Saturday, June 23, 2018

Istiqomah dalam Hijrah


Oleh : Riyanti 


Dalam sebuah perjuangan, kita pasti akan menemukan yang namanya rintangan. Hambar rasanya jika sebuah perjuangan tak ada rintangan. Karena dalam rintangan itu lah kita dapat merasakan betapa perjuangan hijrah ini indah. Apalagi ketika kita mampu melewatinya itu sungguh luar biasa indah. 


Hidup diterpa banyak kesulitan pasca berhijrah adalah ujian yang mesti kita hadapi. Sebab ujian inilah yang akan menaikkan level seberapa tinggi keimanan kita. Sebaliknya, saat kita mudah goyah diterpa kesulitan, maka sungguh kita telah melepaskan diri dari kasih sayang Allah.


Lihatlah mereka yang istiqamah dalam hijrah, mereka rela meski lepasnya nyawa dari jasad menjadi taruhannya. Bilal bin Rabbah yang tetap mengesakan Allah meski batu besar ditindihkan di dada seraya tubuhnya diseret di bawah terik matahari.


Sumayah, wanita pertama yang syahid karena mempertahankan akidahnya meski orang-orang kafir Quraisy menusukkan tombaknya ke kemaluan Sumayyah hingga tembus ke kepalanya. Masyallah… tapi harga dari sebuah keistiqamahan adalah surga.


Sa'ad bin Abi waqash beliau pertahankan keislamannya walau ibunya sangat menentang. Sampai ibunda sa'ad sakit karena ingin bertemu dgn sa'ad yg kala itu hijrah bersama Rasulullah. Ia berkata, “Ibu… demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu per satu nyawa itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikit pun. Makanlah wahai ibu.. jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu”.


Sekarang banyak juga public figure indonesia yang sedikit demi sedikit berhijrah. Menutup aurat, ikut kajian dsb. Cobaan mereka akan lebih berat dari kita, setiap hari pasti dikomentari para netizen. Baik buruknya publik figur itu akan selalu dikomentari. Ada fans ada pula lovers. 


Ada juga seorang selebriti yang sudah hijrah namun kembali ke dunia hiburan karena tak kuat menghadapi resiko sepi job. Banyak yang sudah rapat menutup aurat, lalu kembali ‘telanjang’ hanya karena kecewa dengan pasangan hidup. Sungguh ironis. Akhirnya muncul sebuah tanya, “Kita hijrah karena siapa?” kalau karena manusia, pasti mudah berbalik arah. Tapi kalau karena Allah semata, maka apapun yang terjadi, kita tetap istiqamah di jalan hijrah.


Maka bersabarlah, mintalah kekuatan kepada Allah agar kita senantiasa mampu istiqamah di jalan hijrah. Tata ulang kembali bahwa niat kita hijrah karena Allah, karena ingin taat mengikuti syari'at-Nya. Perbanyak teman yang mengajak pada kebaikan, sebab terkadang lingkungan lah yang menjadi penentu kualitas hijrah kita. Datangi majlis-majlis ilmu agar tsaqofah islam kita semakin matang. Karena hijrah itu bukan hanya perkara pakaian dan ahlak saja tetapi keseluruhan mulai dari aqidah, ibadah, ahlak dan seluruh aspek kehidupan kita. 


Istiqomahlah.. 

Genggam hijrahmu sekuatnya. Jadikan batu kerikil di jalan perjuangan sebagai alat refleksi dalam perjalanan. 

Hijrah itu sulit, maka orang-orang yang berani berhijrah adalah orang-orang yang istimewa di mata Allah.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!