Monday, June 18, 2018

Sebandingkah Alquran Dan Dokumen Sejarah?


Oleh : Arin RM, S.Si


Salah satu anggota Wantimpres berinisial YCS, hadir dalam forum global yang diselenggarakan oleh Komite Yahudi Amerika di Israel. Ia hadir di Yerusalem sebagai pembicara dalam AJC Global Forum 2018 pada Ahad (10/06/2018), dengan tema “Dialog antaragama dan hubungan Muslim-Yahudi.” Dalam forum YSC berargumen bahwa setiap ayat dari Alquran diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. “Sehingga Alquran dan hadis adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula,” ungkapnya (kaffah.net, 15/6/18).

Apa yang disampaikan oleh yang bersangkutan di forum tersebut tentu sangat berbeda jauh dengan realita. Sebab antara dokumen sejarah dan Alquran maupun hadits terpaut derajat perbandingan yang sangat jauh. Pertama, ditilik dari sisi sumber asalnya. Sejarah yang dituliskan dan dicetak sebagai doukementasi atas sebuah peristiwa adalah murni hasil pikir manusia. Sedangkan Alquran dan hadits jelas berasal dari Allah, sang Mahapencipta manusia. Otomatis lebih mumpuni dibandingkan kapasitas kehebatan pikir manusia terhebat sekalipun.

Kedua, dari sisi kebenaran. Alquran mutlak kebenarannya, karena ia adalah wahyu. Dan keyakinan akan kebenaran wahyu inilah yang membedakan antara yang beriman dan tidak. Begitu pula dengan hadits, kendati redaksionalnya berbeda dengan ayat Alquran, tetaplah proses keluarnya atas bimbingan wahyu, bukan semata hawa nafsu Nabi kala itu. Sedangkan dokumen sejarah, kevalidan data dan arah opininya tergantung di pihak mana penulisnya berpijak. Jika ia pro kebenaran, maka sejarah masih ada nilai kejujurannya. Sebaliknya, bila ia pro pada kepentingan, sejarah   bisa dituliskan sesuai keinginan pihak yang dominan. Artinya kebenaran sejarah masih bisa dibantah oleh yang lain.

Ketiga, dari sisi peranan dalam kehidupan. Alquran adalah huda, petunjuk (“Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” TQS AlBaqarah ayat 2). Alquran adalah penjelas antara yang bathil dan yang haq. Keberadaannya berperan besar sebagai blue map, rujukan utama dan sumber hukum manusia agar tak salah jalan ketika menjadi musafir di dunia. Sebaliknya, dokumen sejarah tidak demikian.

Keempat, dari sisi kompatibilitas. Alquran senantiasa cocok dengan zaman apapun dan dimanapun. Kompatibel bagi siapapun yang mau mengimaninya. Tak lekang zaman. Bisa dipakai sejak generasi A, generasi milenial, generasi zaman now, hingga generasi Z nanti kendati mereka berbeda negara. Sebaliknya, sejarah suatu bangsa di suatu negara tak akan cocok digunakan dengan manusia dari negara lain. Berbeda wilayah, berbeda kisah, berbeda pula pengaruhnya.

Kelima, dari sisi keutamaan. Alquran adalah mukjizat baik bagi penyampainya, Nabi Muhammad SAW maupun bagi yang mengimaninya. Disamping itu Alquran juga berperan sebagai penyembuh/obat bagi fisik dan psikis, penentram jiwa mereka yang mengamalkannya. Alquran juga memiliki keutamaan dapat dihafalkan secara presisi oleh manusia, bahkan membacanya saja sudah bernilai ibadah. Apakah dokumen sejarah demikian?

Dengan perbandingan di atas, maka bisa dinilai sebanding tidaknya Alquran dengan dokumen sejarah. Terlebih apa yang terkandung di dalam Alquran sesuai dengan sains saat ini, sekaligus menerangkan sesuatu yang futuristik. Dan isi Alquran pun dijamin otentifikasinya oleh Allah secara langsung. Jadi amat sangat disayangkan jika ada yang menurunkan level Alquran sebatas dokumen sejarah. [Arin RM]




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!