Friday, June 22, 2018

Mengintip Kekuatan Di Balik Bahasa Arab


Oleh : Vivin Indriani (Penulis, Member Komunitas Revowriter)


Bahasa adalah jembatan komunikasi. Bahasa juga sekaligus adalah cara bagi seseorang untuk mengenali dan mempelajari kehidupan sebuah bangsa. Kehidupan peradaban kuno di masa silam bisa terbaca sepenuhnya dari bahasa yang digunakan. Semakin tinggi peradaban sesungguhnya akan makin kaya kosa kata dalam suatu bahasa.


Kita tahu bahasa Arab adalah bahasa resmi negara bagi peradaban Islam. Sejak berdiri di Madinah, Islam terus mengalami kejayaan demi kejayaan dengan bertambah luasnya wilayah kekuasaan, kekayaan alam, bertambahnya suku bangsa dan juga ribuan kebudayaan baru yang ditaklukkan, semua melebur dalam satu kekuasaan, Islam. Dan bahasa Arab adalah bahasa pemersatunya kala itu. Tidak heran dengan luas wilayah kekuasaan meliputi dua pertiga wilayah dunia, bahasa Arab memiliki kosa kata yang demikian kaya. 


Bahasa Arab memiliki lebih dari dua belas juta tiga ratus lima ribu empat ratus dua belas (12.305.412) bentuk kalimat. Bahasa ini juga memiliki kurang lebih enam juta enam ratus sembilan puluh sembilan ribu empat ratus (6.699.400) buah kata. Adapun bahasa Inggris hanya memiliki kurang lebih seratus ribu (100.000) buah kata dan bahasa Perancis memiliki dua puluh lima ribu (25.000) buah kata. (Al-Lughoh Al-Arabiyyah At-Tahaddiyat wa Al-Muwajahah, halaman 14). Al-Imam Asy-Syafii berkata, “Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas dan paling kaya dengan kosa kata.” 


Dengan kekayaan bahasa Arab kita bisa jumpai ada puluhan bahkan ratusan nama dalam bahasa Arab untuk satu benda atau seekor binatang tertentu.


Ibnu Faris ar-Razi berkata, “Di antara hal yang tidak mungkin dinukil seluruhnya adalah sinonim dari kata pedang, singa, tombak, dan kata yang sepadan. Telah diketahui bahwa bahasa ajam (non-Arab) tidak mengenal kata singa kecuali hanya satu saja. Adapun kita memiliki 150 nama untuk singa. Bahkan telah menyampaikan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Bundar bahwa dia mendengar Abu Abdillah bin Khalawaih berkata, “Aku telah mengumpulkan 500 nama untuk singa dan 200 nama untuk ular.” (Ash-Shahibi fi Fiqhil Lughah al-Arabiyyah, hal. 21-22).


Al-Fairuz Abadi—pengarang al-Qamus al-Muhith—menulis sebuah buku yang menyebutkan nama-nama madu. Beliau menyebutkan dalam kitab tersebut lebih dari 80 nama untuk madu, dan menemukan minimal 1.000 nama untuk pedang.


Bahasa Arab Dan Potensinya


Sesungguhnya setiap bahasa membawa kultur hadlarah masing-masing bangsa. Dengan mempelajari bahasa, kita sesungguhnya sedang belajar bagaimana sebuah bangsa hidup dari mulai berdirinya, kejayaannya, kekuatannya bahkan hingga kejatuhannya. Mengenal potensi mendasar sebuah bahasa ini akan menjadikan kita bisa memahami, bagaimana selayaknya sebuah bangsa belajar dari kelemahan dan kekalahan untuk kemudian bangkit.


Demikian juga bahasa Arab. Potensi bahasa Arab tentu tidak bisa dipisahkan dari peradaban Islam. Kita bisa melihat justru ummat Islam menjadi kuat di era-era kejayaannya dikarenakan potensi bahasa Arab menyatu dalam setiap sendi pemikiran(fikrah) mereka. Mempengaruhi gaya hidup dan visi misi kehidupan mereka baik sebagai individu maupun bernegara. Bahkan kitapun bisa melihat bahwa justru ketika bahasa Arab ini sedikit demi sedikit ditinggalkan, ummat Islam terkena penyakit kesukuan dan wathoniyyah(nationalisme), pada saat yang sama Islam sebagai sebuah peradaban besar mulai mengalami kesurutan dan kemunduran.


Ini ditegaskan oleh Amirul Mukminin, 'Umar bin al-Khatthab r.a.. Abu Bakar bin Abi Syibah menyatakan, “Kami telah diberitahu oleh 'Isa bin Yunus dari Tsaur dari 'Umar bin Yazid berkata, “Khalifah 'Umar telah menulis surat Abu Musa al-Asy’ari ra.


