Wednesday, June 6, 2018

"Nak, (Biidznillah) Hadirlah!"



Oleh: Hasni Tagili


Setiap pasangan suami-istri pasti mendamba hadirnya anak. Tanpa si kecil, rasanya belum lengkap. Bahagia sih ada suami. Namun, tetap saja, inginnya ada pula bayi 😄


Itu rencana ideal manusia. Mimpi yang disusun dengan sempurna. Dibingkai dengan bunga cinta. Tapi bagaimana jika Allah berkehendak berbeda?


Perlu disepakati bahwa anak adalah hak Allah. Bukan hak manusia. Singkatnya, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Allah lah penentu akhirnya. Allah lah yang Maha Tahu jika kita sudah siap atau belum dititipi amanah baru.


"Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki." (TQS. asy-Syuura: 49)


Bahkan, sekalipun kita divonis mandul oleh dokter, tetap berbaik sangka lah terhadap ketetapan-Nya. Sesungguhnya semua yang datang dari Allah adalah baik. Meski dari kacamata manusia, itu terlihat tidak apik 😎


"Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (TQS. asy-Syuura: 50)


Yup, sekali lagi, anak adalah hak Allah. Hak Dzat yang telah memberikan kehidupan ini. Jadi atas dasar apa kita merasa hancur dan merugi? Bukankah Dia yang Maha Tahu yang terbaik untuk tiap-tiap diri?


Hu'um, tahu banget lah gimana nyeseknya ketika sudah lama berumah tangga tapi belum hamil-hamil juga 😓 Ditambah bisik-bisik tetangga yang bikin panas telinga đŸ˜Ŗ Ah, marahnya, derita kita jadi bahan bercanda mereka. Air mata? Wuih, jangan ditanya berapa galon yang sudah tumpah ruah 😭 Trust me, I know it well. So well.


Tapi sebagai muslimah yang baik, kita hanya punya dua sangkur. Sabar dan syukur. Sabar karena belum diberi amanah anak. Syukur karena masih diberi waktu untuk berlibur (baca: bermesraan dengan suami 😍).


Syukuri pula punya suami yang sabar dengan ketetapan Ilahi. Belum lagi, keluarga besar yang tak putus doa menyemangati. Kalaupun ada yang nyinyir, cukup berdzikir. Ikhlaskanlah! Usah bermandi resah. Sebab ini bukan adegan drama. Lelah jiwa saja jika mau bertengkar. Hati jadi sangar.


Jadi, buat pasutri yang sudah menikah bertahun-tahun namun belum punya anak, jangan berkecil hati. Terus berdoa dan berikhtiar. Jangan berhenti mengharap rahmat-Nya. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk menitipkan amanah berupa anak. 


Belajarlah dari kesabaran Nabi Ibrahim as. Beliau baru diberi anak ketika berumur 100 tahun (lihat QS. adz-Dzariat: 28-30 dan Al-Jami’ Liahkamil Qur’an 17/47). Nabi Zakaria as. juga baru memiliki anak ketika usianya sudah sangat tua (lihat QS. al-Anbiya: 89-90 dan QS. Maryam: 7-9). Pun, kesabaran Aisyah ra. yang selama hidupnya tidak memiliki keturunan, tapi hatinya bahagia. Subhanallah!


Kalau di kehidupan modern, kita bisa berkaca pada kesabaran Hanum Salsabila Rais dan Siti Nurhaliza. Kedua perempuan ini baru bisa menyandang gelar ibu setelah 11 tahun menikah. Ya, mudah saja bagi Allah jika kita sudah mengantongi ridha-Nya 😊


Sedangkan bagi pasutri yang istrinya keguguran, jangan bersedih berlarut-larut. Sejak awal, anak adalah hak Allah. Anak bukanlah milik kita. Hakikatnya hanya dititipkan. 


Jadi, ketika Sang Pemilik mau mengambilnya, kita tidak berhak protes. Menangis berember-ember pun tidak akan membuat anak itu hidup kembali. Ikhlas. Sabar. InsyaAllah, ganjarannya surga. 


Dari Muadz bin Jabal ra., Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya bayi yang meninggal (karena) keguguran akan menarik tali pusar ibunya ke surga jika ia bersabar mengharap pahala dari Allah SWT.” (HR. Ibnu Majah)


Pada akhirnya, jika memang Allah belum merasa perlu menitipkan anak pada kita, jangan khawatir. Sebab, dalam sebuah riwayat hadits dikatakan: Abu Sa’id berkata bahwa Rasulullah bersabda, "Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (Shahih Al-Jami’, 6649)


Dengan demikian, tiada hak kita untuk memaksa Allah. Yang ada, rayulah Dia. Dekati lewat doa-doa. Yakinkan lewat beragam usaha. Jika sudah waktunya, biidznillah, si anak akan hadir dalam rahim kita insyaAllah 😉




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!