Friday, June 8, 2018

Rezeki dan THR


Oleh : Sunarti PrixtiRhq


Masih di mushala Pak To dalam rangka ngabuburit bersama dilanjut bukber. Pak Min masih melanjutkan tauziyahnya. Namun sejenak terhenti oleh suara umyes ibu-ibu di belakang.


"Ibu-ibu yang di belakang, kayaknya kurang konsentrasi. Ada apa nggih?" Tanya Pak Min lagi.


"Mboteeenn. Mboten nopo-nopo", sebagian menjawab. Sebagian umyes lagi.


"Apa yang dibicarakan ya? Kalau boleh saya tahu", kata Pak Min. Memang tidak biasanya, majelis ramai. Ibu-ibu saat mendengarkan tauziyah pasti adem ayem, tidak ada cuitan sama sekali. 


"THR,  Pak", jawab Mak Warni.


"Iya, THR. Ini para ibu-ibu yang pegawai negeri sama ibu-ibu yang suaminya pegawai negeri, THRnya belum keluar. Ini semua umeg, Pak. Padahal sudah 'maleman'. Harusnya kita-kita sudah belanja", kata Mbok Sih, yang sedari tadi umyes. Suaminya pegawai negeri di kecamatan. Orang penting di sana.


Kalau orang kampung Sidorame, sudah tradisi munjung. Munjung itu memberi tetangga makanan atau bahan mentah. Yang diberi terutama yang usianya lebih tua. Yang pertama dipunjung adalah orang tuanya, baru menyusul yang lain. Waktunya ditentukan. Tanggal 20 Ramadan, 22, 24 dan tanggal 26. Maksudnya, bersedekah diambilnya malam puasa ganjil. Jadi ketika malem rongpuluh (malam 20/tgl 19 sore), Emak-emak sudah belanja. Belanjaan dimasak dan diantar tanggal 20 sore (malem selikur-21). Ini namanya "maleman" atau Bodo (berlebaran).


"Oh, pantesan. Kali ini kajiannya ramai, tidak seperti biasanya.

THR itu rezeki, Ibu-ibu. Kalau nanti keluar berarti rezeki kita. Misalkan tidak keluar, berarti belum rezeki.

THR yang keluar sebelum hari raya namanya THR. Nah, kalau keluarnya setelah hari raya kan juga THR.

Disyukuri apa yang kita dapat hari ini, Ibu-ibu. Beruntung kita bisa berkumpul di sini, bisa berbuka bersama. Ada saudara kita yang hari ini tidak bisa berbuka", kata Pak Min sambil senyum-senyum.


"THR itu, Tunjangan Hari Raya. Keluarnya harusnya sebelum hari raya. Nah kalau keluarnya setelah hari raya, ya, bukan THR, Pak" Mbok Sih masih agak sewot.


"Rezeki itu dari Allah. THR itu perantara saja. Ya, memang benar kalau kita mengambil kesempatan untuk bersedekah di akhir bulan Ramadhan dengan mengandalkan THR.

Tapi kalau memang keuangan belum mampu, ya, lebih baik tidak memaksakan diri. Munjung sesuai kemampuan. Dan lagi, kalau benar-benar THRnya tidak keluar buat para pegawai negeri, berarti belum rezeki, Bapak lan Ibu.

Wonten firman Allah SWT :

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir:3).


Ada lagi firman Allah SWT :

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’:24)" tauziyah Pak Min menyejukkan.


Ibu-ibu yang umyes akhirnya terdiam. Terlintas ada yang mereka simpan. Terutama ibu-ibu yang pegawai negeri maupun ibu-ibu yang suaminya pegawai negeri. Bapak-bapak yang di dalam mushala, senyum-senyum sambil manggut-manggut.


Di penghujung tauziyahnya, Pak Min berkata, "Ya, kalau keluarnya setelah hari raya berarti namanya 'Turahan' Hari Raya'. Itu kita semua punya. Yang punya biskuit kalengan, yang dimakan wafernya sama yang tengahnya ada krimnya saja. Akhirnya yang tersisa biskuit yang bulat besar yang rasanya seperti biskuit bayi. Masih ada sisa, namanya juga THR. Ada lagi THR karak apem, karak nasi bahkan karak mi dan juga blendrang jangan lombok", Pak Min kali ino bercanda. Tapi jamaah terbengong dengan apa yang didengarnya.


"Atau yang lain, kaleng biskuit yang isinya rempeyek dan ampyang(rengginang), itu anak-anak tidak tertarik. Biasanya juga masih sisa, dimakan pas lebaran ketupat. Namanya juga THR, alias Turahan Hari Raya".

Pak Min masih dengan senyum manisnya. Jamaah kontan tertawa "geeeerrrr".

Oh, THR itu Turahan (sisa)  Hari Raya. 


#RamadanPenuhBerkah

#RamadanBersamaRevowriter

#GerakanMedsosUntukDakawah


Ngawi, 8 Juni 2018


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!