Friday, June 8, 2018

Proyek Impor Beras, Menggadai Kesejahteraan Rakyat


Oleh: Aji Rafika Noor Adita (Pemerhati Masalah Sosial)


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga beras ditingkat penggilingan untuk kualitas premium, medium dan rendah mengalami kenaikan di Februari 2018.(Kontan.co.id). Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan harga beras ditingkat penggilingan paling besar adalah pada beras dengan kualitas rendah. “Beras kualitas premium naik 0,31 %, medium naik 0,37 %, dan rendah alami kenaikan 1,99 % sehingga beras kualitas rendah sudah mencapai Rp 9.987,- per kilogram, kata Suharyanto diKantornya. Kamis(1/3).(Kontan.co.id)

Harga beras masih mengalami kenaikan hingga Rp 2.000,-. Saat ini harga beras dipasaran mencapai Rp 12.000,- - Rp 13.000,- per kilogram. Kenaikan harga ini tentu tidak hanya dikeluhkan oleh para pedagang tapi juga masyarakat kalangan menengah kebawah. Seperti wanita asal padang, Iwes (30) yang mengaku terbebani dengan naiknya harga beras. Menurutnya beras yang merupakan bahan pokok utama seharusnya tidak mengalami kenaikan yang cukup tinggi, karena akan membuat masyarakat sengsara. Dia juga mengaku heran dengan penyebab kenaikan harga beras saat ini. Jika disebut stok terbatas, hal tersebut kurang tepat karena Indonesia merupakan Negara penghasil beras yang melimpah.”Indonesia ini tropis, harusnya kita berlimpah bukan kurang”, ucapnya (20/1).(Merdeka.com).

Oleh karena itu, untuk menekan harga beras yang melonjak naik. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, akan ,mengambil keputusan untuk membanjiri pasar dengan stok beras Bulog. 

Sementara itu dari data yang dihimpun diSitus Bulog.co.id. Jumlah cadangan beras yang mereka kelola per 8 Mei 2018 masih berjumlah dibawah 1,2 juta ton, yakni sekitar 1,09 juta ton. Lebih lanjut, karyawan mengungkapkan Rapat Koordinator Nasional Februari 2018 memutuskan Perum Bulog harus memiliki Cadangan Beras Pemerintah (CBP) antara 1 – 1,5 juta ton. “Begitu 1,5 juta ton tercapai, itu sudah sangat maksimal”, ucapnya.(Liputan6.com).

Akan tetapi pada faktanya kebijakan impor beras yang dijalankan pemerintah sama sekali tidak mampu menurunkan harga beras dipasaran. Bahkan, harga gabah dan harga beras ditingkat konsumen masih sangat tinggi dan jauh berada diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah dipatok. “Impor 500 ribu ton tidak ada efeknya sama sekali terhadap penurunan harga gabah dan beras. Harga gabah dan Beras per kemarin Rp 11.800,- yang HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp 9.450,-“, ungkap guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, diHongKong Café, Jakarta, selasa (24/4/2018). “Operasi pasar yang dilakukan gagal tidak ada ceritanya itu memiliki dampak, tidak ada dampak sama sekali”, kata Andeas. Penyebab harga beras yang hingga saat ini relative masih tinggi adalah kesalahan pemerintah dalam memperkirakan antara stok dan jumlah produksi beras. Tandasnya.

Sehingga wajar, ketika diperkirakan adanya kekurangan stok beras yang berujung pada naiknya harga beras, pemerintah mengambil langkah untuk impor beras, meskipun data yang dipakai pemerintah tidak sesuai dengan yang ada dilapangan, karena pada faktanya pemerintah mengambil kebijakan impor tersebut mendekati panen raya. Tentunya hal ini juga sangat merugikan petani kita. Meskipun dengan berbagai dalih pemerintah untuk tetap mengimpor beras yang hanya akan menguntukan pihak perusahaan saja. 