أَمَّا بَعْدُ فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ , وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ , وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ[1] ...وفي رواية: تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ، وَتَعَلَّمُوا الْفَرَائِضَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ

“Amma ba’du, perdalamlah as-Sunnah, dan perdalamlah bahasa Arab. Kuasailah bahasa Arab aI-Qur'an, karena al-Qur'an adalah kitab berbahasa Arab.” Dalam riwayat lain, “Pelajarilah bahasa Arab, karena bahasa Arab itu bagian dari agama kalian. Pelajarilah berbagai kefardhuan, karena ia pun bagian dari agama kalian.”


Bahkan di masa lalu, para sahabat menyebarkan Islam, dengan membawa al-Qur'an di tangan kanan, dan bahasa Arab di tangan kirinya. Imam as-Syafii menuturkan bahwa hukum mempelajari bahasa Arab adalah fardhu “ain: “Wajib bagi tiap Muslim untuk mempelajari bahasa Arab hingga kemampuannya bisa mengantarkannya untuk menunaikan kefarduan (yang ditetapkan kepada)-nya.”[Lihat, al-Imam Muhammad ‘Ali as-Syaukani, Op. Cit., hal. 1232]


Syaikh Islam, Ibn Taimiyyah, mengatakan: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama, dan mengetahuinya hukumnya fardhu yang diwajibkan. Sebab, memahami aI-Kitab dan as-Sunnah hukumnya fardhu. Sementara semuanya itu tidak bisa dipahami, kecuali dengan memahami bahasa Arab. “Suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna, kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib.“![Lihat, Ibid, hal. 1232]


Untuk hal ini para ulama mendefinisikannya menjadi dua: Pertama, hukumnya fardhu ‘ain, bagi tiap Muslim agar bisa menjalankan kewajibannya dengan baik dan benar. Kedua, hukumnya fardhu kifayah, jika lebih dari kewajiban yang pertama, misalnya untuk berijtihad. Mengingat hukum ijtihad itu sendiri adalah fardhu kifayah.


Mengembalikan Potensi Bahasa Arab


Sesungguhnya jika kita runut dan teliti lebih dalam, kondisi ummat Islam ketika bahasa Arab digunakan sebagai bahasa pemersatu negara maupun ketika ditinggalkan. Bahasa Arab memberikan pengaruh yang baik bagi ummat Islam ketika diterapkan sebagai bahasa resmi negara. 


Di dalam kitab At-Takatul Hizbiy disebutkan ada tiga potensi bahasa Arab yang tidak bisa dipisahkan dengan potensi Islam. Ketiga potensi itu adalah potensi disebarkan secara meluas (tawasu`), potensi menyebar (intisyar), dan potensi dari kemampuan bahasa Arab untuk memberikan pengaruh (ta`tsir).


Sedangkan kemerosotan ummat Islam justru dimulai ketika mereka mulai meninggalkan bahasa Arab. Semisal dengan ditinggalkannya bahasa Arab maka potensi ummat Islam untuk melakukan ijtihad menjadi menurun. Padahal ijtihad sangat penting dilakukan dalam kondisi kaum muslimin berada dalam zaman dimana teknologi dan pengetahuan berkembang pesat. Seandainya bahasa Arab adalah bahasa keseharian tentu jumlah mujtahid akan lebih banyak. Sebab salah satu syarat ijtihad adalah penguasaan akan bahasa Arab dngan baik. Dan kekayaan  teknologi ummat Islam akan jauh lebih banyak yang bisa di akomodir setelah terlebih dahulu dilakukan proses ijtihad memastikan kebolehan penggunaannya dalam kehidupan. 


Mudah-mudahan kedepan ummat Islam akan semakin membumikan bahasa Arab dalam setiap sendi kehidupan. Sekaligus bahasa Arab akan sekali lagi menjadi bahasa resmi dan bahasa komunikasi internasional sebagaimana ketika dulu peradaban Islam menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia. Kita perlu menguatkan azzam agar bahasa Arab ini tidak hanya dijadikan sebagai bahasa kelas dua atau sekedar pengetahuan semata. Namun menjadi bahasa yang kita cintai sebagaimana dalam hadits berikut,  “Cintailah bahasa Arab karena tiga hal, yaitu bahwa saya (Muhammad adalah orang Arab, bahwa Al Qur`an adalah bahasa Arab, dan bahasa penghuni surga di dalam surga adalah bahasa Arab.” (HR. ath-Thabrani)


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!