Wednesday, June 6, 2018

Jerat Pukat UU Terorisme


Oleh : Ririn Hidayati ( mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya )


Jumat lalu (25/5) UU terorisme telah diketok palu. UU terorisme seakan berubah menjadi pukat harimau. Menjerat ikan secara besar-besaran. Tidak peduli itu ikan kecil atau ikan besar. Tidak peduli itu Muslim yang beriman sungguhan. Atau yang hanya berkedok Muslim sungguhan. Mengapa? Karena label teroris pasti disangkut-pautkan dengan muslimah bercadar dan muslim yang berjenggot. Al-Qur’an pun sempat dijadikan alat bukti terduga teroris. Sungguh ini kriminalisasi kejam terhadap ajaran Islam. 

Selain kriminalisasi, stigmatisasi kejam hendak dibangun oleh UU Terorisme. Lagi-lagi yang dijerat adalah seorang Muslim yang berislam Kaffah. Berpegang teguh dengan agama Islam dipandang bahaya. Kajian-kajian Islam diawasi. Para pendakwah Islam di klasifikasi. Aktivitas dakwah Islam dihalangi. Sungguh racun Islamophobia hidup kembali ditengah-tengah masyarakat hari ini. Masyarakat saling mencurigai. Tanpa mentabayyuni (crossceck), langsung menghakimi sendiri pihak-pihak yang dicurigai.

Padahal berpegang teguh terhadap agama Islam jelas terdapat di Al-Qur’an di surah Al-Baqarah ayat 208. Dalam al-Qur’an juga disebutkan tentang keharaman membunuh tanpa sebab yang disyariatkan Islam. Membunuh yang disyariatkan Islam seperti dalam jihad melawan penjajahan kaum kafir dan membunuh dalam sistem uqubat (sanksi) hukum Islam. Adapun jihad dibenarkan syariat ketika dibawah komando seorang pemimpin (khalifah) di dalam institusi Khilafah Islam. Dalam penerapan Syariat Islam (maqadidus-Syariah) juga terdapat penjagaan jiwa (hifd-nafs). Sehingga Islam jelas mengharamkan praktek terorisme. Karena mengakibatkan pembunuhan secara massal, merusak fasilitas umum, apalagi praktek bom bunuh diri. Jadi fitnah kejam apabila Muslim berislam Kaffah dipandang sebagai ajaran radikalisme bibit calon teroris.

Penjegalan aktivitas dakwah Islam, jelas memadamkan api perjuangan menuju kebangkitan Islam. Ingat isu war of terorism digaungkan oleh Barat karena ketakutan mereka pada kebangkitan Islam. Jika Islam bangkit dan mengatur seluruh alam, maka itulah babak akhir kemapanan ideologi kapitalis mereka. segala kekuasaan, kerakusan, kekejaman mereka habis sudah. Agar itu tidak terjadi, berbagai daya upaya mereka kerahkan. Dari skenario terorisme sampai ISIS. ISIS mereka gambarkan seperti kekhilafahan Islam yang berdarah-darah, kejam, dan memaksa. Hingga dapat meyakinkan dunia bahwa isu teroris pasti dikaitkan dengan ISIS. Padahal dua-duanya adalah grand-design Barat untuk menghalau kebangkitan Islam dibawah kekhilafahan Islam atas kepemimpinan dunia yang sebenarnya.

UU Terorisme sekaan menjadi alat legitimasi sikap represif pengusa hari ini. Sungguh sikap represif itu sangat dirasakan. Dimana-mana terduga teroris pasti berakhir mati. Walau status belum menjadi tersangka teroris. Tidak butuh panggung pengadilan, cukup intruksi atasan. Maka keadilan yang seperti apa yang ingin diwujudkan? Hak Asasi yang seperti apa yang digaungkan? Negara hukum mana yang hendak kau jadikan hujjah? Ketika keadilan dirasa mampu digapai, tanpa melalui payung hukum. Cukup dugaan. 

Sungguh, sebagai seorang Muslim yang telah dianugerahi berbagai kelebihan. Terlahir menjadi sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi akal, menjadi seorang Muslim yang menjadi umat terbaik. Jadikan fakta sebagai obyek yang dihukumi. Kritisi dengan iman. Sandarkan pada syariat Islam. Karena sebaik-baik makar yang musuh Islam buat, makar Allah yang terbaik. Wallahu a’lam bi-Shawwab




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!