Friday, June 29, 2018

Membaca Arah Koalisi Keumatan


Oleh: Arin RM, S.Si*

Pembina Persaudaraan Alumni (PA) 212, Habib Rizieq Shihab, mengamanahkan untuk terus mendorong terealisasinya deklarasi terbuka koalisi keumatan (republika.co.id, 03/06/2018). Amanah tersebut disampaikan pasca Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PA 212 di Cibubur, Jakarta. Di kesempatan lain,  sejumlah pihak pun menilai peluang terbentuknya koalisi keumatan dinilai terbuka lebar (nasional.sindonews.com, 04/06/2018).

Koalisi keumatan menjadi ide yang menarik, mengingat belakangan ini suara umat kian diperhitungkan. Umat Islam Indonesia bisa satu suara untuk kepentingan agamanya. Rangkaian Aksi Bela Islam I, II dan III, dalam menuntut kasus penistaan agama beberapa tahun lalu, adalah bukti nyata yang menunjukkan bahwa daya tawar politik umat Islam memang semakin kuat. Ia adalah capaian luar biasa di tengah derasnya pelemahan terhadap umat Islam oleh musuh-musuhnya. Kekuatan posisi politis ini memang seyogyanya diarahkan agar umat benar-benar sampai satu suara dalam urusan penerapan syariat.

Kekuatan umat dalam mengawal syariat adalah sangat penting. Sebab tanpa menjalankan syariat, umat terbukti disekap oleh Barat. Tidak memiliki kedaulatan mutlak, termasuk dalam mempertahankan setiap harta dan aqidahnya. Dan sejatinya segala problematika yang dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah akibat jauhnya umat dari syariat. Semakin jauh, semakin tak mengenal bagaimana pengaturan syariat menyelasaikan urusan kehidupan yang beraneka ragam. Semakin dalam pula umat akan masuk pada aturan buatan manusia, yang mayoritas berasal dari Barat tadi. Bahkan hingga kini, aturan poros Barat ini eksis menancapkan hegemoninya dalam segala bidang. Sukses menyuguhkan berbagai turunan kehidupan sempit nan menyesakkan bagi kalangan bawah.

Alasan di atas mendasari perlunya kekuatan umat untuk terus dikawal. Perlu dipastikan agar umatlah yang mendesak untuk diakhirinya pengaruh Barat. Perlu diarahkan agar umatlah yang merindu untuk diatur dengan syariat dalam semua aspek kehidupan. Jangan sampai ketika mereka disatukan (dengan sebutan koalisi sekalipun) justru masuk dalam jebakan pragmatisme yang puas dengan pergantian penguasa semata. Sebab, ibarat mobil yang rusak, diganti oleh sopir sehebat apapun, laju dan kenyamanan dalam mobil tetaplah tak berubah. 

Demikian halnya dalam urusan kenegaraan, tanpa pembenahan sistem yang lepas dari pengaruh kapitalisme tentu akan sama saja rasanya. Hanya beda rupa dan warna, hakikatnya sama saja. Sama-sama bukan aturan main yang berasal dari sang Pencipta. Padahal sang Pencipta telah mengingatkan dengan firmanNya: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti Wali (Pemimpin/sahabat/sekutu) lainnya.” ( TQS Al-A’raf: 3).

Sehingga, sungguh sangat disayangkan apabila takaran kesuksesan kekuatan umat hanya dinilai dari dipimpinnya umat oleh penguasa yang tampak islami dan pro rakyat. Sebab, sejarah Indonesia beberapa tahun lalu pun telah mengajari kita. Bahwasannya kemenangan penguasa muslim yang tidak disertai oleh kemenangan aturan Islam sebagai satu-satunya acuan dalam kehidupan bernegara, belum tuntas menjadikan umat Islam berdaulat dan bermartabat. Umat masih sama dalam cengkeraman kapitalis. Kesejahteraan masih sebatas impian, sebab sumber kekayaan alam masih terus dijarah asing atas kongkalingkong sekelompok elit. Permainan politik masih diwarnai simbiosis kepentingan. Dan faktanya kemaksiyatan masih sulit dihentikan. 

Tentunya keadaan seperti itulah yang perlu dirubah. Kesatuan kekuatan umatlah yang memainkan peran pentingnya. Sehingga, sekali lagi koalisi keumatan sangat perlu untuk diarahkan pada pencapaian kesuksesan hakiki. Menjadikan Islam dan segenap aturannya sebagai aturan tertinggi untuk mengurusi negeri ini. [Arin RM]


*freelance author, member of TSC



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!