Sunday, June 17, 2018

Ketupat


Oleh : Sunarti

Ngawi, 14 Juni 2018


Hari terkhir Ramadan. Rumah Mak Tum ramai penghuni. Dari rumah depan hingga dapur sekarang ada yang menempati. Pak Min dan Cak Jo ngobrol di rumah depan, di atas tikar. Di rumah belakang ada Opik, Alul, Adit dan Pandi sedang bersenda gurau. Di dapur ada Mak Tum dan Mbakyunya, Yu Sri. Sementara Siti Besar (anak Mak Tum), Siti Kecil (anak Yu Sri) Nida dan Nisa sudah sejak pagi keluar, hendak jalan-jalan. Bukan ke mall atau ke alon-alon, tapi keliling kampung. Mereka menuruti permintaan Siti Kecil untuk jalan-jalan melihat sawah dan sungai.


Di ruang depan TV ada tikar yang juga digelar. Opik, Alul, Adit dan Pandi, tidak menyia-nyiakan moment mereka bertemu. Mereka langsung akrab, meskipun sekian tahun tidak bertemu. TV memang sengaja tidak dinyalakan, mereka fokus pada obrolan. "Di dapur Mak mau bikin apa to, Mas?" tanya Pandi pada Adit.


"Kemarin katanya Budhe Sri mau bikin ketupat/kupat. Tadi sehabis sahur, Pak dhe Jo sudah menganyam janurnya. Itu yang beberapa hari lalu dibeli Mbak Siti", jawab Adit.


"Heleh, kon iku sok ngerti", canda Alul pada Adit. Yang digitukan senyum-senyum saja.


"Iyo, Mas. Tenin aku ra mblethuk", Adit wajahnya serius.


"Kenapa lebaran harus ada ketupat, Mas?" tanya Pandi pada kakak-kakanya.


"Sebenarnya tidak harus. Itu tradisi saja. Secara hukum tetap mubah. Karena kupat itu makanan halal, maka boleh untuk dijadikan hidangan saat lebaran. Tapi bukan berarti menjadi wajib", jelas Opik. Pandi manggut-manggut.


Giliran Adit angkat bicara, "Ada yang tahu kenapa dinamakan kupat?" Yang lain pada diam. Lalu Adit senyum-senyum menunggu yang lain menjawab. Beberapa saat, Adit memandangi wajah saudaranya satu persatu, "Kok pada mirip saya, ya?" kata batinnya.


"Aku mau cerita, mau dengar apa tidak?" tanya Adit. Kali ini dia berlagak.


"Mau", jawab saudara-saudaranya. Ini membuat Adit jadi berbunga-bunga. Dengan sedikit lagak, dia ambil kopyah di atas TV. Dipakainya kopyah, sambil berkata, "Dengar ya, murid-muridku kalian para santriku!".

Yang lain pada tertawa ngakak. Tapi bukan Opik namanya kalau tidak bisa momong. "Gaya, kon iku. Yo wes aku manut saiki. Inggih Mbah Yai", kata Opik sambil mengelus pundak Adit.


"Begini ya, dengarkan kalau Mbah Yai cerita. Dulu Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan kupat pada masyarakat Jawa. 


Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali bakda yaitu bakda lebaran dan bakda kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Yaitu ketupat atau kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat.

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.

Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku lepat setelah Idulfitri datang. Saling meminta dan memberi maaf. Kalau kita kepada Bapak dan Emak ada sungkem. Nah, tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.


Laku Papat ata jalan empat. Yaitu :

1. Lebaran

Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. 2. Luberan.

Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.

Pengeluaran zakat fitrah.

3. Leburan.

Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

4. Laburan.

Berasal dari kata labur (cat dari gamping/batu kapur), dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.

Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya", jelas Adit PD. Lantas dia mengamati lagi wajah saudara-saudaranya. Mereka manggut-manggut seperti mendengarkan tauziyah Pak Ustad. "Ada yang tahu, kenoa kupat dibuat dari janur/blarak?" tanya Adit lagi.


"Kalau yang dibuat dari daun pisang, diisi beras, itu kata Emakku, namanya lontong atau tepo", jawab Opik. Sambil tertawa terkekeh dia sentuh-sentuh pinggang Adit. Yang disentuh tambah tertawa pecicilan. Alul dan Pandi masih terkekeh.


"Dengar ya, ra Santriku!" sambung Adit lagi. "Nggih. Mbah Yai" jawab yang lain sambil menahan ketawa.


"Kpat atau ketupat kenapa mesti dibungkus janur? 

Janur, diambil dari bahasa Arab "Ja'a nur" yang artinya telah datang cahaya. 

Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.

Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.

Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya" lanjut Adit.


"Nggih, Mbah Yai", kali ini Pandi yang menjawab. Yang lain masih menahan tawa dengan ligat Adit yang memirip-miripkan Pak ustad.


Sekian


Ramadan Hari ke 29, bersama keluarga Mak Tum

#RamadanBersamaRevowtiter

#RamadanBulanPerjuangan

#GerakanMedsosUntukDakwah


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!