebelumnya dengan biasa. Bahkan anak-anak mati tanpa sempat bertanya, "Bu, adakah baju baru untukku di hari raya?" 


Bagi mereka, hari raya adalah hari tiada lagi penjajahan atas negeri. Hari kemenangan adalah hari dimana anak-anak memakan makanan yang sama enaknya denganmu. Dimana hari yang mereka lewati tak ditakuti dengan moncong senjata dan rudal yang tak tahu akan menghujam siapa. 


Tahukah saudaraku, kita di sini meriah menyambut hari raya, berharap amplop penuh kejutan, bertoples-toples kue disiapkan. Tapi saudara kita di  Gaza, Suriah, Rohingya, dan lain-lain mereka tak mampu berharap sepertimu. Mereka tak berharap saat Idul Fitri mendapat Tunjangan Hari Raya atau THR sepertimu. Mereka hanya berharap kepedulianmu dan kedamaian. Karena bagi mereka THR adalah Tanpa Hari Raya jika tiada kedamaian. Maka bangunlah wahai kaum muslimin.


Wahai saudaraku,  adakah mereka dalam doa dan pikiranmu? 


“Setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya” 

(HR. Bukhari no: 2262 dan Muslim no: 4650).


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!