Sunday, June 3, 2018

Nasehat Pemutus Kenikmatan


Oleh : Tety Kurniawati ( Anggota Akademi Menulis Kreatif ) 


Sepanjang hidup manusia tak kan pernah lepas dari masalah. Dihadapi atau dihindari ia kan tetap menghampiri. Bagi pejuang, rintangan dan hambatan hanyalah tantangan yang mesti ditaklukkan. Sedang bagi pecundang, menunda dan berkeluh kesah merupakan keniscayaan. Mencukupkan diri menunggu, hingga waktu kan memperbaiki tiap persoalan. Padahal tiada yang tahu sampai bila manusia masih diberi kesempatan. 


Tak terasa kita sudah memasuki separuh waktu bulan Ramadhan. Berarti semakin dekat waktu kita tuk berpisah dengan bulan penuh kemulyaan. Tiada yang tahu bilakah Allah berkenan memberi kesempatan kita menuntaskan atau justru tiap detik kita semakin dekat dengan kematian.


Yang bernyawa pasti kan binasa. Maka sejatinya sama saja, setiap manusia mau tak mau sedang berjalan menuju ajalnya. Tak ada yang kuasa menolaknya. Firman Allah : "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan" ( QS. Ali Imran:185 ). 


Maka bagaimana mungkin manusia dapat lari dari kematian? Ketahuilah, sesungguhnya kita di dunia ini hanya sementara. Orang yang berakal, sepantasnya tidak tertipu dengan gemerlapnya dunia, sehingga melupakan bekal menuju akhiratnya. Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu.” (HR Ibnu Majah, no. 4.236; Tirmidzi, no. 3.550. Lihat Ash Shahihah, no. 757). 


Sungguh tiada nasehat terbaik selain kematian. Karena dengan mengingatnya terputuslah tiap kenikmatan. Menumbuh suburkan keimanan dan bersegera meraih ketaatan. Sebagaimana kisah nyata dari hamba Allah Ali Banat. Seorang muslim Australia yang dikaruniai dengan kesuksesan dan kemewahan hidup. Seketika berubah kehidupannya saat divonis menderita kanker stadium 4 dengan harapan hidup tak lebih dari 7 bulan. Berhijrah meninggalkan kehidupan glamournya dan mengabdikan sisa hidup di jalan Allah. Ia sedekahkan hartanya membantu orang-orang fakir dan setelah perjalananya ke Afrika didirikannya yayasan "Muslim Around The World Project" yang bertujuan membangun masjid dan sekolah. Beliau kini telah tiada, namun kisah hidup beliau meninggalkan pelajaran berharga bagi kita. Untuk memperbanyak menasehati diri mengingat kematian saat semangat taat mulai kendur. 


Rasulullah SAW bersabda : Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu. (HR. Ath Thabrani dan Al Hakim).


Orang yang banyak mengingat kematian, kemudian mempersiapkannya dengan memperbanyak amal sholih dan niat yang ikhlas, itulah orang-orang yang berakal. Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” (HR Ibnu Majah)


Selagi Allah mengijinkan mengecap nikmat ramadhan. Merugilah diri yang tidak mempergunakan tiap kesempatan tuk terus mengazamkan diri dalam ketaatan. Bersegera memperbanyak amal sholih yang memberatkan timbangan amal. Jangan biarkan kesibukan duniawi membuatmu lalai dan mudah tuk menunda. Karena dunia hanya sementara dan pasti ditinggalkan sedang akhirat kekal selamanya. Wallahu a'lam bish showab. 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!