Tuesday, June 12, 2018

Mudik Yang Epic


Oleh : Vivin Indriani (Penulis, Member Komunitas Revowriter)


Ramadhan hampir genap berjalan. Beberapa hari lagi ummat Islam akan bertemu dengan bulan Syawal. Pertanda ibadah sebulan penuh di bulan Ramadhan telah usai dijalani. Puncak 1 Syawal adalah perayaan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Idul Fitri pun tiba.


Ada tradisi yang berbeda akan terlaksana di negri muslim terbesar bernama Indonesia. Yang tentu saja tidak demikian di negri-negri lainnya. Di Timur Tengah atau Eropa, tidak ada tradisi mudik besar-besaran seperti di negri ini. Bagi mereka idul fitri cukup berkumpul bersama keluarga. Esok aktivitas kembali seperti sedia kala di hari-hari biasanya. 


Mudik. Inilah momentum yang ditunggu-tunggu ummat Islam negri ini. Mungkin sama-sama berkumpul bersama keluarga. Namun tentu tak sesederhana di luar negri, berkumpul dengan keluarga yang telah lama berpisah. Atau bertemu orang tua dan sanak kerabat yang jauh di provinsi atau pulau yang berbeda. Karena inilah Indonesia. Negri dengan anugrah wilayah terluas didunia. Terdiri dari banyak pulau dan wilayah. Dan dengan kelemahan pembangunan yang tidak merata. Aktivitas perputaran modal terkumpul di satu dua pulau saja. Alhasil, merantau menjadi pilihan rakyat di daerah-daerah yang jauh dari perkotaan. Dengan konsekuensi akan ada satu waktu dimana mereka yang merantau pulang ketanah kelahiran. Entah sendiri, beramai-ramai atau rombongan. 


Sejatinya mudik adalah implementasi dari adanya naluri self defence(gharizah baqo'). Sebuah naluri yang diperkirakan berada dalam otak mamalia manusia. Naluri yang kadang bisa muncul dalam bentuk dan rupa berbeda namun hakikatnya sama. Sama-sama pertahanan diri. Merasakan kepemilikan. Merasakan emosi akan tanah kelahiran dan tempat dibesarkan. Bahkan naluri yang akan mendorong manusia menunjukkan eksistensi bahwa dirinya pernah ada disana. Pernah diakui sebagai salah satu bagian dari masyarakat daerah tersebut. Atau malah kecintaan fanatisme akan tempat kelahiran dann sebagainya.


Naluri self defence(gharizah baqo') ini nyata adanya. Tiap manusia telah Allah anugerahkan dan tak bisa dihilangkan. Mungkin bisa di tekan keberadaannya, namun tetap dia ada. Bahkan sekaliber Rasulullah saw saja begitu rindu akan Mekkah tanah kelahiran dan tinggal keluarga besar beliau disana. Sebuah gambaran bahwa rasa itu pernah mewujud, bahkan dalam diri manusia sempurna berpredikat zero dosa seperti beliau saw.


Maka mudik bagi mereka yang lama terpisah dengan kampung halaman adalah keniscayaan. Tahun demi tahun di negri orang mungkin terbayar dengan mudik. Seakan semua usaha dan kerja keras di perantauan semuanya untuk masa-masa mudik ini. Masa bertemu dengan keluarga besar, masa kembali pulang, masa menanggalkan segenap kepura-puraan dan topeng yang mungkin terbangun. Namun dalam mudik, kita akan menemukan bahwa bebas lepas adalah anugrah. Merasai kembali nostalgia dan kenangan masa kecil adalah harga yang harus diterima setelah berjibaku di kerasnya perantauan.


Menarik sekali karena sesungguhnya, kita semua inipun akan 'mudik' jua. Ke satu negri kekal abadi. Dimana topeng, kepura-puraan, polesan dan segala macam perhiasan dunia yang menyilaukan akan kita tinggalkan. Mudik ke suatu tempat yang kita akan berdiri sendirian menghadapi satu pengadilan besar yang paling besar dalam hidup kita.


Ya, kita semua akan 'mudik' ke kampung akherat. Tempat dimana kebaikan dan kejahatan akan mendapatkan balasan setimpal dan adil. Tempat dimana tidak adalagi seseorang yang akan membela kita dan menjadi pelindung kita.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan dunia dengan lisannya, dengan sabdanya:


“Aku sama sekali (tidak memiliki keakraban) dengan dunia, perumpamaanku dengan dunia adalah bagaikan seseorang yang ada di dalam perjalanan, dia beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, lalu dia pergi dan meninggalkannya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)


“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.” [HR. Al-Bukhari]


Maka bagi pengembara atau orang asing atau perantau, akan ada masa dia harus kembali. Dia akan memahami bahwa sesungguhnya semua yang dia miliki di perantauannya akan dia tinggalkan. Dan perasaan sebagai orang asing akan membimbingnya merasakan bahwa dia hanya sementara di sana. Ada waktunya untuk pulang. Serta bagi perantau, tidak ada kebahagiaan kecuali saat diri telah mudik pulang ke kampung halaman keabadian. 


‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘amhu berkata,

“Sesungguhnya dunia itu adalah Surga bagi orang kafir dan penjara bagi orang yang beriman. Dan sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin ketika dirinya keluar dari dunia adalah bagaikan seorang yang sebelumnya berada di dalam penjara, lalu dia dikeluarkan darinya. Sehingga dia berjalan di atas bumi dengan mencari keluasan.” (Syarhush Shuduur, hal. 13).


Inilah sejatinya yang harus dijadikan sebagai faedah dan manfaat mudik. Tidak sekedar pulang ke kampung halaman membawa aneka pajangan kemewahan, bukti keberhasilan di perantauan. Namun esensi sesungguhnya mengingatkan kita bahwa kita pun suatu ketika harus 'mudik' ke kampung halaman. Negri akherat tempat keabadian. Menantikan kita dengan dua pilihan kebijaksanaan. Syurga atau neraka tempat kekalan nanti. Dan berharap syurgalah tempat terakhir mudik kita nanti. Mudik sesungguhnya. Mudik sepenuhnya.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!