Ketersediaan pangan yang ditempuh dalam sistem kapitalis ini tidak membatasi pelaku penjamin ketersediaan pangan oleh Negara. Hal itu memungkinkan pihak – pihak lain di Luar Negeri (swasta DN dan LN) bisa  mengambil andil yang sangat besar, akibatnya terjadilah monopoli bahan pangan. Yang menguasai bahan pokok hanya segelintir orang atau kelompok saja. 

Kenaikan bahan pokok ini, tidak dibarengi dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat, akibatnya rakyat semakin sulit untuk memenuhi kebutuhannya. Hidup rakyat semakin sulit dan sengsara, kebijakan ini. Oleh karenanya, tanggung jawab Negara dalam mensejahterakan rakyatnya dan petani menjadi semakin buram. 

Islam sebagai agama yang punya aturan kehidupan dunia dan akhirat yang berasal dari sang Khalik, memandang bahwa Negara punya peranan penting dalam mensejahterakan rakyatnya, bahkan dalam pemenuhan kebutuhan pokok yakni bahan pangan, yang kalau tidak dikelola dan didistribusikan dengan baik dapat mengakibatkan kesengsaraan rakyatnya. Solusi Islam dalam memenuhi kebutuhan rakyat adalah mempermudah hal – hal yang berkaitan dengan hasil prosduksi pangan, misal mempermudah pemberian bibit ke petani yang menjadi warga Negaranya, mendatangkan tenaga ahli, bahkan mendorong pembukaan lahan untuk pertanian akan diusahakan oleh Negara.  Hal ini sudah dicontohkan Rasul, dalam sebuah hadist, Rasul bersabda “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka tanah itu menjadi miliknya”.(HR. Tirmidzi, Abu Dawud). Dalam hadis lain juga, Rasul bersabda, :”Siapa saja yang memiliki sebidang tanah, hendaklah dia menanaminya, atau hendaklah ia memberikannya kepada saudaranya. Apabila ia mengabaikannya, hendaklah tanahnya diambil”. (HR al Bukhari dan Muslim). 

Kebijakan Impor dalam sistem Negara berdasarkan Islam, diperbolehkan, hanya saja pada kondisi dan situasi yang sangat Urgen dan mendesak yang itu menyangkut pemenuhan kebutuhan rakyat nya tanpa menggadaikan kedaulatan Negaranya, seperti yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khathab. Pada waktu tahun paceklik dan Hijaz dilanda kekeringan, Umar bin Khathab menulis surat kepada Walinya diMesir Amru bin Ash tentang kondisi pangan diMadinah memerintahkannya untuk mengirim pasokan. Lalu Amru membalas surat tersebut, “saya akan mengirimkan unta – unta yang penuh dengan muatan bahan makanan, yang “kepalanya” ada dihadapan anda (di Madinah) dan ekornya masih dihadapan saya dan aku lagi mencari jalan untuk mengangkutnya dari laut.

Dalam hal menjamin kebutuhan rakyatnya, Khalifah Umar bin Khathab disuatu malam, pernah melakukan inspeksi ke Perkampungan penduduk. Tanpa sengaja beliau mendengar rintihan anak menangis dari arah sebuah rumah, dan beliau pun menhampiri rumah tersebut dan memperhatikan dari luar. Ternyata anak itu menangis karena lapar, sebab orang tuanya sendiri tidak punya bahan makanan lain. Sang ibu mencoba menghibur anaknya, dengan seolah – olah sedang memasak makanan, padahal yang dimasak adalah batu. Setelah mengetahui hal itu, sang Khalifah pun bergegas mengambil sekarung gandum dari Baitul maal(kas Negara), lalu dipikulnya sendiri untuk diberikan kepada keluarga tersebut. 

Syari’at Islam mewajibkan adanya sebuah institusi Negara yang menerapkan Syari’at Islam secara kaffah, agar terwujudnya kesejahteraan rakyat yang hakiki. Karena berasal dari sang Pencipta dan pengatur Allah swt, yang dari sistem itulah lahir seorang pemimpin yang tulus dalam mensejahterakan rakyat, karena sadar akan semua yang dilakukannya dan kepemimpinannya akan dimintai pertanggung jawab oleh sang Pemilik alam semesta. Wallahua'lam bishawab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!