Wednesday, June 20, 2018

Kenangan Menulis Mengerikan dan Menegangkan Ala FLP JATIM


Oleh : Titik Hidayati


Jika kamu bukan putra raja atau bukan putra seorang bangsawan maka jadilah penulis. (Al-ghazali)

Kata tersirat yang mengandung banyak makna dari seorang ulama’ besar. Makna yang mendalam menyisakan banyak kenangan bagi orang yang sempat membacanya. Anak seorang raja akan diingat karena kekuasaan orang tuanya. Anak seorang bangsawan akan diingat karena kebangsawanan orang tuanya. Kalau hanya anak orang miskin, anak petani, mereka akan diingat karena apa oleh dunia? Ingatan yang tak akan pernah usang karena lapuknya suatu masa, ya dengan menjadi penulis. Hanya dengan menjadi penulis kita akan dikenal dan akan memberikan banyak manfaat kepada seluruh dunia karena tulisan itu. Begitu juga sebaliknya, apabila tulisan kita mempunyai makna negatif, penulis akan mempunyai investasi dosa atas tulisan itu karena sudah banyak yang mengamalkan kepada hal yang negatif.

Kita kenal dengan Ibnu Sina bapak kedokteran muslim hingga di barat beliau dikenal dengan Aviecena yang hingga hari ini diingat ahli ilmu kedokteran dengan tulisan kitabnya yang dikenal hingga hari ini yaitu At-Tib. Imam syafi’ie dikenal hingga hari ini sebagai orang yang faqih di dalam ilmu fiqih dan hafal al-Qur’an 30 juz di umur yang masih belia dengan karya masyhunya yaitu kitab Al-Umm.

Begitupun dengan saya. Sayapun juga ingin dikenang dan memberikan banyak inspirasi positif untuk umat abad ini dengan karya juga. Ingin sekali bisa dikenang juga hingga masa yang akan datang, sehingga pahala investasi bisa mengalir deras sampai akhirat nanti. Hingga menulis menjadi darah daging yang tak bisa dipisahkan. Namun itu ternyata tak semudah kita mengucap dan mengkampanyekan dalam ucapan. Sepertinya mudah kalau hanya ingin menjadi penulis dalam ucapan, tapi berat di actionnya. Makanya butuh sahabat yang handal dalam menulis agar bisa istiqomah. Punya sahabat yang suka menulispun itu tak menjamin bisa istiqomah menulis. Saya sering ikut berbagai group WA untuk bisa menulis istiqomah, hingga akhirnya beberapa kali  di DO dari group.

Bertemu dengan teman-teman FLP dan masuk FLP (Forum Lingkar Pena) serta masuk group Whatsapp FLP Jawa Timur sehingga membuatku banyak memberi wawasan meskipun tak pernah bertemu muka. Ada pak Rafif Amir yang sudah punya banyak buku. Afifah afra, ada teh Titaq. Ada Bunda Sunta Yudisia selain bukunya banyak, beliau juga adalah seorang terapis. Dan juga pernah teman-teman FLP Jatim mengundang Pipiet Senja untuk menjadi pemateri di group WA. Ada Gol A Gong, Habiburrahman yang kemudian hari saya kenal dari FLP pusat. Subhanallah! Luar biasa sekali.

Program kerennya lagi dari FLP Jatim kelas Reading Challenge. Benar-benar mengajari saya istiqomah membaca, hingga ketika bacaan yang tak ada lafadznya seperti buku berpikir dan berjiwa besar dibawa ketika sering masuk kamar mandi karena bermasalah dengan perut.  Akhinya tetap saja membuat saya tumbang di tengah jalan. Hingga karena sering tidak daftar ketika kelas dimulai, tiba-tiba saya dikeluarkan juga hanya pada tingkat ke dua. Jadi karena saya tidak bisa fokus dengan baca dan menulis secara bersamaan, saya memutuskan untuk mengambil yang Wi-Cha (Writing Challenge) atau kelas menulis saja.

