Friday, June 1, 2018

///Siapkan Diri Sambutlah yang Sudah Pasti///


Oleh: Masniati


Saat ku kuliti ayam yang sudah disembelih, hati ini selalu merenung, membayang suatu masa terputusnya semua kenikmatan yang ada, masa yang akan menjadikan rumah-rumah menjadi sunyi senyap menyisakan buliran air yang membasahi pipi orang-orang yang ditinggalkan. 


Kematian😭


Teringat pula dengan kisah kekasih Allah Nabiyullah Idris Alaihisalam didatangi oleh malaikat Izroil. Kedatangannya bukan untuk mencabut nyawa, melainkan sekedar berkunjung. Nabi Idris meminta tolong kepada Izroil.


“Cabutlah nyawaku, kemudian Allah menghidupkan aku kembali, sehingga aku dapat beribadah lebih giat lagi kepada Allah setelah merasakan betapa perihnya sakaratul maut itu!”


Lalu atas izin Allah, Izroil mencabut nyawa Nabi Idris Alaihisallam. Melihatnya, Izroil menangis seraya memohon kepada Allah untuk menghidupkannya kembali. Atas kuasa-Nya, Nabi Idris pun hidup. Setelahnya, Izroil bertanya kepada Nabi Idris perihkah sakaratul maut itu ?


Nabi Idris Alaihisallam menjawab, “Sesungguhnya, rasa sakaratul maut itu ku umpamakan seperti binatang hidup yang dikelupas kulitnya (dikuliti hidup-hidup) dan rasanya bahkan seribu kali lebih sakit!”


Izroil membalasnya, “Sesungguhnya, aku mencabut nyawamu secara halus dan hati-hati dan sungguh, hal itu tak pernah kulakukan sebelumnya.”


Lantas bagaimana nanti nasib kita menyambut syakaratul maut?


Bahkan baginda Rasulullah SAW  meminta agar cukup Beliau yang merasakan sakitnya Syakaratul maut dan tidak ditimpakan atas umatnya. Padahal begitu halusnya malaikat maut mencabut nyawa Beliau Saw. Hingga Malaikat Jibrilpun sampai menangis tak sanggup melihat kekasih Allah itu mengahadapi dahsyatnya syakaratul maut.


Nah, bagaimana dengan kita? Kena sayatan pisau sedikit saja kita sudah kesakitan luar biasa. Apatah lagi jika mengahdapi syakaratul maut diumpakan seperti disayat hidup-hidup dengan 300 pedang. Sanggupkah kita membayangkannya, sedangkan tak ada satupun manusia yang terbebas dari dahsyatnya syakaratul maut.


Persoalannya di sini adalah kita berharap meninggal dalam keadaan husnul khatimah sedangkan amalan  yang akan mengantarkan pada akhir kehidupan yang baik itu justru kita lalaikan atau bahkan diabaikan.


Saat menulis inipun tiba-tiba ada pengumuman di Masjid,  atas meninggalnya seorang hamba dipanggil kembali oleh Allah untuk pulang.

 كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْت


Ingatlah selalu kampung halaman kita, kampung nan kekal abadi.


Allahu a'lam




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!