Tuesday, June 19, 2018

Pelangipun Tak Selamanya Indah


Oleh : Ana Harisatul Islam


Pelangi. Siapa yang belum pernah melihatnya? Semua kalangan baik anak-anak maupun dewasa dipastikan pernah melihatnya. Adakah yang tidak menyukai pelangi? Sebagian besar dari kita menyukainya. Karena fitrah manusia menyukai keindahan. Satu demi satu warna tersusun rapi, membentang hampar di langit tinggi. Ah indahnya, berbagai warna menyatu membentuk sebuah lengkungan. Sungguh indah ciptaan Allah.


Namun, ternyata pelangi tak selamanya indah. Ya, sejak dilegalkannya TBGL-sengaja dibalik biar gak kena suspend- di Amerika dan di negara-negara lain, Indonesia sebagai negara mayoritas muslimpun didesak kaum pelangi untuk ikut serta melegalkan. 


Miris? Iya. Dengan dalih hak asasi, mereka menuntut diakui. Dengan dalih rasa kemanusiaan, mereka menuntut dilindungi. Medsospun ikut serta memberangus opini yang kontra pada kaum pelangi. Tanpa ampun meski hanya satu kalimat, harapannya tak ada lagi yang beropini. 


Bahkan orang-orang mulai berduyun-duyun ikut bersuara untuk membela. Sayangnya, dari pendapat yang mereka suarakan, sangat menunjukkan kedangkalan cara berpikir. Mengapa? Karena siapapun orang yang waras dan mampu berpikir cemerlang, pasti tidak setuju dengan perilaku menyimpang.


Kebebasan dalam dunia sekular radikal, memunculkan perilaku inhuman yang kebal ancaman Tuhan. Perilaku yang hanya mengedepankan pemuasan nafsu pribadi, dan buta akan dampak sosial maupun penderitaan korban. Perilaku layaknya monster, mengerikan dan menebar ketakutan, mengancam eksistensi peradaban.


Bahkan, kini kaum pedofil juga menuntut hak sama. Mereka minta untuk diakui, diterima, dan dilegalkan. Pedofil mencoba mencari pembenaran atas hasrat seksual mereka kepada anak. Awal Januari lalu didapati seorang guru di Banten menyodomi 41 anak. Para predator anak kian hari kian marak. Mengancam keselamatan anak-anak.


Bisa dibayangkan, ketika pedofil ini diakui dan digabungkan dengan kaum pelangi, menyebar di tengah-tengah masyarakat. Menyasar tetangga kita, saudara kita, keluarga kita, bahkan diri kita. Sungguh mengerikan. Mau dibawa kemana generasi ini?.


Inilah ketika aturan sang Pencipta tak diindahkan. Manusia bebas berbuat sesuka hati. Padahal Allah memberi aturan tidak lain untuk kebaikan manusia sendiri. Namun, manusia lupa hakikatnya sebagai makhluk yang diatur, menihilkan peran Allah dalam hidup. 


Mau sampai kapan memelihara kekhawatiran dalam hidup, bertahan dalam sistem yang tidak memanusiakan manusia ini? Bukankah Allah telah menjanjikan kesejahteraan bagi penduduk yang bertakwa? Lalu mengapa masih memilih untuk sengsara?


Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-A'raf:96)


Pelangipun tak selamanya indah, ketika aturan dan kekuasaan  Allah tak ada di dalamnya.   


Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (al-A’raf:80)


Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu (al-A’raf:84).


Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim".(al-‘Ankabut:31).


#KompakNulis

#OPEyDay6

#Revowriter


Sebenarnya ini tulisan kemarin malam, tapi ternyata belum kepencet tombol kirim sudah keduluan merem, akhirnya OPEy jadi mudur 1 hari, huhuhu seddih. Maafkeun cikgu Kholda Naajiyah Helmiyatul Hidayati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!