Di kelas menulis ini, ingin sekali jadi yang terbaik. Tapi tetap saja ternyata saya tak bisa menulis banyak. Pada kesimpulan akhir yang penting saya tak di DO dari group. Meskipun sempat beberapa kali di DO dari kelas karena tak laporan, yang penting tak di DO dari group. Tapi tetap saja saya ingin bertahan hingga akhir di kelas ini. Biar bagaimanapun, menulis ingin sekali saya bisa sangat mencintai menulis.

Dari sini saya belajar, meskipun capek karena kerja dan tugas-tugas banyak menumpuk. Tapi jam 02.00 malam sering bangun untuk memeriksa group, apakah sudah laporan atau belum. Karena terbiasanya sering terbawa mimpi kalau belum laporan. Kadang kaget di tengah malam sekitar jam 00.00 bangun hanya karena teringat kalau hari ini belum menulis. Subhanallah! Meskipun saya tak suka dengan keadaan ini, tapi saya suka dengan cara teman-teman memaksa agar saya bisa istiqomah menulis. Hari-hari itu saya ingin melaluinya dengan baik dan penuh semangat. Alhamdulillah meskipun sering terpaksa menulis, tapi jadi rutin juga minimal sekali mengirim ke media dalam satu minggu. Hingga di kelas Senior Wi-cha ada target tiap minggu kirim ke media, hal itu tak berat sama sekali bagi saya. Karena saya menulis itu berpikiran, ya sekalian. Sekalian nulis, bagamana caranya bisa di kirim ke media. Dapatnya dua, ngirim ke media dan menggugurkan kewajiban.

Suatu hari  masih di kelas Senior Wi-cha, bulan puasa yang baru-baru ini selesai itu ada kejadian yang menghebohkan. Ada tugas dari sekolah hingga membuat saya mengerjakannya di rumah teman. Rumah teman yang pelosok itu, sinyal sangat sedikit. Kalau mengirim hingga di bawa tidur. padahal hari itu adalah terakhir nulis sesuai tema dan kirim ke media. Membuat saya mondar mandir cari sinyal. Di mana sinyal yang menurut kalian paling bagus? Jawabannya ada di depan kamar mandi. Untuk ngirim laporan jumlah menulis saja hampir tiga jam. Sungguh perjuangan yang super juga. Selesai laporan, bukti kirim ke media dan file menulis sesuai tema tidak kunjung terkirim juga. Akhirnya karena sudah lelah dan takut sahur tidak bangun, saya bawa ke kamar saja. Hingga jam tiga dini hari semuanya belum tekirim. Ingin rasanya nangis, tapi tidak mungkin. Ternyata benar-benar tidak ada ampun, meskipun saya memberikan bukti kalau saya sudah ngirim. Tetap saja itu taka da ampun. Akhirnya dalam satu hari saya harus di denda dua kali.

Setelah itu saya mulai serius dan mencoba memahami zona sinyal. Sinyal kalau sudah tidak enak, berarti harus dipaksain nulis sesuai tema dan ngirim ke media jauh-jauh hari sebelum hari H. Saat ini di Senior Wi-cha nyawa saya tinggal satu. Padahal hanya tinggal dua hari akan selesai. Satu kali teledor, bisa-bisa saya akan di DO lagi dan mengulang kembali dari awal. Ikut kelas menulis ini membuat saya tak bisa tidur, tinggal dua hari masih ada tugas ngirim ke media dan buat kesan selama kelas berlangsung. Otak terus berpikir bagaimana caranya agar bisa satu jalan tapi semuanya terselesaikan. Hingga akhirnya liburan yang seharusnya fokus bantu ibu jagain padi di sawah, tetap saja tak ingin lepas dari buku dan pen takut ada ide yang melayang tak sempat tertuliskan. Benar-benar memaksa saya untuk istiqomah menulis. Terima kasih untuk program ini, sadis tapi membantu saya untuk bisa menulis tiap hari. Sempat berpikir, seperti apa hebohnya kelas berikutnya. Semoga masih mampu untuk mengatasinya hingga akhir! Terima kasih untuk para pengurus dan segenap tim atas kehebohan di dalam kelas. Semoga bisa berhasil hingga akhir. Keren!


Penulis: Titik Hidayati

Aktif di FLP Cabang Pamekasan



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!