Tuesday, June 19, 2018

Islamophobia Semakin Eksis


Oleh : Ferlyana

Siapa yang tak tau dengan istilah Islamophobia? Akhir-akhir ini istilah tersebut selalu hadir dalam setiap pemberitaan, entah melalui media online ataupun media cetak. Nama Islamophobia sendiri saat ini semakin eksis menghiasi disetiap elemen masyarakat. Dari mulai perkantoran, pemerintahan, kampus, bahkan pesantren. Sebenarnya apa sih Islamophobia itu?

Islamophobia merupakan suatu sikap ketakutan terhadap semua hal yang berbau Islam. Istilah Islamophobia sebenarnya mulai ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Istilah ini dianut oleh sebagian besar orang di Barat, mereka  terus mengopinikan bahwa Islam itu berbahaya, kejam dan radikal ke berbagai dunia, termasuk negeri-negeri kaum Muslim sendiri (RemajaIslamHebat, 4 juni 2018).

Berbicara tentang Islamophobia pasti tidak akan lepas dari kata radikalisme. Kata inilah yang akhirnya memunculkan Islamophobia. Banyak sekali kabar tidak benar tentang Islam, hingga orang menjadi takut dengan Islam bahkan orang yang meyakini Islam sebagai agamanya takut dengan apa yang menjadi kepercayaannya. Sungguh ironis memang, tapi itulah fakta saat ini, umat muslim memang semakin banyak, namun tidak dengan semangat menjalankan ketaatan kepada Allah, kebanyakan orang menganggap Islam hanya sebatas urusan ibadah, padahal Islam tidak sesempit itu, cakupan Islam sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan dari tidur sampai tidur lagi, dari ujung rambut sampai ujung kaki Islam sudah memiliki aturan. Namun sangat disayangkan, aturan ini yang malah menjadi ketakutan tersendiri bagi sebagian orang. Contohnya seperti wajibnya menutup aurat bagi perempuan. Allah telah menjelaskan dalam Al-quran surah al-ahzab ayat 59 yang artinya 

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutup jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha pengampun, Maha Penyayang.”

Tidak diragukan lagi, perintah menutup aurat adalah suatu perkataan Allah langsung, namun tidak sedikit yang masih melanggar, dan karena salah satu aturan ini, Islam kadang dianggap keras, dianggap mengekang hak kaum wanita, wanita tidak bisa berekspresi, dan alasan-alasan lainnya, padahal Islam hadir justru sebaliknya.

Contoh diatas merupakan contoh sederhana yang ada ditengah-tengah masyarakat. Kalau kita analisa, masih banyak contoh-contoh lain yang bisa diambil sebagai bukti tentang ketakutan orang-orang dengan aturan yang ada didalam Islam serta menolak untuk mempelajari Islam secara menyeluruh. Ditambah maraknya terorisme dan paham radikalisme yang selalu mengacu kepada Islam, pemboman yang selalu mengarah ke identitas seorang muslim, mengenakan kerudung besar, bercadar, menggunakan gamis, dan lain sebagainya. Itu menambah kesan negatif terhadap Islam.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme. 

"PTN itu menurut saya sudah hampir kena semua (paham radikalisme), dari Jakarta ke Jawa Timur itu sudah hampir kena semua, tapi tebal-tipisnya bervariasi," kata Hamli dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat (CNN, 25/5/18).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengakui sulit mengawasi penyebaran paham radikalisme yang berpotensi menyebar melalui sekolah informal, khususnya sekolahrumah atau homeschooling tunggal yang diadakan oleh orang tua dalam satu keluarga. Hal ini terkait anak-anak pelaku teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo yang merupakan korban indoktrinasi orang tuanya. Mereka tidak mendapat pendidikan formal dan dipaksa mengaku homeschooling. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar tak menampik homeschooling tunggal mungkin menjadi sarana baru bagi orang tua mengajarkan radikalisme pada anak (RemajaIslamHebat, 4 juni 2018).

Setelah para ustadz dan ulama dengan pesantren dan dakwahnya, kampus dengan mahasiswa dan dosennya, partai politik dan ormas Islam dengan aktivisnya, sekolah dengan rohisnya, keluarga dengan kaum perempuan dan anak-anaknya, kini homeschooling pun difitnah jadi ladang semaian benih terorisme. Apakah sekolah merupakan tempat untuk mencetak seorang teroris? Sampai-sampai hampir semua tempat pendidikan yang berbau Islam dicurigai sebagai sarang terorisme. Sikap yang ditunjukkan oleh para penguasa membuktikan rezim mengidap islamophobia akut. Mungkin lebih akut dari masyarakat biasa.

Islamophobia semakin lama semakin eksis, Islamophobia semakin lama semakin menutup pandangan bahwa akar permasalahan yang ada bukanlah Islam, tapi sistem yang diterapkan saat ini yaitu paham sekularisme dan hegemoni dengan sistem kapitalisme, bukti-bukti kerusakannya sudah nampak telanjang di depan mata. Namun masyarakat disibukkan dengan pekerjaan dan urusan dunia lainnya, mahasiswa sebagai agen of change disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, sehingga mereka tidak sadar, betapa bobroknya sistem yang mereka jalankan sekarang. Pandai para rezim melakukan pengalihan isu, demi sebuah tujuan untuk menuntaskan nafsu dunia belaka.

Islamophobia tidak bisa dibiarkan begitu saja eksis ditengah-tengan masyarakat, harus ada penyadaran dengan memberikan pemahaman tentang Islam. Melakukan dakwah Islam keseluruh penjuru dunia secara kaffah sekaligus membuka topeng-topeng sistem kapitalisme, membangunkan masyarakat dari tidur nyenyak ditempat yang salah. Dengan dakwah inilah diharapkan masyarakat bisa lebih memahami Islam yang sesungguhnya, mencintai agamanya seperti dia mencintai dirinya sendiri bahkan lebih dari itu, membangun kembali peradaban Islam yang gemilang, dengan Islam tanpa Islamophobia. 





(* Mahasiswi STMIK Indonesia Banjarmasin






SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!