Saturday, June 2, 2018

Indonesia: Ramadhan Bersama Narkoba


Oleh: Ulfiatul Khomariah

(Freelance Writer, Koordinator Komunitas Penulis “Qiroah”)



Miris! Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik kini tak bisa diharapkan lagi. Kemaksiatan dan perilaku jahat seperti narkoba/sabu, seks bebas, pelecehan seksual, dll yang diharapkan tak terjadi di bulan Ramadhan, nyatanya semakin tumbuh subur bak jamur di musim hujan.


Sebagaimana yang dilansir dalam (beritajatim.com), pada hari selasa kemarin (29-05-2018) Satnarkoba Polresta Sidoarjo meringkus dua pengedar sabu-sabu satu jaringan di dua tempat berbeda. Salah satu pengedar adalah Rubianto (27) warga RT 10 RW 02 Dusun Luwung Desa Sarirogo Kec. Sidoarjo. Rubianto ditangkap saat berada di rumahnya. 


Pengedar satunya, M. Riadi alias Mek (24) warga RT 09 RW 02 Desa Kajeksan Kec. Tulangan, yang diringkus saat mau mengedarkan barangnya di sebuah warkop daerah Kajeksan Tulangan. Narkoba yang ditemukan seberat 0.56 gram dan 0.42 gram.


Di hari yang sama, Anggota Satnarkoba Polres Mojokerto Kota juga mengamankan pelaku dari pinggir Jalan Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Pelaku diamankan karena terbukti menyimpan narkoba jenis sabu yang dimasukan dalam plastik klip. Dari tangan pelaku diamankan barang bukti berupa satu klip plastik warna bening isi sabu dengan berat 0,40 gram, satu klip plastik warna bening isi sabu dengan berat 0,16 gram.


Sebenarnya jika berbicara masalah narkoba memang tak pernah ada habisnya. Kenapa? Karena dari jaman alif sampai jaman ya’ masalah narkoba senantiasa tetap eksis setiap zamannya. Begitupun Data Puslitkes Universitas Indonesia (UI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2016 lalu mencatat bahwa pengguna narkoba dari kalangan pelajar dan mahasiswa mencapai 27,32 persen. Ini masih ada kemungkinan bertambah mengingat banyaknya narkoba-narkoba jenis baru yang masuk ke Indonesia.


Sayangnya Indonesia masih menjadi surga bagi peredaran narkoba. Sepanjang tahun 2017 saja, BNN telah mengungkap 46.537 kasus narkoba di seluruh wilayah Indonesia. Dari kasus tersebut BNN menangkap 58.365 tersangka, 34 tersangka TPPU, dan 79 tersangka yang mencoba melawan petugas ditembak mati. (news.idntimes.com, 27/12/2017).


Peredaran narkoba sebagai hantu kasat mata sungguh sangat memprihatinkan. Kasus mutakhir adalah Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan pemusnahan barang bukti sabu sebanyak 2,6 ton di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta, Jumat (4/5/2018). Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia kini benar-benar banjir narkoba. Sebenarnya ada apa dibalik melimpahnya narkoba di negeri ini?


Dengan tertangkapnya peredaran berton-ton narkoba seharusnya bisa membuat negara memberikan ketegasan dalam proses hukum dan memberikan hukuman berat bagi semua oang yang terlibat didalamnya (jika perlu hukuman mati) sebagai bukti bahwa negara benar-benar peduli terhadap keamanan dan perlindungan pada rakyat dan generasi.


Indonesia negara darurat narkoba! Kalimat ini sudah ada sejak periode Soeharto tahun 1971. Itu artinya sudah sejak lama gelontoran narkoba dari luar negara yang masuk ke Indonesia, namun hingga sampai saat ini belum ada jerat hukum yang mampu menjadi pemutus mata rantai peredaran narkoba. Realitanya masalah narkoba dari tahun ke tahun tak perrnah tuntas bahkan kisarannya semakin meningkat.


Alhasil, pemakai dan korban narkoba dari tahun ke tahun semakin meningkat tanpa memilih segmen mulai dari pria dan wanita, anak-anak sampai orangtua, warga kelas bawah hingga artis dan pejabat sudah banyak berjatuhan silih berganti. Bahkan tak terhitung berapa jumlah yang sudah mati karena benda haram ini.


Jika kita menelisik lebih mendalam lagi, sebenarnya Indonesia banjir narkoba bukan tanpa sebab. Namun karena diterapkannya sistem kapitalis-sekuler di negeri ini. Kapitalisme-sekuler yang berasaskan manfaat hanya melihat nilai materinya (keuntungan). Selama ada permintaan (demand) maka akan selalu ada pemasukan (supply) tanpa memperhatikan berakibat pada rusak dan lemahnya generasi. Padahal dalam Islam, generasi merupakan ujung tombak peradaban. Narkoba menjadi serangan mematikan keberlangsungan peradaban.


Dalam kehidupan sistem kapitalisme-sekuler yang nampak hanyalah kemanfaatan (keuntungan) semata. Sehingga wajar apabila di bulan Ramadhan yang penuh maghfiroh ini kejahatan semakin merajalela, kerusakan semakin tak terkendali. Karena selama sistem kapitalis-sekuler masih bercokol di negeri ini, maka selama itu pula masalah narkoba tak kan bisa teratasi. Maka dari itu, perlu untuk kita semua mencari solusi yang terbaik untuk negeri ini yakni dengan kembali kepada aturan Sang Ilahi Robbi. Wallahu a’lam bish-shawwab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!