Tuesday, June 12, 2018

Hindari Perilaku Bermaksiat di Hari Raya


Oleh : Asma Ridha


Ketika Islam datang, Allah memilihkan untuk kita umat muslim hari yang istimewa untuk dirayakan. Sahabat Anas bin Malik radliallahu ‘anhu menceritakan, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:  “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, ”Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik, Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Ahmad, Nasai, Abu Daud, dan shahih).


Idul fitri dan idul adha adalah hari raya umat muslim yang boleh dengan suka cita menyambutnya. Namun waspada jangan kebablasan hingga jatuh pada kemaksiatan.


Anda bisa perhatikan, Idul Fitri dan Idul Adha, bukan inisiatif Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula usulan sahabat. Tapi murni pilihan Allah, Dzat yang Maha Sempurna ilmu dan hikmah-Nya. Tentu saja ini hari yang sangat diberkahi. Sehingga disamping kita merayakan kebahagiaan, kita untuk mendapatkan keberkahan di dua hari itu.


Waspada aktivitas-aktivitas yang justru termasuk kemaksiatan di sisi Allah SWT.


1/. Hindari berpuasa di hari raya idul fitri. Bukankah berpuasa kita karena sudah terlihat bulan. Dan berhentinya kita berpuasa karena sudah terlihat bulan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ


“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Dan jika melihatnya kembali, maka berbukalah (berhari Raya ‘Ied). Lalu, jika kalian terhalangi (tidak dapat melihatnya), maka ukurlah” (HR. Al-Bukhari) 


Dari Abu Sa’id al Khudri radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa pada dua hari: hari Idul Fitri dan Idul Adha. (HR. Muslim).


2/. Berhiaslah sesuai tuntunan syariat


Ingin terlihat cantik dan menawan adalah fitrahnya kaum hawa. Tapi waspadalah  ada rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam berdandan diantaranya :


a. Larangan mengenakan wewangian 


أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ


“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad. Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ , no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shahih)


b. Larangan tabaruj.


يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ


“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A‘raaf, 7: 31).


Tabarruj secara bahasa diambil dari kataal-burj (bintang, sesuatu yang terang, dan tampak). Di antara maknanya adalah berlebihan dalam menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti: kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis, dan anggota tubuh lainnya, atau menampakkan perhiasan tambahan. Imam asy-Syaukani berkata, “At-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki” (Fathul Qadiir karya asy- Syaukani).


Dandan yang berlebihan hingga memalingkan orang lain adalah tabaruj. Maka sungguh perempuan sholehah akan meningkatkam keimananya dan menipiskan lipstiknya.


c. Larangan mengenakan khimar (kerudung) seperti punuk unta.


Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,


( صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لايدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وان ريحها لتوجد من مسيرة كذاوكذا )

رواه أحمد ومسلم في الصحيح .


“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).


d.  Berpakaian tapi telanjag


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا


“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)


Pakaian terindah yang wajib dikenakan oleh seorang muslimah adalah jilbab (gamis). Sebagaimana firman Allah SWT dalam q.s: Al-Ahzab : 59 


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا


Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


3/. Larangan khalwat dan Ikhtilat


Tidak jarang di hari raya selain ajang silatu rahmi namuj juga rekereasi. Dan nyaris khalwat dan ikhtilat pemandangan yanh kita saksikan dimana-mana. Seakan merdeka dari pengekangan selama sebulan dan melampiaskan pada hari yang suci ini.


Padahal ikhtilat (bercampur baur laki-laki dan perempuan) serta khalwat (berdua-duaan dengan bukan mahramnya) adalah perkara yang terlarang. 


4/. Mudahnya meninggalkan shalat fardhu.


Dan kemaksiatan yang sering terjadi pula adalah mudahnya meninggalkan shalat fardhu. Hanya karena alasan  sibuk bersilaturahmi dan lelah berekreasi kewajiban utamapun di abaikan. Naudzubillah tsumma naudzubillah


Sepatutnya ramadhan membentuk karakter taqwa bukan hura-hura. Karakter tawadhu bukan mengikuti semau nafsu. Dan di hari idul fitri jangan kotori diri kembal dengan kemaksiatan setelah pintu ampunan kita pinta pada-Nya.


Semoga bermanfaat


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!