Saturday, June 30, 2018

Karena Menyusui Tak Sekedar Memberi ASI


Oleh: Ratna Dewi Putika Sari


Hari ini, saat Atikah berusia 6 bulan, hari pertama memulai MPASI. Teringat perjuangan sejak hari pertama kelahirannya hingga akhirnya dimampukan Allah menyusui eksklusif (bukan hanya ASI Eksklusif) selama 6 bulan. Ada kelegaan tersendiri bisa sampai di titik ini. Ada syukur yang teramat sangat karena Allah limpahkan kemudahan melalui dukungan dari orang-orang terdekat. 


Amru bin Abdullah ra, seorang sahabat Rasulullah saw pernah berkata kepada istri yang menyusui bayinya : "Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah swt."


Iya, menyusui bagi sebagian orang terlihat sederhana. Toh memang sudah alamiahnya ibu menyusui anak-anaknya. Sebagian ibupun ada yang menjalani proses menyusui dengan biasa-biasa saja, seolah tak ada yang istimewa. Bahkan ada  yang berniat dari awal ingin memberikan susu formula saja. Ada pula yang mencukupkan ASI diumur 6 bulan padahal masih mampu menyempurnakan persusuannya hingga 2 tahun.


Menyusui, bukan sekedar memberikan nutrisi pada bayi yang belum bisa dan belum siap menerima asupan selain ASI. ASI adalah nutrisi terbaik yang tidak bisa disamai oleh susu formula semahal apapun. ASI adalah keajaiban dari Allah, penyambung tali kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Menyusui adalah keistimewaan seorang wanita yang bergelar "ibu". Ada penelitian yang menyatakan bahwa anak yang menyusu langsung memiliki ikatan yang lebih kuat dengan ibunya. Hal ini tentu akan menjadi bekal dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak ke depan. Anak yang dekat, biasanya lebih mudah untuk diajak taat.


Terlebih lagi, para ibu pasti merasakan ada bahagia saat menatap wajah si kecil dalam jarak pandang posisi menyusui. Ada keharuan saat mata indahnya menyusuri lekuk wajah kita, ibu, makhluk pertama yang dikenalinya. Ada kegembiraan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat tangan mungilnya menyentuh wajah kita.


Ah, kebahagiaan di dunia saja sudah seindah ini. Apalah lagi jika diniatkan menyusui dalam bingkai ibadah, penghambaan kepada Allah. Menyusui adalah perintah-Nya, bertabur pahala, menuai berkah, dan semoga berujung di Jannah. Allah muliakan ibu menyusui dengan rukhshah puasa. Allah perintahkan para ayah memenuhi kebutuhan, menjaga, dan membahagiakan para ibu saat menyusui anaknya. Bahkan jika ibu itu ditalak sekalipun, syariah memerintahkan agar si ayah membayar upah atas persusuan anaknya.


Ibu menyusui harusnya tak boleh bersedih, tak boleh tertekan, tak boleh berkekurangan. Tapi hari ini, masih ada ibu-ibu yang tidak bisa menyusui eksklusif, tidak mampu menyempurnakan persusuan hingga 2 tahun, bahkan ada yang tidak mau menyusui anaknya dengan alasan kecantikan.


Ada apa dengan para ibu? Apakah ini sekedar salah mereka? Ataukah mereka teralihkan dari fitrahnya karena godaan dunia? Ataukah mereka dipaksa keadaan karena harus bekerja? 


Jika dulu di masa Khalifah Umar bin Khattab ra, beliau memberi upah kepada ibu-ibu yang menyusui anaknya. Kemudian beliau menjadikan upah tersebut diberikan di awal persusuan karena mendengar kabar ada ibu yang menyegerakan menyapih anaknya karena ingin mengambil upah dari sang Khalifah. Sungguh kita rindu, penguasa yang memperhatikan kualitas generasi bahkan sejak awal memastikan asupan nutrisi terbaiklah yang sampai kepada mereka. Penguasa yang memperhatikan kesejahteraan ibu agar mereka optimal dalam peran mulianya. Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendidik generasi terbaik, generasi pemimpin.


Generasi pemimpin hanya lahir dari asuhan ibu yang terjamin. Terjamin nafkahnya, terjamin kebahagiaannya, terjamin kualitas keluarganya, terjamin kebaikan lingkungannya, dan terjamin kekuatan sistem yang menaunginya.


Ah, sungguh kami, para ibu, bahkan urusan menyusui saja telah membuat kami rindu, hidup berkah dalam naungan Khilafah. Karena menyusui tak sekedar memberi ASI.[]


*) Ibu Peduli Generasi, Anggota Komunitas Muslimah Banua Menulis


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!