Sunday, June 10, 2018

Ramadhan, Awal Hijrahku


Oleh : Mulyaningsih, S.Pt


Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Tepat di bulan nan suci dan mulia ini, awalku mengenal Islam. Ternyata begitu banyak hal yang belum diketahui dan dimengerti. Islam tak hanya mengatur masalah ibadah saja, tak seputar sholat, zakat dan puasa saja. Jauh dari itu, Islam mengatur semua hal. Bahkan samai hal yang kecil sekalipun, seperti masuk kamar mandi Islam mempunyai aturannya. Apalagi masalah yang besar dan menyangkut semua orang. Sudah barang tentu Islam punya solusi atas segala macam bentuk persoalan manusia. Karena memang Islam bersumber pada Sang Pencipta, yaitu Allah SWT yang mengetahui seluk beluk semua yang diciptakanNya.

Sudah tiga belas tahun perubahan itu dimulai. Pelan namun pasti, akhirnya bisa mengetahui hukum-hukum Islam. Baik seputar perempuan, anak, orang tua ataupun saudara. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan yang mungkin tak semua orang bisa memilikinya. Bertandang dan menuntut ilmu di kota hujan, itulah awalku mengenal Islam. Dari sana banyak sekali ilmu-ilmu yang didapatkan. Utamanya adalah hukum yang terkait dengan muslimah. Aturan tentang aurat, itulah yang paling dominan. Ternyata selama ini pemahaman mengenai aurat kurang tepat. Ternyata didalam Al Qur’an telah terpampang jelas mengenai pengaturan aurat pada muslimah.

Hai Nabi, katakanlah kepada Istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-istri orang mukmin:  “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Peyayang. (TQS. Al-Ahzab 59)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (TQS AN Nur 31).

Dari terjemahan dua ayat diatas telah jelas bahwa bagi seorang musimah wajib menutup auratnya ketika hendak keluar rumah. Memakai jilbab dan kerudung untuk menutupi aurat mereka. Yang dimaksud dengan jilbab adalah pakaian luas yang menutupi pakaian yang ada di dalam dan diulurkan untuk menutupi kedua kaki. Jilbab harus dijulurkan sampai kedua kaki agar ada irkha’. Artinya adalah jilbab tersebut jatuh (menjulur) ke bawah secara menonjol sebagai bukti realisasi dari firman Allah SWT dalam Surat Al Ahzab ayat 59 tadi. Hal ini berarti jilbab menyentuh tanah jika kedua kaki terbuka dan cukup sampai kedua kaki jika ia menggunakan sepatu atau kaos kaki.

Atas dasar itulah maka tidak boleh bagi seorang muslimah dalam kehidupan umum mengenakan celana panjang dan di atasnya mengenakan jubbah panjang hingga lutut. Hal ini tidak memenuhi makna syar’i untuk jilbab. Makanya dia wajib untuk mengenakan jilbab ketika dia hendak keluar rumah, jika tidak mempunyainya maka bisa pinjam dengan teman atau saudaranya. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam shahihnya dari Ummu Athiyah, ia berkata

“Rasulullah SAW memerintahkan kami agar kami mengeluarkan pada hari Idul fitri dan Idul Adha, perempuan yang dipingit, wanita yang sedang haid dan yang memiliki halangan (udzur). Adapun wanita haid maka ia memisahkan diri dari shalat dan menyaksikan kebaikan dan seruan terhadap kaum muslimin”. Aku katakana: “Ya RAsulullah, salah seoarang dari kami tidak memiliki jilbab.” Beliau bersabda: “ Hendaklah saudaranya meminjaminya jilbabnya.”

Allah memberikan rambut pada setiap manusia. Tak terkecuali perempuan. Sebagian besar orang berpandangan bahwa mahkotanya seorang wanita ialah pada rambutnya. Sehingga tak sedikit wanita yang akhirnya lalai untuk mengerjakan perintah Allah SWT terkait dengan menutup rambut. Karena rambut adalah termasuk pada ranah aurat seoarang wanita, sehingga harus ditutup.

Kerudung adalah penutup kepala yang menutupi rambut, leher dan bukaan baju “al-jayb”. Allah SWT berfirman dalam Surat An nur ayat 31: … “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya”…

Itulah ketentun-ketentuan terhadap seorang muslimah. Wajib mengenakan jilbab dan kerudung jika hendak bepergian keluar rumah. Karena dengan begitu maka akan dengan mudah mengenalinya. Semoga kita akan taat tanpa nanti dan tapi. Segera melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah SWt tanpa menundanya. Apalagi sekarang bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan dan magfiroh dari Allah SWT. Kalau bukan sekarang, mau menunggu apalagi. Karena kematian itu pasti akan datang, tinggal menunggu waktunya. Semoga kita bisa berhijrah dan istiqomah untuk berada di jalanNya. Wallahu A’lam. [ ] 

Mulyaningsih, S.Pt

Ibu Rumah Tangga

Pemerhati keluarga, anak dan remaja

Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!