Wednesday, June 13, 2018

Jaga Lisan Saat Lebaran


Oleh: Ana Nazahah


Id Fitri sebentar lagi. Waktu berkumpul keluarga dan sanak famili. Dan taukan kalo keluarga besar ngumpul pada ngapaen? Ya, salah satunya kepoin anggota keluarnya, dengan percakapan seperti di bawah ini.


"Aduh Ayu..masih sendiri ya? Bilang dong ke si Doi, jangan lama-lama!"... (ing-ing backsound suara nyamuk lewat) sambil nyengir "doi yang mana ya?" (suara hati).


"Loh, bukannya Dina uda tamat kuliyah dua tahun lalu? masih jadi pengangguran? Anak tante uda kerja ini dan itu, kamu ngapain aja sih selama ini? (Hmm Ngapain ya? Kamu?).


"Ini istrinya Taufan ya? Masih belum punya momongan? Si Ani uda tiga loh anaknya. Seingat saya nikahnya barengan kan ama kalian". Andai punya anak bisa request ya mb Yu (Lagi, dalam hati).


Ya, percakapan di atas adalah sebagain dari deretan ocehan yang mungkin kita temui di saat lebaran. Mengingat Lebaran adalah hari silahturrahmi dan silah ukhuwah antar keluarga dekat dan jauh. Hari berkumpulnya keluarga yang pastinya akan bertanya kabar, berbagi cerita dan menghabiskan moment bahagia saat hari Raya. 


Karena Lebaran hari silaturrahmi dan saling bermaaf-maafan. Alangkah baiknya jika dibarengi dengan menjaga lisan. Jauhi kalimat dan nada-nada sumbang menoreh hati.


Mungkin bagi sebagian orang yang bertanya kapan nikah, kapan punya kerja, kapan punya momongan adalah kalimat biasa tak bermaksud menyakiti. Namun respon yang ditanyai siapa yang tau?.


Seperti yang pernah terjadi di Garut pada akhir Januari lalu. Pria berinisial FN (28) tega membunuh tetangganya IA (32) lantaran kerap ditanyai kapan nikah. Nah loh. Ya, ga sesadis itu juga kali. Sikap FN tak bisa dibenarkan. Kini dia menanggung ganjaran dengan mendekam di balik jeruji besi.


Hanya saja, peristiwa di Garut tersebut cukup menjadi pelajaran, belum tentu hal yang biasa bagi kita, mereka meresponnya dengan sama pula. Boleh jadi yang ditanya kapan nikah, dia baru gagal taaruf dengan calonnya, yang memilih mundur karena uda kecantol sahabat karibnya. Bayangkan saat kita bertanya seolah menabur garam di luka mereka. (Nyesek)


Begitu juga terkait perkerjaan dan momongan, siapa tau mereka sudah pontang panting, kerja keras mengupayakan. Yang namanya rizki siapa yang nyanakan? Tak ayal pertanyaan yang tadinya basa basi, malah berujung sakit hati. Padahal baru beberapa menit lalu saling maaf-maafan. 


Karena itu, Jagalah lisan dalam bertutur, agar Lebaran tak hilang berkahnya. Silahukhuwah dapet, ibadahnya dapet. Hari kemenangan bisa kita raih dalam gegap gempita iman. Hidup rukun antar sesama, dengan menghindari menyakiti hati saudara di hari raya. 

   

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ لاَ يَرْحَمِ النَّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللهُ»

“Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia, niscaya Allah tidak akan menyayanginya”. (HR. Bukhori dan Muslim)


So, Selamat berhari Raya..

Kali ada kata dan tulisan menyakiti, mohon maaf lahir batin ya![]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!