Thursday, June 7, 2018

Hutang Aman, Negara dan Rakyat Aman?


Oleh: Eka Purwaningsih, S.Pd (Ibu Peduli Generasi, Anggota Komunitas Menulis Revowriter)


Setiap orang tua pasti menginginkan mempunyai anak yang sehat. Beberapa indikator anak yang sehat adalah tinggi badan dan berat badan yang ideal sesuai degan umur, ceria, mata jernih, dan masih banyak lagi. Begitupula Negara, banyak indikator yang bisa digunakan utuk menilai apakah kondisi suatu negara itu sehat ataukah sakit. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah dengan melihat kondisi perekonomian Negara tersebut. Salah satunya terkait denga hutang Negara.


Mari kita tengok Indonesia. Meneteri keuangan Sri Mulyani menyebut total hutang Indonesia mencapai Rp4.180 Triliun hingga akhir April 2018 ini masih berada di dalam batas aman. Dengan asumsi produk domestik bruto (PDB) tahun ini Rp14.000 triliun, batas aman hutang Indonesia sesuai dengan Undang-Undang mencapai Rp8.400 Triliun (CNNIndonesia.com).


Indonesia adalah Negeri yang dijuluki Jamrud Khatulistiwa. Dihadiahi tanah yang subur, kakayaan alam yang melimpah. Dari kekayaan laut, hutan, energi, minyak, gas, barang tabang seperti emas, perk, tembaga, besi, dan masih bayak lagi. Namun sayangya karna sistem Kapitalisme yang secara langsug maupun tidak langsung dijalankan di Indonesia, maka prinsip bahwa apapun bisa dimiliki individu baik asing maupun swasta, berlaku di Negeri ini. Negara hanya bertugas sebagai regulator, menyerahkan perekonomian pada mekanisme pasar (Neo liberal) sementara Negara berlepas tangan.


Persoalan ekonomi yang ada, harus ditambah dengan defisit anggaran negara, jebakan hutang yang semakin menggunung dan sebagian akan jatuh tempo dalam periode dua tahun kedepan. Sumber daya alam terus menerus dikeruk oleh Asing, sementara untuk pembiayaan dan pendanaan kebutuhan negara, diambil jalan dengan terus berhutang dan memungut pajak dari Rakyat.


Rakyatlah yang lagi-lagi harus menelan pil pahit. Pasalnya akibat dari itu semua, subsidi baik itu listrik, pupuk, BBM, dan lain-lain terus dikurangi atau bahkan dihapus sama sekali. TDL jadi naik, BBM naik, harga pupuk naik sehingga harga bahan pokok kebutuhan sehari-haripun ikut melonjak naik. Akhirnya terjadilah penurunan daya beli masyarakat dan akan berujung pada kemiskinan, kesegsaraan yang akan menimbulkan permasalahan yag kompleks dan bahaya jika terus dibiarkan.


Melihat dampak yang akan ditimbulkan bagi rakyat, tentu persoalan hutang bukan hanya masalah aman atau tidak aman. Karena itu merupakan pola pikir yang salah dari sistem ekonomi Kapitalisme neolib. Sudah seharusnya semua pihak berfikir bijak dan mempertimbangkan lebih jauh tentang hutang. Bukankah lebih baik mengoptialkan pengelolaan SDA oleh Negara yang kemudian hasilnya digunakan untuk kemaslahatan bersama daripada harus terus menumpuk hutang? Apalagi Hutang di dalam sistem ekonomi Kapitalisme merupakan riba dan itu diharamkan dalam Islam.


Hutang merupakan bentuk ketidak mandirian, terlebih hutang adalah bentuk penjajahan. Tidak ada makan siang gratis. Di balik baiknya negara yang meminjamkan hutang, sudah barang tentu ada deal-deal antara dua belah pihak. Entah itu atas nama investasi, kerjasama, dan lain sebagainya. Kalau kita cermati sebenarnya itu semua merupakan bentuk penjajahan. Karena yang berhutang lazimnya akan lebih mudah utuk disetir oleh yag memberikan hutang. Dari sini maka dapat disimpulkan bahwa kondisi Indonesia sedang sakit bahkan kritis.


Islam sangat luar biasa. Samapai peroalan hutang pun diatur di dalamnya. Baik hutang individu apalagi hutnag Negara. Dalam sistem ekonomi Islam, kepemilikan akan dibagi menjadi kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan Negara. Sumber daya alam atau apapun yang hajat hidup orag banyak bergantung padaya tidak akan dibiarkan dikuasai oleh individu, kelompok atau korporasi tertentu. Negara akan mengoptimalkan pengeloaannya dan mendistribusikan hasilnya untuk kemaslahatan umat. Menutup rapat celah penjajahan termasuk berhutang dengan negara Asing apalagi Negara yang jelas-jelas memusuhi Islam. Dengan begitu Negara akan menjadi negara yang mandiri, Independen, tidak mudah dipengaruhi apalagi disetir oleh negara lain.


Sudah saatnya campakkan sistem ekonomi kapitalistik buah dari sstem kapitalisme yang bobrok dan carut marut. Mari kembali kepada sistem ekonomi Islam yang lahir dari penerapan sistem Islam kaffah dalam sebuah institusi. Sistem ekonomi yang kuat yang akan mampu mensejahterakan umat. Itulah cerminan negara yang sehat sesungguhnya.










SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!