Wednesday, June 20, 2018

"KECEWA" Politik Pencitraan Jelang Pemilu ala Sistem Demokrasi


Oleh : Siti Ruaida. S.Pd

Hangatnya aroma pemilu    

Mulai terasa dengan hadirnya pencitraan yang dilakukan oleh bakal calon yang akan bertarung di ajang  pemilu yang akan datang, dengan stategi  jeli mencari peluang melalui moment yang sekiranya bisa dijadikan ajang  untuk mengenalkan diri kepada masyarakat dengan harapan bisa meraih simpati dan meraup suara dari masyarakat.


Memanfaatkan moment tahun baru, beredarlah kalender baru.Memasuki bulan Ramadahan ramai safari Ramadhan, saat moment lebaran beredarlah ucapan selamat yang dipenuhi wajah dan segudang aktivitas si bakal calon yang akan berlaga di pemilu yang akan datang, baik di spanduk yang berseleweran dijalan maupun yang bisa kita saksikan dilayar kaca setiap hari.

Khusus untuk daerah yang religius,pastinya dengan mengadakan kegiatan keagamaan apakah dengan nama konser penggalangan dana untuk Palestina. Gebyar maulid  ataupun mendatangkan penceramah terkenal, group band religius atau apalah namanya yang penting bisa mengenalkan diri  kepada masyarakat dan bisa mengumpulkan masyarakat supaya mendapatkan perhatian dari mereka. Lebih khusus untuk memperkenalkan diri sebagai calon pemimpin.


Tindakan yang lebih ekstrem lagi dalam rangka memperkenalkan diri dengan memasang baleho.yang ini tentu curi start alias kampanye sebelum waktunya. Inipun bisa ditampik dengan berkilah, itukan inisiatif relawan  bukan intruksi pengurus partai.


Ya begitulah mereka selalu ada cara dan strategi untuk kepentingan mereka dan partai untuk meraih simpati dan meraup suara di PILKADA yang akan datang. Ini adalah kondisi yang selalu terjadi di sistem Demokrasi.

Terbayang mereka menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk mencapai tujuan, tentu ini  bagi mereka hanya modal yang tidak seberapa dibandingkan keuntungan  yang sudah terbayang di depan mata ketika mereka berhasil dalam ajang pemilu nanti.

Pertanyaannya apakah  keuntungan yang didapatkan oleh rakyat kalau para kandidat tadi berhasil terpilih. Apakah nasib rakyat akan otomatis berubah seiring dengan perubahan status sosial dan ekonomi si kandidat terpilih; tentu akan mudah sekali menjawabnya bahkan tidak perlu dijawab.

Fakta kondisi rakyat yang berbicara tambah hari bukan tambah  sejahtera tapi semakin tercekik dengan kebijakan yang mereka lahirkan, inilah buah yang harus di telan oleh rakyat.

Harga-harga kebutuhan pokok yang kian meroket, yang membuat emak- emak menjerit galau tanpa pertolongan, dan akhirnya harus menerima keadaan dengan banyak istigfar dan segudang cadangan sabar, agar tetap terlihat eksestensinya sebagai emak super hebat.

Petani menangis, membayangkan kabut tebal nasib yang tidak jelas. Setiap hari    bermandikan peluh untuk mendapatkan padi yang unggul tapi harus berhadapan  dengan importir beras yang mendapatkan restu dari pemerintah, untuk mendatangkan berton-ton beras.

Kisruhnya sistem pendidikan, bongkar pasangnya kurikulum yang membingungkan pendidik dan peserta didik dan mahalnya biaya pendidikan menjauhkan dari cita-cita   untuk mencetak generasi berkualitas.

Masalah-masalah sosial yang meresahkan, mulai dari kenalan remaja, bullying, kriminalitas yang menjamur,  hilangnya norma sosial dan norma agama, kasus LGBT, pedofil sang predator anak beraksi  semua tanpa kendali. Dan sejuta persoalan lainnya yang menyesakkan dada. dan menjadikan keamanan dan kenyaman adalah hal langka yang sulit untuk diraih. Beginilah pemandangan yang dihadapi oleh rakyat, tanpa pertolongan , dan tidak tahu kemana harus mengadu.

Apakabar para  elite politik dimanakah kalian, apa yang sudah kalian lakukan untuk kami, mana janji manis mu, mana sesumbar mu, lagi lagi kami harus menelan ludah kekecewan super berat, lelah yang tiada batas.Akan kami adukan kalian kepada Tuhan kami. Tunggulah tunggulah akan ada waktunya.Beginilah potret kepemimpinan di negeri yang kita cintai, ketika aturan yang digunakan tidak berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan, tapi  pada nilai dan aturan yang dibuat berdasarkan hawa nafsu manusia untuk kesenangan sesaat dan kepentingan  golongan elit politik. Untuk kepentingan politik mereka berapa banyak uang negara yang sudah digelontorkan. Padahal sejatinya itu adalah uang rakyat yang seharusnya digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.Kembali rakyatlah yang menjadi korban.

Apalah daya nasi sudah menjadi bubur kita sudah mengambil sistem demokrasi yang merupakan warisan Belanda. Susah payah     pendahulu kita mengusir penjajah . setelah mereka berhasil diusir malah bisa-bisanya kita mewarisi sistem mereka dengan menerapkan aturan yang sama yang mereka terapkan ketika menjajah kita.

Kecewa , sedih,miris itu pasti dengan kondisi yang negeri ini hadapi, apakah kita berdiam diri,merelakan negeri ini diacak-acak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Pertanyaannya selanjutnya apakah kita tidak menginginkan perubahan, "masih merasa nyaman dengan warisan penjajah "atau bahkan dengan senang hati dan penuh kerelaan memàkai sistem demokrasi  dan menjadilanya kendaraan 

untuk mencapai tujuan bernegara. Ini sama halnya kita melegalkan kembali untuk dijajah ala sistem demokrasi.

Pengalaman berdemokrasi selama 70 tahun kirànya sudah cukup untuk mengukur kelayakan dan kepantasan sistem ini untuk dipertahankan. Saatn seluruh elemen bangsa berpikir out of the box. Dalam arti secara jernih dan obyektif menilai baik buruknya sebuah sistem kehidupan.

Sebagaai manusia yang percaya kepada sang pencipta yang maha pengatur. akhirnya kita harus mengakui kelemahan kita sebagai yang diciptakan alias hamba Allah. Hanya kepada Allah lah kita mengembalikan. Allah menciptakan kita beserta seperangkat aturan. Maka sewajarnyalah kita menerapkan aturan Allah, sebagai bentuk keyakinan kita akan maha sempurnanya Allah dalam membuat semua aturan untuk menuntaskan segala problema kehidupan manusia.

Wallahua'lam

Penulis adalah Pengajar di MTs. P. Antasari Martapura

Member AMK Kalsel



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!