Tuesday, June 26, 2018

Sudahkah Kita Kembali Fitrah?


Oleh: Ana Nazahah


Kita masih di bulan Syawal, bulan kemenangan. Idulfitri yang dinanti itu baru beberapa hari saja berlalu. Hari dimana kita berkumpul dengan sanak famili. Hari berbuka, setelah sebulan lamanya kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. 

.

Idul fitri artinya kembali kepada fitrah yang bermakna kesucian. Seperti pribadi yang baru  terlahir kembali. Siap mengarungi samudra kehidupan, dengan penuh ketakwaan. Itulah makna dari hakikat tertinggi dari bulan suci Ramadan sehingga layak merayakan hari kemenangan.


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." [TQS. Al Baqarah : 183)


Ketakwaan adalah modal yang harus kita miliki untuk kembali fitrah. Ia lahir dari keimanan yang telah kita tempa saat bulan Ramadan. Yang artinya, keberhasilan seseorang di bulan Ramadan bukan dilihat saat ia menjalani ibadah di bulan Ramadan. Namun justru setelah Ramadan itu berakhir hingga 11 bulan mendatang.


Namun sepertinya kita harus segera introspeksi diri. Jika iman dan ketakwaan justru kita tinggalkan saat berakhirnya Ramadan. Di luarnya malah kita seperti semula lagi. Aurat yang ditutup rapat saat Ramadan kita diumbar, budaya bebas 'hang-out' bareng pacar yang ditunda saat Ramadan aktif kembali. Mesjid-mesjid yang ramai saat Ramadan setelah Lebaran menjadi sepi lagi. Jika begini, Pastaskah kita menyandang predikat takwa? Pastaskankah diri disebut kembali fitri?.


"Katakanlah, 'Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?' Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya."

(TQS Al Kahfi : 103-104)


Sangat disayangkan jika kita menganggap Ramadan adalah satu-satunya bulan untuk ibadah mendekat kepada-Nya, sementara di bulan lainnya kita bebas melakukan kemaksiatan. Berharap Ramadan mendatang akan datang mensucikan kita kembali. Lalu bagaimana jika Ramadan ini justru Ramadan terakhir bagi kita?


Sepertinya pemahaman pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) telah sedemikian mengakarnya. Sehingga kita begitu percaya diri, bahwa ibadah dan amalan kita pasti akan diterima. Padahal Rasulullah Saw selalu menyampaikan kepada para sahabat, agar bersikap was was akan amalan yang dilakukan, diterimakah atau tidak? 


Karena itulah Rasulullah Saw mengajak para sahabat untuk berdoa sepanjang tahunnya jika Ramadan tiba, dan saat Ramadan berlalu. Agar ibadah Ramadhan yang dilakukan diterima oleh Allah Swt. Dan semoga Ramadan ke depan bisa berjumpa.

Jika Rasulullah Saw dan para sahabat begitu khawatirnya akan amalannya, dan senantiasa berbuat yang terbaik hingga Ramadan berikutnya tiba, Lalu bagaimana dengan kita? Tidakkah kita berpikir bahwa amalan yang kita lalukan bisa saja berakhir sia-sia? 


Ayo kita intropeksi diri segera. Renungi lagi. Sebanyak apa ibadah yang sudah kita lakukan jika dibandingkan dengan melalaikan ibadah kepada-Nya. Jangan-jangan dosa yang telah kita lakukan lebih banyak dari amalan terbaik yang telah kita kumpulkan. Lalu bagaimana mungkin kita berharap bisa meraih ampunan dan Surga-Nya?.

.

Karena itu, jangan lengah. Meski Ramadan telah pergi ibadah harus tetap jalan. Jangan tertipu rayuan maut godaan Setan yang menghanyutkan. Mereka memang bertugas merayu selepas Ramadan. Agar kita menjadi teman-teman mereka kelak di Neraka, dalam panas api yang menyala-nyala. Allah persiapkan bagi manusia yang menyalahi fitrahnya sebagai hamba, yang seharusnya tunduk dan patuh pada perintah Allah dan menjauhi Larangan-Nya.


Wallahu'alam bishshawab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!