Wednesday, June 6, 2018

Memegang Tali Agama Allah


Oleh: Ayu Lestari, S.Pd (English Course Teacher dan Pengajar MI Khairul Ikhwan)


Ramadhan, bulan dimana Al-Qur'an diturunkan. Pada bulan ini salah satu amalan yang dianjurkan adalah membaca Al-Qur'an. Membuat target khatam Al-Qur'an dengan beragam cara, memakmurkan masjid dengan kegiatan tilawah Al-Qur'an bersama-sama, dan beragam aplikasi yang dapat diakses oleh smartphone untuk mentargetkan tamat Al-Qur'an dalam waktu yang diinginkan. Tentu saja keutamaan tilawah Al-Qur'an tersebut tertera dalam sabda Nabi : "Bacalah oleh kalian Al-Qur'an, sungguh Al-Qur'an itu akan datang pada hari kiamat menjadi syafaat bagi pembacanya." (HR. Muslim)

Al-Qur'an sebagai pedoman bagi umat manusia, Masih banyak yang berusaha menodai kesucian Al-Qur'an. Mulai dari pernyataan bahwasanya Al-Qur'an merupakan buatan bangsa Arab, termasuk Nabi Muhammad dan juga menganggap bahwa Al-Qur'an tidaklah cocok dengan perkembangan zaman yang serba modern ini. 

Pernyataan yang pertama dibantah karena hingga saat ini tidak ada satupun bangsa Arab ataupun Non Arab yang bisa membuat ayat seperti yang ada di dalam Al-Qur'an. Tantangan Allah untuk membuat ayat serupa dalam Al-Qur'an kepada manusia ini akan terus berlaku hingga hari kiamat. Jika memang Al-Qur'an adalah buatan Nabi Muhammad, pernyataan itu pun dapat dipatahkan dimana gaya bahasa Al-Qur'an berbeda dengan gaya bahasa Nabi dalam sabda nya. Tentu Al-Qur'an bukanlah rekayasa manusia dalam hal ini orang Arab maupun Nabi Muhammad saw. 

Pernyataan selanjutnya adalah bahwasanya hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur'an tidak sesuai dengan peradaban ini dan hanya bersifat sementara pada suatu zaman. Hukum yang dimaksud adalah mengenai Jilbab dan Kerdung bagi seorang muslimah, pembagian harta waris, potong tangan, qishash, jidad, riba dan lain-lain. Parahnya, kaum muslim itu sendiri seperti mengiyakan tuduhan tersebut. Meski pada bulan Ramadhan berbondong-bondong untuk khatam Al-Qur'an, namun mereka pun seakan jauh dari Al-Qur'an. Dengan kata lain tidak memegang Al-Qur'an sebagai acuan kehidupan. Sementara tuduhan mucul bahwa jilbab dan kerudung adalah tradisi bangsa Arab, banyak muslimah yang tidak menutup aurat mereka. Mereka lebih memilih mentaati perintah atasan mereka perihal berbusana, dan tidak menggubris perintah dalam Al-Qur'an. Selain itu kaum muslim sendiri yang menolak pembagian waris dimana perempuan hanya mendapatkan separuh bagian, dimana zaman ini banyak wanita yang bekerja dan bisa berkarya seperti laki-laki. Belum lagi perihal bunga bank yang menjadi salah satu andalan para kapitalis, dianggap bukan seperti riba. Dengan mudahnya kaum muslim sendiri yang mengatakan anggap saja seperti ucapan terima kasih. Maka dengan niat yang demikian tidak akan menjadi riba, dan asalkan pula nominal nya tidak berlipat-lipat. Saat sistem Islam banyak dicibir dan dikatai tidak sesuai untuk masa kini, umat muslim pun justru menolak sistem Islam sebagai sistem yang akan mengatur kehidupan. Mereka telah puas dengan sistem yang ada yang konon sudah memuat nilai keislaman. 

Sungguh saat mempritatinkan bukan? Pemikiran Kaum Muslim sudah diliputi oleh pikiran-pikiran lain yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur'an. Seharusnya saat persoalan baru, umat Muslim seharusnya menyandarkan segala hal agar sejalan dengan nash-nash Al-Qur'an dan makna-maknanya. Disini Ulama berperan sebagai yang merinci aneka macam persoalan-persoalan cabang dari kandungan ayat-ayat Al-Qur'an. Hal tersebutlah yang dinamakan ijtihad, dimana ijtihad harus sesuai tuntunan Syariat. Bagaimanakah sesuai tuntunan Syariat itu? Yaitu dengan menjadikan nash-nash Al-Qur'an sebagai 'hakim' atas berbagai masalah. Bukan menjadikan persoalan sebagai hakim yang malah nantinya merubah kandungan Al-Qur'an. 

Ayo berpagang teguh pada tali agama Allah..

Sikap seorang muslim yang seharusnya adalah mengimani Al-Qur'an dengan cara menerima seluruh isi kandungan Al-Qur'an. Tak seharusnya seorang muslim, berpaling dari kitab Allah ataupun memilih ayat yang sesuai kebutuhan dan meninggalkan sebagian ayat lain yang dianggap tidak sesuai dengan kehidupan masa kini. Mengingkari satu ayat saja telah membuat manusia terjerumus dalam kekafiran (Lihat: QS. An-Nisa ayat 150-151). Dengan meragukan kebenaran Al-Qur'an saja sudah diancam dengan ganjaran masuk neraka dan mendapat azab. 

Akibat serangan pemikiran barat, tidak sedikit yang bersikap diskriminatif terhadap Al-Qur'an maupun seorang muslim yang taat pada Al-Qur'an. Mereka terkadang diperlakukan tak biasa hingga melakukan penyerangan secara fisik. Seharusnya kaum muslim menyadari jika hukum Al-Qur'an yang diterapkan dalam tiap sendi kehidupan maka tidak akan hal demikian yang terjadi. Namun masih banyak saja yang meski diperlakukan demikian, menolak hukum Al-Qur'an yang ditegakkan di muka bumi ini. 

Apakah tali agama bisa begifu saja diterapkan dalam kehidupan bernegara?

Tentu saja tidak, Al-Qur'an berisikan seluruh aturan kehidupan yang wajib diterapkan secara menyeluruh. Inti nya perihal kecil hingga perihal besar dalam kehidupan. Tetapi ada sebagian hukum yang hanya bisa dilakukan oleh institusi negara. Seperti hukum-hukum yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan, ekomoni, sosial, pendidikan dan politik luar negeri. Dalam hal ini termasuk hukum pemberian sanksi terhadap pelanggaran Syariah. Hukum seperti itu tidak boleh dilakukan secara individu karena sah jika ada wewenang dari seorang Khalifah. Berdasarkan hal tersebut, jika ingin menerapkan Al-Qur'an dalam seluruh kehidupan maka keberadaan negara amatlah penting. Tanpa adanya sistem Islam yang mengatur maka mustahil sekali penerapan Al-Qur'an dapat diterapkan secara total. ^_^



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!