Monday, June 18, 2018

Ramadhan Tidak Pernah Mati


Oleh : Minah, S.Pd.I


Menjelang Idul Fitri kemaren, pengeras suara yang nangkring di atap masjid dan mushala tanpa lelah mengumandangkan takbir. Beberapa kendaraan  terbuka berpenumpangkan bedug, kentongan, dan beberapa personil takbiran menghiasi jalan raya. Sayup-sayup terdengar suara petasan. Dari pasar hingga pusat perbelanjaan di mal-mal dipadati konsumen yang berburu baju, sepatu, sendal, atau tas yang serba baru dengan harga menggiurkan. 


Padahal Imam Syafi'i pernah berpesan, “Idul Fitri bukanlah diperuntukkan bagi orang yang mengenakan sesuatu yang serba baru, tetapi dipersembahkan bagi orang yang ketaatannya bertambah”. 


Para pemudik rela bersabar dalam bis yang padat penumpang. Semangat berlebaran di kampung bersama orang tua dan keluarga. Bisa berkumpul dengan keluarga saat lebaran, merupakan kebahagiaan yang tiada tara. Walaupun tak semua yang bisa mudik karena biaya travel atau tiket pesawat yang naik drastis hingga jutaan. Sehingga hanya bisa sms, wa maupun video call. Namun, sangat bahagia karena menyambut hari raya idul fitri.


Semoga kita tidak  kebablasan merayakan  lebaran. Apalagi lebaran selalu identik dengan liburan dari kerja, sekolah, bahkan aktivitas dakwah. Lebaran tak sekadar berkumpul dengan keluarga besar, jalin silaturahmi, asyik merayakan lebaran, namun aktifitas dakwah jangan sampai libur. 


Karena itu, ramadhan itu tidak pernah mati, karena dimanapun kita, ibadah dan amal sholeh ditingkatkan, dan semakin gencar untuk berdakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Kita pasti sangat bergembira karena hari raya idul fitri, namun, semangat ibadahpun harus semakin ditingkatkan.


“Bagi orang yang berpuasa mendapat dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya.” (HR Bukhari dan Muslim) 


Kita sepakat jika kegembiraan bertemu Idul Fitri sulit kita bendung. Sama sulitnya membendung kegembiraan saat mendengar suara bedug maghrib di bulan puasa. Inilah kegembiraan yang dijanjikan dalam hadis Rasulullah saw di atas. 


Rasa ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan Ibn Mas'ud: “Sekiranya para hamba (kaum Muslim) mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada sepanjang tahun.” (HR Abu Ya'la, ath-Thabrani, dan ad-Dailami) 



Karena itu, selain kegembiraan berlebaran, seharusnya kita juga bersedih seperti para sahabat. Karena belum tentu kita ketemu Ramadhan di tahun berikutnya. Tidak  ada yang menjamin jika kita masih bisa meraih pahala di bulan puasa yang akan datang. Oleh karena itu, semangat ramadhan kemarin harus terus ada walau usai ramadhan.


Kita sangat senang melihat perkembangan umat Muslim selama ramadhan kemarin. Ibadahnya ditingkatkan, banyak membaca alquran, berdoa, zikir, bersedekah, tarawih, menjaga lisan, menutup aurat dan amalan sholeh lainnya begitu ditingkatkan. Intinya saat ramadhan ibadahnya semakin meningkat.


  

Namun, sangat disayangkan setelah ramadhan berlalu, ibadah memudar, menyusut hanya menjadi sholat lima waktu saja. Itupun jika mereka sempat. Astaghfirullah. Sedih jika demikian. Kita tidak menginginkan hal demikian. Harapannya ramadhan tidak akan pernah mati kapanpun itu, agar semangat ramadhan terus ada walau usai ramadhan. Ibadahnya terus meningkat dan menjalankan semua amal sholeh. Terus mengkaji Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar serta menjauhi maksiat. Semua amal sholeh itu harus dilaksanakan walau diluar ramadhan.  Rugi banget jika hasil ramadhan kemarin tidak ada peningkatan kearah yang lebih baik.

  

Kita tahu sendiri, tidak ada bulan yang paling kondusif untuk menggembleng pengendalian hawa nafsu dalam diri kita selain di bulan Ramadhan. Allah begitu sayang kepada kita hingga Dia mempermudah dengan membelenggu syetan. Lingkungan sekitar kita juga ikut terwarnai oleh cahaya Islam. Makanya rugi kalau bulan puasa kemaren cuma diisi rutinitas nahan lapar, haus atau formalitas tidak ngegosip serta hadir di pengajian. 


Saat kita berpuasa Ramadhan, ibarat menjalani proses metamorfosis ulat dalam sebuah kepompong. Kalo proses metamorfosisnya berjalan sempurna, maka pasca Ramadhan kita akan menjadi manusia baru bergelar muttaqin layaknya seekor kupu-kupu yang indah dan cantik keluar dari kepompong. 


Untuk itu, demi meraih kemenangan Ramadhan di bulan Syawal, kita manfaatkan benar-benar modal yang kita kumpulin sewaktu puasa kemaren. Jangan sia-siakan usaha kita mengendalikan hawa nafsu, banyak bersabar, atau bersikap simpati dan empati terhadap orang lain. Jangan sesali kebiasaan kita baca alquran ba'da shalat fardhu dan di waktu senggang. Jangan disayangkan harta yang kita keluarkan untuk bersedekah. Karena semua itu akan menjadi penolong kita kelak di akhirat. 


Oleh karena itu, ramadhan akan terus ada dan tak akan pernah mati. Tetep semangat hadir di pengajian untuk meningkatkan wawasan Islam. Agar setiap perbuatan yang kita lakukan bisa disesuaikan dengan aturan Islam. Selain itu, tidak boleh absen untuk mengkondisikan keimanan dalam diri kita. Caranya bisa dengan bergaul di tengah orang yang baik-baik (sholeh atau sholehah), biar terkondisikan oleh kebiasaan baik mereka. Juga tingkatkan amalan-amalan sunnah seperti membaca alquran, shaum sunnah, atau mengkaji sirah (riwayat) Rasulullah dan para sahabat untuk diteladani. 


Mari kita bersama-sama meraih kemenangan Ramadhan. Isi lembaran baru dalam keseharian kita dengan identitas baru sebagai orang yang bertakwa. Kita bisa memulainya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. Seperti diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis, kecuali Bukhari dan Nasa'i, dari Abu Aiyub al-Anshari bahwa Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan diiringinya dengan enam hari bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa sepanjang masa.” 


Kita memang tidak bisa menahan agar Ramadhan selalu bersama kita. Tapi semangat Ramadhan sudah seharusnya tidak pernah mati dalam diri kita. Semangat untuk mengkaji Islam. Semangat untuk menyuarakan Islam. Dan semangat untuk menjadi pembela Islam.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!