Saturday, June 9, 2018

Meraih Amal Terbaik


Oleh: Ustzh Nurani Pasaribu


Ramadan adalah bulan penuh rahmat. Bulan pengampunan. Bulan ketika Allah melipatgandakan amal-amal shalih kita. Amalan sunah dinilai sama dengan pahala amalan wajib. Amalan yang wajib dilipatgandakan hingga 70x lipat. Tentu kita sangat ingin amal kita menjadi amal terbaik. Sehingga kita layak mendapatkan balasan dan tempat terbaik pula di yaumil akhir kelak.

 

Allah Swt berfirman dalam QS Al Mulk ayat 2,


الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ


"Dialah Allah yang telah menciptakan mati dan hidup agar Allah menguji siapa yang terbaik amalnya di antara kalian."


Allah menciptakan mati dan hidup. Menurut Imam Ibnu Katsir, mati dan hidup adalah makhluk karena keduanya diciptakan. Maka tugas kita adalah mengimaninya. Sekalipun mati dan hidup adalah perkara yang gaib, kita harus yakin bahwa kita pasti akan mati. Tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini. 


Dalam ayat ini Allah menciptakan mati terlebih dahulu, lalu hidup. Kemudian mati dan dihidupkan kembali. Hingga kita akan dibangkitkan di yaumil akhir kelak. Untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama kita hidup di dunia. 


Pertanyaannya, mengapa Allah menciptakan mati, hidup, mati lalu hidup kembali? Jawabannya, "Agar Allah menguji siapa yang terbaik amalnya di antara kalian."


Dalam ayat ini dikatakan "ahsanu amalan", bukan "akstaru amalan." Yaitu yang lebih baik amalnya, bukan yang lebih banyak.


Ada dua syarat "ahsanu amalan" atau amal yang baik. Pertama, dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah. Kedua, cara melakukannya sesuai tuntunan Rasulullah Saw.


Dalil dari dua syarat di atas disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,


فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا


“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang salih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)


Menunaikan amal hanya untuk Allah semata adalah definisi ikhlas. Ikhlas erat kaitannya dengan  iman. Ikhlas letaknya di dalam hati.


Dalam menjalankan ketaatan pada Allah, seorang muslim tidak boleh "riya". Yaitu melakukan suatu kebaikan dengan harapan mendapat pujian manusia. Tak perlu "riya". Lakukanlah amal kebaikan apa pun karena ingin meraih ridha Allah Swt semata.


Contohnya, seorang muslimah berniat berhijab syari. Tapi karena mengikuti trend, maka tidak terhitung sebagai amal shalih. Dia melakukannya bukan karena ketaatan pada Allah, tapi karena mengikuti trend. Agar dipandang cantik oleh manusia.


Contoh lain, seorang yang berkata bahwa pekerjaannya masih terkait riba. Tapi dia ikhlas melakukannya karena Allah, untuk membiayai orang tuanya berhaji. Contoh semacam ini juga tidak terhitung sebagai amal shalih. Sekalipun niatnya ikhlas karena Allah, tapi cara yang dilakukannya tidak sesuai tuntunan Rasulullah. Karena Allah dan Rasul-Nya melarang riba.


Demikianlah, amal yang diterima di sisi Allah adalah amalan yang dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah. Juga sesuai tuntunan Rasulullah Saw.


Agar kita memahami syariat seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw, kita harus belajar memahami Alquran dan sunah Beliau. Agar amal ibadah kita menjadi benar. Sehingga bisa menjadi amal terbaik yang diridhai Allah.


Allahu a'lam bisshowab.




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!