Friday, June 8, 2018

Konsumtif Jelang Lebaran, Kamukah?


Oleh : Dwi Listianingsih, S.Pd.

Tak terasa, kita sudah memasuki masa 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Sebentar lagi kita akan berpisah dengan tamu agung yang penuh berkah dan ampunan. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, hal yang paling dinanti-nanti oleh sebagian besar kaum muslim adalah tunjangan hari raya. Anak-anak akan menunggu THR dari orang tua mereka berupa pakaian dan sepatu baru. Para pegawai akan mendapat tunjangan dari perusahaan tempat ia bekerja. Termasuk para Pegawai Negeri, Tentara dan Polisi yang akan mendapat THR dari Pemerintah. Lumayan untuk tambahan uang saku saat mudik ke kampung halaman bagi para perantau. Atau sebagai tambahan uang belanja menyambut hari lebaran. 

Berbagai macam persiapan pun dilakukan, antara lain membeli baju baru, membuat berbagai macam kue kering, atau merenovasi rumah hingga membeli perabotan baru. Naiknya harga berbagai macam kebutuhan di bulan Ramadan ternyata tidak menyurutkan niat mereka berbelanja. Disamping adanya beberapa kebutuhan yang memang harus dipenuhi, kebiasaan yang ada di masyarakat menyebabkan mereka menganggap hal-hal yang mubah seolah menjadi wajib. Seperti yang sudah disebutkan di atas, berbelanja baju baru ataupun membuat aneka macam kue lebaran. Hingga tak sedikit yang kemudian meninggalkan shalat tarawih. Masjid-masjid yang semula penuh dengan jamaah hingga ke halaman, kini tinggal beberapa shaf saja. Entah karena lebih suka tarawih di rumah, atau  kelelahan setelah seharian memilih pakaian dan membuat kue kering. 

Akibatnya, promosi dari Allah berupa pahala berlipat ganda di penghujung bulan Ramadan dan iming-iming malam Lailatur Qadr, tak lebih menarik dari promosi penjual pakaian dan kue-kue lebaran. Bahkan, sejak awal memasuki bulan Ramadan, berbagai iklan telah menghiasi layar kaca untuk menarik minat konsumen. Dengan adanya tunjangan hari raya bagi pegawai, maka semakin terbuka luas pintu menuju perilaku konsumtif. Buktinya, saat ini pasar-pasar dan pusat perbelanjaan telah penuh sesak dengan orang-orang yang berbelanja. Tua muda, laki-laki perempuan, dewasa anak-anak akan berdesak-desakan di dalam pasar. Tujuan mereka sama, membeli pakaian baru.  

Siapa yang diuntungkan dengan moment Ramadan saat ini? Tentu saja para pengusaha. Tidak sia-sia mereka meluncurkan berbagai macam iklan untuk menarik para konsumen. Bahkan tanpa mereka beriklan pun, tetap saja mereka akan meraup keuntungan. Karena perilaku konsumtif ini sudah membudaya di benak kaum muslim. Inilah salah satu bentuk penjajahan yang tak dirasakan oleh kaum muslim. Melalui 3F, Food, Fun, dan Fashion.

Padahal, Islam hanya menganjurkan untuk mengenakan pakaian yang bersih dan indah. Atau, pakaian yang terbaik yang kita miliki, bukan pakaian baru. Meski tidak ada larangan untuk membeli pakaian baru di hari lebaran. Akan tetapi, budaya fashion saat ini menjadikan masyarakat merasa dituntut untuk terus mengikuti trend busana yang ada. Apa yang artis kenakan, mereka harus memakainya. Bahkan mulai tak mengindahkan aturan bepakaian dalam Islam, hingga berujung pada tabarruj.  Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab:33). 

Budaya konsumtif sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Terlebih lagi di bulan Ramadan yang suci. Seharusnya, bulan Ramadan menjadi sarana bagi kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Salah satu hikmah puasa di bulan Ramadan adalah kita dapat ikut merasakan penderitaan orang-orang yang kurang beruntung. Dan di bulan ini pula kita dianjurkan untuk berbagi dengan mereka yang kekurangan harta. Bukan malah menghambur-hamburkan harta kita secara boros. Allah SWT berfirman, dalam Quran Surat Al Isra ayat 26 yang artinya :

”Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”.(QS. Al Isra: 26). 

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, di antara keduanya secara wajar.”(QS. Al Furqon:67)

Mari kita lihat sekeliling kita, adakah saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Jangan lupa bahwa di setiap harta kita miliki, ada hak bagi saudara-saudara kita. Jangan sampai kita termasuk golongan orang yang konsumtif menjelang lebaran Jadikan momen akhir Ramadan ini untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan, agar kita dapat meraih gelar takwa yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. 

“Hai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Wallahu a’lam bishowab.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!