Wednesday, June 6, 2018

Solusi Praktis Ekonomis Beras Sachet


Oleh : Rut Sri Wahyuningsih

Anggota Komunitas Menulis Revowriter Sidoarjo


 Sepertinya Pemerintahan melalui BULOG, tak mau ketinggalan viral di dunia periklanan.  Dengan mengeluarkan beras sachet seharga Rp 2.500 untuk makan sekeluarga. Maka jargon bahwa produk sachetan itu lebih praktis, murah dan mudah menjadi cara teruptodate pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya.

Sebagaimana dilansir oleh Tribunjakarta.com tanggal 24 Mei 2018, bahwa Badan Urusan Logistik (Bulog) sedang mempersiapkan produk baru dari merek dagang KITA milik mereka. Produk baru yang sedang dipersiapkan tersebut adalah beras sachet atau beras dalam kemasan 200 gram. Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Karyawan Gunarso menjelaskan, beras kemasan 200 gram tersebut sedang dipersiapkan demi mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan beras secara murah dan praktis.

Beras kemasan 200 gram akan dibuat dengan beras premium lokal. Bulog juga akan memerhatikan preferensi konsumen perihal beras yang mereka sukai, apakah beras pulen atau beras pera. Karyawan Gunarso menambahkan, berat kemasan 200 gram ini nantinya akan sangat ekonomis kegunaannya bagi masyarakat. Isinya cukup untuk empat sampai lima piring. Sehingga di asumsikan jika jika seorang kepala keluarga hanya punya uang Rp 10 ribu, sisanya bisa buat beli komoditi lainnya. Dan nantinya, beras kemasan 200 gram akan didistribusikan ke warung-warung dan toko-toko kecil.

Sekilas terlihat bahwa kebijakan ini amat baik. Menguntungkan kedua belah pihak seperti penjual ( BULOG) dan pembeli ( rakyat). Rakyatpun digiring kepada opini  bahwa  pemerintah telah berupaya mensejahterahkan rakyatnya  dengan menyediakan sesuatu yang mudah, murah dan praktis yang sanggup di jangkau masyarakat. Namun jika kita mau melihat lebih jernih, mengapa rakyat harus beli beras jika negri kita ini terkenal dengan sebutan gemah ripah loh jinawi? Bahkan lebih buruknya lagi, beras, salah satu bentuk makanan pokok masyarakat Indonesia di jual dalam bentuk sachet. Apakah negara akan rugi jika pemenuhan kebutuhan pokok tersebut di gratiskan? Karena dari harga Rp 2.500 per sachet justru harga beras tersebut lebih mahal dari harga beras di pasaran. Bahkan bagaimana jika satu keluarga terdiri dari lebih dari lima keluarga? Merekapun harus beli beras lebih dari satu sachet. Padahal penghasilan rakyat, lebih banyak yang tidak layak, jangankan  untuk beras seharga Rp  2.500, untuk menyambung hidupnya saja hari ini banyak yang kesulitan. Tidakkah negara dalam hal ini pemimpin negri ini menyadari, bahwa tugas mereka mensejahterahkan rakyat belum terlaksana dengan sempurna?

Karena abainya penguasa hari ini afalah ciri khas sistem ekonomi rezim neolib. Di mana peran negara hanya sebagai pedagang terhadap rakyatnya. Negara malah main hitung untung rugi. Sehingga hal ini berpengaruh kepada kebijakan-kebijakan yang di putuskan  terkait dengan perkara perekonomian. Salah satunya adalah kebijakan tentang beras sachet yang praktis , mudah dan murah ini. Namun jelas itu bukan solusi karena samasekali belum menyentuh akar persoalannya.

Dan dalam Islam, pemimpin adalah sosok penguasa yang dibai’at kaum muslimin di mana tugas dan perannya untuk menegakkan hukum-hukum Allah, melindungi harta, kehormatan dan darah kaum muslimin, dialah yang di sebut dengan imam atau kholifah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah dari Abu Hurairah radiyahullah anhu  dari Nabi Muhammad shallaLlâhu ’alayhi wa sallam bersabda:

”Sesungguhnya al-Imâm (khalifah) itu adalah perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dll)

Dalam kitab Ajhizat Dawlat al-Khilâfah disebutkan bahwa di antara kandungan hadits ini, di dalamnya terdapat penyifatan terhadap khalifah , pemimpin sebuah negara berdasarkan syariat Islam, bahwa ia adalah junnah (perisai) yakni wiqâyah (pelindung). Dan Rasulullah SAW menyifati bahwa seorang al-Imâm (Khalifah) adalah junnah (perisai), yang artinya mengandung pujian atas keberadaan al-Imâm (Khalifah). Sehingga negara atau kholifah  wajib menjamin kebutuhan rakyat person to person.

 “Aku sejelek-jelek kepala negara bila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan” demikianlah perkataan  Amîrul Mukminîn Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, yang semestinya menjadi teladan bagi semua pemimpin hari ini.

Masalah ketahanan pangan sangatlah krusial, karena ia menyangkut ketahanan dan kekuatan sebuah bangsa. Maka Islam mengatur dengan syariatnya yang mulia, bagaimana sistem penjaminan kesejahteraan rakyat bisa berfungsi sempurna. Karena hanya dalam Islam ketersediaan pangan terjamin dan rakyat mampu mengaksesnya dengan mudah bahkan gratis . Semua ini adalah sebuah keniscayaan. Di karenakan sistem perekonomian dan APBNnya kuat, karena mendapatkan sumber pemasukan dana yang tetap. Bukan dari hutang dan pajak, namun dari pengelolaan kepemilikan umum( barang tambang dan lain-lain) dan kepemilikan negara sehingga mampu mengoptimalkan peran Sumber Daya Manusia ( SDM) dan Sumber Daya Alam ( SDA) nya untuk kesejahteraan rakyat.

Maka sebagai muslim yang baik dan taat, sudah saatnya kita mencoba sistem yang mulia ini, yang berasal dari Allah yang maha mengetahui dan adil. Agar kita beroleh berkah dan ampunan dunia dan akhirat. Wallahu a' lam bi ashowab.






SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!