Thursday, June 7, 2018

Menukarkan Uang, Boleh dan Tidak Boleh?


Oleh: Eka Purwaningsih, S.Pd (Anggota Komunitas Menulis Revowriter)


Ramadhan... Ramadhan...Hem Sedih, ga kerasa ya sob sudah masuk akhir Ramahan. Itu tandanya sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan, ya apalagi kalau bukan Lebaran. Semakin mendekati ujung Ramadhan harusnya Ibadah kita makin gencar ya sob, sembari kita mempersiapkan menyambut hari kemenangan, lazimnya sih yang dipersiapkan banyak. Mulai dari baju, alas kaki, kue, mudik, dan yang ga ketinggalan apa lagi kalau bukan angpau. Jadi ingat masa kecil dulu, kalau lebaran kantong penuh karena banyak yang ngasih uang lebaran. Dari Paman, Bibi, Om, sampai tetangga. Btw, kalian termasuk yang sudah ngasih atau masih dikasih uang lebaran? Hehehe. Tapi ini hanya tradisi di Indonesia aja, jadi inget lagu “Baju Baru Alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya, tak punyapun tak apa-apa, masih ada baju yang lama”. Eaaaa, cukup, cukup.

Ngomongin uang lebaran nih sob, udah deket Lebaran gini, banyak banget orang-orang nukerin uang yang nominalnya besar dengan uang pecahan yang nominalnya lebih kecil. Misalnya, uang pecahan Rp100 ribu dituerin dengan uang pecahan Rp2 ribu, Rp5 ribu, dan lain-lain. Secara kalau bagi-bagi uangnya dengan nominal Rp100 ribu bisa bolong kantong sob. Nukerin uangnya bisa di money changger, atau di Bank langsung. Tapi kalau nukerin di Bank langsung harus antri panjang, atau kalau nukerinyna di Bank resmi tapi yang keliling cape, panas, desak-desakan. Akhirnya banyak orang yang nukerin uang ke Calo, sementara kalau nukerin di calo biasanya ada "uang capenya". Misalnya kalian mau nukerin uang Rp 100 ribu ke pecahan lain yang lebih kecil, maka kalian harus bayar ke Calo sebesar Rp115 ribu atau Rp95 ribu. Nah, Rp15 ribu atau Rp5 ribu itulah uang cape yang dimaksud.

Kalau seperti itu boleh ga sih dalam Islam? terus kalau mau nukerin uang gimana? Eits tenang aja, ga usah bingung, ga perlu galau. Biar paham simak yu penjelasannya.

Kalau kalian mau nukerin uang ynag sejenis misalnya seperti kasus di atas (Rupiah dengan rupiah), maka harus ada dua syarat yang terpenuhi. Pertama, harus ada kesamaan dalam kuantitas atau ukuran atau kadar. Misalnya kalian mau nuker uang Rp100 ribu dengan uang pecahan Rp10 ibu, maka pecahan Rp10 ribuya harus ada sepuluh lembar. Jadi nilainya sama yaitu Rp100 ribu. Nah kalau nukernya Rp100 ribu tpi bayarnya Rp115 ribu, maka tidak boleh. Kelebihan Rp15 ribu itu adalah riba. Begitu juga kalau misalnya kalian mau nuker uang Rp100 ribu tapi dapatnya Rp95 ribu maka Rp5 ribu  itu juga Riba, Haram dalam Islam.

Kedua, Serah terimanya harus di majelis akad, maksudnya harus tunai, kontan, saat itu juga. Ga boleh di lain waktu atau penundaan dari salah satu dari apa yang dipertukarkan ( TaqiyuddinAn-Nabhani, Muqadimah al-dustur, juz 11 hal 155). Jadi ga boleh hutang ya sob.


Ini berdasarkan dalil, salah satunya dari hadist yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

الذهب بالذهب، والفضة بالفضة، والبر بالبر، والشعير بالشعير، والتمر بالتمر، والملح بالملح، مثلاً بمثل، يداً بيد، فمن زاد أو استزاد فقد أربى، الآخذ والمعطي فيه سواء


"Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus sama dengan sama (sama beratnya/takarannya), dan dari tangan ke tangan (kontan). Maka barangsiapa menambah atau minta tambah, maka dia telah berbuat riba, yang mengambil dan yang memberi dalam jual beli ini sama saja (dosanya)." (HR Muslim, no 1584).


Uang termasuk kedalam hadist tersebut. Bukan karena di Qiyaskan, tetapi karena uang memiliki sifat yang sam aseperti emas dan perak. Yaitu sebagai mata uang atau alat tukar.

Jelas ya sob, boleh saja menukarkan uang yang sejenis (misalnya Rupiah dengan Rupiah) asalkan memenuhi dua syarat atau ketentuan tadi. Harus senilai yaitu sama antara kuantitas dan kadarnya dan harus kontan saat itu juga ga boleh hutang. Kalau tidak memenuhi dari salah satu atau kedua syarat dan ketentuan tadi maka tidak boleh sob, haram, kalau dilakuin dosa. Nah gimana kalau nukernya dengan mata uang lain (misalkan Rupiah dengan dolar, ringgit, yen, dan lain-lain)? maka syarat atau ketentuan yang haus terpenuhi hanya kontan atau tunai saja.

Nah skrng sudah paham kan tentang menukar uang. Kelihatannya seperti perkara yang sepele dan untungnya juga ga seberapa, tapi dosanyaaaa.. Riba Sob.. Berat. So kita harus senantiasa berhati-hati dalam melakukan segala aktivitas, cari tahu dulu bagaimana huumnya dalam Islam. Supaya kita tidak terpeleset ke ha-hal yang akan menghantarkan kita pada Azab Allah SWT.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!