Wednesday, June 6, 2018

Remaja dan Peradaban


Oleh : Sunarti PrixtiRhq


Labil, begitu mungkin kata yang pantas disematkan pada kaum remaja. Banyak hal yang ingin dilakukan. Mulai hal yang baik hingga hal yang merugikan dirinya dan orang lain. Mencari jati diri, katanya.


Dalam pelampiasan nalurinya lebih condong kepada kebebasan. Merasa pelampiasan ini mutlak harus tersalurkan. Naluri tersebut diantaranya adalah pelampiasan naluri seksual (nggharizah nau'), nggarizah tadayun (naluri brrketuhanan)  dan nggarizah baqa' (naluri mempertahankan diri). Pada masa ini semua menuntut untuk dipenuhi. Namun mirisnya semua sesuai dengan pemahaman dan pola pikirnya. 


Karena peradaban yang diterapkan sekarang adalah turunan dari sistem sekukerisme (pemisahan agama dari kehidupan), maka pelampiasan ini tak berbatas tegas. Sistem yang mengagungkan kebebasan individu, membuat remaja leluasa melampiaskan nalurinya. Prinsip kebebsan ini bagaikan angin segar untuk mengekspresikan segala keinginan. Tak heran apabila banyak kasus remaja bermunculan. Seperti sek bebas, kasus aborsi pada remaja, terjerat narkoba, kriminalitas remaja dan lain sebagainya.


Di satu sisi, lingkungan sudah terbiasa dengan adanya berbagai macam persoalan remaja. Terlebih,  permasalahan yang kompleks, membuat umat apatis dengan kondisi sekelilingnya. Kalaupun ada kontrol dari lingkungan, itu hanya segelintir orang saja. Dan bahkan saran/peringatan/teguran bisa dianggap negatif.


Inilah gambaran remaja yang hidup di sistem sekulerisme. Lingkungan yang sudah kondusif mencetak generasi remaja yang labil. Di mana perilaku tidak dikontrol oleh aturan yang mendidik dan tegas. Aturan buatan manusia yang bisa distandartkan sesuai dengan keinginan dan kepentingan.


Beda Peradaban, Berbeda Pula Kwalitas Remaja


Pada masa Rosulullah dan para Shahabat Rosulullah, banyak sekali remaja yang terdidik dengan ajaran Islam. Yang mana sedari kecil dalam asuhan peradaban Islam. Secara otomatis pada masa remajanya sudahlah menjadi remaja tangguh. Yang siap dengan segala kondisi yang menimpanya. Standart adalah hukum syara' bukan kebebasan. Peradaban Islam yang diterapkan secara totalitas, menjadikan suasana kondusif dalam mecetak remaja yang taat pada Sang Pencipta. 


Remaja dalam Islam disesuaikan dengan aqil baliqnya. Sehingga ketika dia sudah baliq, sudah dikatakan sebagai mukalaf. Yaitu orang yang sudah mendapat pahala dan sudah menanggung dosa.


Dalam pelampiasan semua naluri sudah terikat dengan hukum syara'. Sehingga tidak lagi terjadi perilaku yang menyimpang. Keteraturan pelampiasan naluri juga akan terwujud. Bertindak "semau gue", tidak akan terjadi. Karena sudah tahu konsekwensi terhadap satu perbuatan. Berdosa ataukah berpahala. Kwalitas remaja terjaga dengan ajaran Islam. Baik secara pola pikir maupun tingkah laku. 


Umat yang sudah memiliki persepsi sama akan hukum syara', juga akan secara masif memberikan kontrol terhadap lingkungan. Saling mengingatkan terhadap ketaatan kepada Allah akan benar-benar terwujud. Tidak ada yang merasa tersinggung ataupun tersakiti dengan terguran. Semua merasa mengemban hukum Allah. Memiliki perasaan,pemikiran dan peraturan yang sama.


Di ranahnya sistem, negara memiliki peranan penting. Mulai dari ekonomi, pendidikan, pergaulan dan sanksi. Tidak bisa dipungkiri, kesemuanya saling berkaitan. Pendidikan yang bagus ditopang dengan sistem ekonomi yang bagus. Secara kebutuhan, ekonomi menjadi kebutuhan dasar umat. Pendidikan memiliki peranan yang penting dalam menerapkan pola pikir dan pola sikap remaja. Sistem pergaulan yang diajarkan sejak dini berpengaruh terhadap masa remajanya. Sanksi yang sesuai hukum syara' menumbuhkan efek jera dan sebagai penebus dosa.


Perasaan, pemikiran dan peraturan yang berkwalitas hanya dalam peradaban Islam. Mencetak generasi berkwalitas dalam sistem sekukerisme "Bagaikan Pungguk merindukan Bulan". Karena itu sudah saatnya umat belajar Islam. Belajar Islam secara keseluruhan. Sistem peraturan, sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem sanksi dan masih banyak lagi ajaran Islam yang lain. Tak perlu lagi menerapkan peradaban buatan manusia. Saatnya menerapkan peradaban dari sistem buatan Sang Pencipta, aturan Allah SWT.


Waallahu alam bisawab. 


Sunarti PrixtiRhq

Ngawi, 3 Juni 2018


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!