Monday, June 4, 2018

Puasa Berbuah Takwa


Oleh : Arinta Kumala Verdiana


“Hai orang-orang yang bertakwa diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (TQS. Al Baqarah [2]: 183). Mungkin hampir semua orang Muslim hafal ayat yang sangat mahsyur ini. Tak pernah ketinggalan setiap tahun di bulan Ramadhan, para imam masjid atau khatib pasti membacakan ayat ini dalam khutbah atau ceramahnya. Bahkan putri saya yang baru berusia 4 tahun sangat hafal ayat ini.


Dalam ayat ini sangat jelas tujuan dari diwajibkannya puasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa. Maka setelah menjalankan puasa Ramdhan selama satu bulan seharusnya kita menjadi orang yang bertakwa. Bagaimana gambaran orang yang bertakwa ?. Imam at Thabari menafsirkan ayat di atas mengutip al Hasan yang menyatakan “Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang telah Allah haramkan atas diri mereka dan melaksanakan perkara apa saja yang telah Allah titahkan atas diri mereka” (lihat: ath Thabari, Jami’ al Bayan li Ta’wil al Qur’an, I/232-233).


Maka setelah berlelah-lelah menahan lapar, haus, amarah dan menahan nafsu dalam sebulan, maka seharusnya setelah Ramadhan seharusnya mengantarkan kita pada pembuktian iman. Bukankan Allah menyeru hanya pada orang-orang yang beriman untuk berpuasa ?!. Setelah berlelah-lelah dalam beribadah dalam sebulan, maka seharusnya diri kita berhias dengan ketakwaan. Membuktikan keimanan kita kepada Allah. Jika kita beriman maka sebagai bukti dari iman kita adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjalankan larangan-Nya. Atau menjalankan seluruh syariat-Nya tanpa terkecuali. Baik syariat yang berhubungan dengan Allah secara langsung (ibadah mahdhoh) seperti sholat, puasa, zakat, haji, dll. Atau syariat yang berkaitan dengan diri sendiri misanya syariat tentang makanan, minuman, pakaian, akhlak dll. Dan juga syariat yang berhubungan dengan orang lain misalnya perekonomian, pendidikan, hukum, dll.


Takwa Butuh Khilafah


Yang masih sama dalam Ramadhan kali ini dan ini adalah sebuah musibah yaitu ketiadaan sistem politik yang menaungi seluruh kaum muslimin di seluruh dunia, yaitu Khilafah. Ketiadaan Khilafah ini membuat kita tidak bisa untuk menjadi takwa secara total. Kenapa ?. Karena ketika tidak ada Khilafah kita tidak bisa menjalankan syariat Allah secara menyeluruh. Padahal jelas tadi buah dari puasa kita harusnya kita menjadi hamba Allah yang bertakwa. Tetapi karena ketiadaan Khilafah kita seperti menemui jalan buntu. Ada pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab. Ada problem yang tidak bisa diselesaikan.


Jika syariat yang berkaitan dengan ibadah mahdhoh atau berkaitan dengan diri kita sendiri mungkin bisa kita jalankan tanpa adanya Khilafah (meskipun tetap kita akan menemui kesulitan ketika ingin menjalankan secara kaffah). Tetapi jika syariat seperti sistem perekonomian, pendidikan, hukum dan sejenisnya, mau tidak mau kita membutukan sebuah sistem yang representatif untuk mengakomodasi penerapannya.

Maka jika kita ingin bertakwa seperti yang Sang Pencipta kita peritahkan, maka mau tidak mau kita harus mengusahakan agar Khilafah yang pernah ada sebelumnya selama selama ribuan tahun, kembali lagi menaungi kehidupan kaum muslim. Analogi sederhananya, ibarat kita mau makan, ada makanan tapi kita tidak punya piring maka apa yang kita lakukan ?. Ya betul sekali, kita berusaha mencari piringnya. Hanya dengan Khilafah kita akan bisa menjadi hamba Allah yang bisa menjalankan ketakwaan kita secara total. Hanya dengan Khilafah maka syariat Allah tidak ada lagi yang tidak bisa diterapkan. So, takwa memang butuh Khilafah. Wallahu a’alam bi as Showwab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!