Sunday, June 17, 2018

Kala Merindunya adalah Keharaman


Oleh: Azma Nasira Sy


Dia gadis usia 21 tahun yang duduk di bangku kuliah semester 4. Kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Banjarbaru dengan mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Rahma, kawan-kawan kuliah memanggilnya. Ukhti Rahma, kawan-kawan aktivis dakwah menyapanya.

Gadis lahiran tahun 1994 silam ini tinggal di kos-kosan tak jauh dari kampus tempat dia kuliah. Itung-itung bisa menghemat uang bulanannya. Tentunya, anggaran untuk transportasi ke kampus bisa dialihkan untuk kebutuhan bulanan yang lain. Apalagi seringkali Rahma harus membeli buku untuk bahan referensi mata kuliah dan untuk keperluan photo kopi tugas-tugas kuliahnya.

Aktivitasnya sebagai aktivis dakwahpun tak lepas dari urusan uang. Misalnya untuk infaq bulanan dan membeli media dakwah. Media dakwah ini dia gunakan untuk bahan diskusi dengan kawan-kawan kampusnya. Satu lagi, dia juga perlu uang untuk naik angkot saat menuju majelis ilmu yang lumayan jauh dari kosnya.

Dakwah. Bukan dakwah yang berdiri di atas mimbar yang megah dengan suara lantang yang menggelegar. Namun dakwahnya dalam lingkup keluarga, kos-kosan dengan kawan satu kosannya, dan kampus dengan kawan sekampusnya. Amar ma’ruf nahi mungkar. Mengajak kepada yang baik dan mencegah terhadap yang mungkar(buruk).

Begitulah dakwah menempanya agar menjadi manusia yang taat. Setiap minggunya Rahma dibina untuk terus menjadi manusia yang lebih baik dan bertambah baik lagi. Dengan bekal ilmu dan pembinaan, Rahma melanjutkan dakwahnya kepada keluarga, kawan kos dan kawan kampus. Tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Dari pembinaan yang rutin, Rahma menjadi Lebih mengenal agamanya sendiri. Siapakah yang patut disembah? Siapa yang layak dijadikan idola? Siapa yang saudara dan siapa yang musuh? Dia dapatkan banyak ilmu dari pembinaan yang dia ikuti semenjak dia duduk dibangku SMA kelas XI.

Rahma adalah sosok muslimah yang sedang hijrah(proses perubahan diri ke arah yang lebih baik). Karena manusia tentu tidak ada yang sempurna. Hanya Rasulullahlah manusia sempurna yang tidak pernah melakukan dosa. Makanya beliau disebut sebagai nabi dan rasul yang ma’sum(bersih dari dosa). Pantas, jika Allah menjadikan beliau sebagai teladan bagi umat Islam.

Rahma, sebelum hijrah. Dia sama dengan gadis-gadis remaja lainnya. Merasakan jatuh cinta dan dicintai. Cinta yang buta terhadap makhluk sehingga melupakan larangan rabbnya. ketika itu hatinya belum tertunjuki. Dia belum mengerti hakikat cinta yang sebenarnya, bagaimana jalannya, dan dengan siapa cinta itu lebih didahulukan.

Masalahnya. Meskipun kini Rahma telah berhijrah. Sosok masa lalu itu masih saja belum pergi. Sepertinya dia(masa lalu) masih nyaman berlama-lama di dalam pikiran Rahma dan malas untuk beranjak pergi. Awalnya, Rahma merasa tidak terganggu. Dia pikir, apa yang selama ini ada di dalam pikirannya akan pergi seiring waktu berlalu.

Namun Rahma salah, sosok masa lalu itu justru masih lekat diingatannya. Mengganggu kegiatan dakwahnya. Mengusik perasaannya, bahkan membuatnya seolah-olah tak masalah jika harus kembali menyapa masa lalunya. Ahh, kacauu... Rahma  galau. Padahal, dia sudah bertekad dalam dirinya bahwa tak boleh ada perasaan galau dihati pengemban dakwah hanya karena seseorang yang belum halal. Sebab sejatinya ada Allah yang maha segalanya yang seharusnya dengan mengingat Allah saja hatinya menjadi tenang.

Rahma bukanlah bidadari ataupun malaikat yang suci. Dia hanyalah seorang perempuan yang hijrah untuk memperbaiki diri. Sangat mungkin, jika dia masih saja melakukan kesalahan di dalam jalan ini. Oohhh, jalan hijrah yang dia lalui ternyata tak selicin sabun mandi. 

Akhirnya, Rahma membuat sebuah keputusan. Dalam keadaan seperti itu tidak akan membuat hijrahnya berhasil. Rindu sosok di masa lalu hanya membuatnya lupa diri. Terus mengingat seseorang yang bukan mahram adalah sebuah keharaman. Aahh, akhirnya ilham itu datang. Datang bersama kepasrahan.

“Kala merindunya adalah sebuah keharaman. Maka ku alihkan rasa rinduku kepada sang pencipta rasa rindu”, Rahma mantap dengan kata-kata sok bijaknya, hehe. Fix. Dia kembali fokus dengan dakwah dan kuliah. Merelakan sosok itu pergi dan siap menerima sosok lain suatu saat nanti.

Waktu terus berlalu. Saat ini dia sudah berada dipenghujung kuliahnya. Tinggal satu langkah lagi maka dia sudah meraih gelar sarjana. Dakwahnya pun sudah menunjukkan peningkatan, meski tak luar biasa. Tak apalah, suatu saat pasti Allah menunjukan apa kelebihanya.

Apa kabar sosok masa lalu? Alhamdulillah sejak dia mantap dan berniat untuk merelakan, kini hatinya benar-benar terisi dengan rasa cintanya terhadap dakwah. Rahma juga disibukkan dengan kegiatan akhir kuliah(menyusun skripsi) dan kegiatan jalan-jalannya. 

Loh kok jalan-jalan? Ya, Rahma senang sekali jalan-jalan mengunjungi tenpat-tempat yang indah seperti pantai, bukit dan danau. Hal itu dia lakukan agar selalu mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan berupa kesehatan, mata yang dapat melihat, kaki yang dapat berjalan dan nikmat dunia yang indah. 

Terkadang tak hanya itu yang dia dapatkan ketika berkunjung. Bahkan dia akhirnya punya beberapa teman baru hasil dari kenalan seketika. Setelah kenalan, lalu pada akhirnya berdiskusi ringan perihal kehidupan yang semakin lama semakin susah di negeri sendiri. Biaya kuliah dan biaya hidup semakin mahal, kejahatan semakin meningkat, kenakalan remajapun tak tunjukkan angka menurun. 

Ya begitulah. Aktivitasnya telah membuatnya lupa akan sosok masa lalu. Toh, si do’i juga sudah bersanding di pelaminan bersama yang lain, hehe. Kini dia menikmati hijrahnya. Rindunya dia alihkan seutuhnya kepada sang pencipta rindu dan berharap kelak ada seseorang yang Allah izinkan untuk dirindukan.


Banjarbaru,      Desember 2016



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!