Monday, June 11, 2018

Islamophobia Kian Terpelangas Nyata


Oleh: Arianti Anas Tasya

(Guru SMA Negeri 1 Motui)


Setelah monsterisasi terhadap pesantren dengan para ustaz dan ulamanya. Kampus dengan mahasiswa dan dosennya. Partai politik atau ormas Islam dengan aktivitasnya. 


Belum lagi, sekolah dengan rohisnya. Keluarga dengan kaum perempuan dan anak-anaknya. Kini, homeschooling pun turut difitnah menjadi ladang semaian benih terorisme.


Direktur pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Hamli, menyebutkan bahwa hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme. Menurutnya, penyebaran paham radikalisme yang berkembang di lingkungan pendidikan saat ini sudah berubah pola. 


Hamli menambahkan, awalnya penyebaran paham tersebut dilakukan di lingkungan pesantren. Namun saat ini, kampus negeri maupun swasta menjadi sasaran empuk bagi penyebar paham radikalisme (Cnnindonesia.com, 25/05/2018).


Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengakui sulit mengawasi penyebaran paham radikalisme yang berpotensi tersebar melalui jalur pendidikan informal, khususnya sekolah rumah atau Homeschooling tunggal yang diadakan oleh orang tua dalam satu keluarga. 


Isu ini mencuat terkait anak-anak pelaku terror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo yang merupakan korban indoktrinasi orang tuanya. Mereka tidak mendapatkan pendidikan formal dan dipaksa mengenyam homeschooling (Cnnindonesia.com, 18/05/2018l).


Pun, di kalangan ulama yang berdakwah. Mereka diseleksi berdasarkan kriteria yang Kementerian Agama (Kemenag) telah tetapkan. Ketua umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siraj, bahkan menyarankan Kemenag merilis daftar nama pencerama (mubalig) yang dilarang. Bukan merilis daftar nama penceramah yang direkomendasiakn kepada masyarakat (Cnnindonesia.com).


Hal ini menunjukkan bahwa Islamophobia semakin merajalela. Semakin terpelangas (terpampang) nyata. Ya, tercipta ketakutan berlebihan yang tidak memiliki dasar pemikiran yang kuat tentang Islam. Islamophobia sendiri telah didefinisikan pada 1997 sebagai rasa takut terhadap islam. 


Kemudian istilah ini menjadi populer setelah peristiwa serangan gedung WTC di Amerika Serikat pada 11 September 2001. Di Indonesia sendiri, Islamophobia semakin mencuat setelah terjadinya ledakan bom di Bali.


Sebagai muslim sejati, kita tentunya harus membentengi diri agar tidak terpengarus stigma negatif yang sengaja digulirkan oknum-oknum tertentu. Kita harus menanamkan dalam diri, aqidah dan pemahaman Islam yang kuat. Sebab, Islam adalah agama yang tidak ada satupun kecacatan di dalamnya. Muslim lah yang sering mencederainya.


Islamophobia telah menutup pandangan bahwa problem dasar bangsa ini adalah sekulerisme dan hegemoni sistem kapiltalisme. Bukan hal ihwal Islam. Rusaknya sistem, nampak dengan sangat jelas bisa kita saksikan. 


Ya, sekularisme merupakan pembangunan struktur kehidupan tanpa dasar agama. Dimana agama hanya diberikan ruang untuk mengatur masalah peribadatan saja. Sedangkan untuk urusan kehidupan sehari-hari, agama tidak diberikan ruang untuk ikut campur.


Sementara kapitalisme merupakan bentuk ekonomi dengan menekankan kebebasan individu dalam meneguk keuntungan. Sitem ini mengakibatkan kekayaan alam bangsa ini dicengkam dan dikeruk terus menerus oleh asing. 


Angka pengangguran, kemiskinan, dan kriminalitas semakin meningkat. Ekstrimnya, mengakibatkan pergaulan bebas, prostitusi, miras dan narkoba berkembang pesat. Astaghfirullah!


Adapun Islam, ia merupakan agama yang memiliki sifat yang komprehensif atau menyeluruh. Islam mengatur hubungan manusia secara totalitas baik itu menyangkut hubungan manusia dengan Allah (habluminallah). Hubungan manusia dengan sesamanya (habluminannas). Serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri (habluminannafsi).


Sebagai muslim, kita diperintahkan agar memeluk Islam secara kaaffah (secara keseluruhan), tidak setengah-setengah. “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam (secara) keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian yang nyata.” (TQS. al-Baqarah: 208).


Oleh karena itu, bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya adalah dengan mengikuti apa yang Rasulullah SAW bawa. Yakni Alquran dan As-sunnah. Keduanya hendaklah dijadikan sebagai pedoman dalam seluruh lini kehidupan.


Islamophobia tentu saja harus dilawan. Caranya, dengan proses penyadaran lebih masif lagi kepada umat tentang pentingnya Islam kaaffah. Memberi pemahaman akan bobroknya sistem kapitalisme dan mulianya penerapan Islam secara benar. Sehingga, Islamophobia tidak perlu lagi merajalela. Tidak perlu terpelangas di depan mata. Wallahu’alam bisshawab.





SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!