Saturday, June 2, 2018

Hijrah Setengah Hati


Oleh : Nayla  Sosro


Menyisiri setiap pertokoan di pasar ini, dan melihat apa yang di tawarkan para penjual pakaian,  menjelang lebaran, rasanya tidak jauh berbeda  dengan apa yang di tawarkan di olshop, alhamudullih, sepertinya lebaran tahun ini, masih sama kisaran tiga atau empat  tahun silam, di mana model pakaian gamis yang lebih populer di Indonesia di sebut hijab syra’i, masih merajai untuk menjadi pilihan  utama para muslimah dalam merayakan hari kemenangannya.


Dengan tampilan model hijab yang menarik, warna dan bahan yang kekinian, tentu akan membuat pemakainya semakin berasa dan  terlihat lebih cantik dan anggun, dengan harga yang murah meriah hingga yang tak ramah, semua di tawarkan sesuai dengan isi dompet peminatnya.


Saya masih ingat sekitar tahun 2005 an, ketika pakaian jilbab ( baju panjang ) dan kerudung  (khimar ) panjang, sulit di dapatkan di pasaran, jikapun ada, harganya sangat mahal, dan untuk mendapat itu terpaksa membeli kain dan di antarkan  ke tukang jahit,  tentu dengan harga yang cukup mahal, belum lagi kalau penjahitnya salah potong, karena apa yang dia lihat  ( ukuran badan kita ) dengan apa yang dia ukur berbeda, walhasil baju yang di jahit menjadi membentuk tubuh, yang tentu saja sudah tidak sesuai dengan tuntutan syari’at.


Insya Allah,  setiap muslimah pasti memiliki pakaian hijab syar’i di rumahnya, entah ia menjadi pakian kesehariannya, misalnya :  kerja, kepasar,  ke warung, ngantar anak kesekolah, hadir di amjelis ilmu, ke sawah dan sebagainya, atau  dia di pakai saat moment - moment tertentu saja, misalnya yasinan mingguan, arisan bulanan, menghadiri zikiran, menghadiri pernikahan dan sebagainya,  atau bahkan hanya di pakai setahun dua kali, yaitu saat lebaran idul firti dan idul adha saja.


Masyarakat Indonesia saat ini,  mempunya standar pemahaman bahwa hijab syair’i itu adalah pakaian gamis, panjang sampai mata kaki dan tidak berpotongan, dengan kerudung yang panjang, menutup dada dan  tak jarang  sangat  panjang  sampai ke betis, bahkan ada yang sama panjangnya dengan gamis yang di pakai.


Model jilbab ini di anggap sesuai dengan tuntunan syariat islam, semaraknya penjualan dan pemakaian hijab syar’i, mulai muncul sekitar tahun 2014, di tengah maraknya jilbab atau baju dengan model ketat, dan juga dengan kerudung yang juga model minimalis, yang hanya menutup leher saja, dan ketika itu  sempat memunculkan kontroversi.


Dengan trendnya  hijab syar’i seperti saat ini, kita dengan mudah menemukan para muslimah menggunakan hijab syar’i, di manapun dan kapanpun, kabar baik di satu sisi tentunya,  bahwa saat ini  kesadaran muslimah, tentang bagaimana menutup aurat dengan menggunakan hijab yang sesuai dengan tuntuann syariat, jadi di mengerti dan di fahami, namun menyedihkan di sisi yang lain, tak jarang muslimah menggunakan jilbab syar’i hanya mengikuti trend yang berkembang saat itu saja, hijab hanya di pakai ketika hadir majelis – majelis ilmu saja, atau acara yang bernuansa religi, namun setelah itu..?, hijab yang sesuai dengan tuntunan itupun di tanggalkan, di ganti dengan baju yang bukan di peruntukan untuk wilayah publik.


Tanpa rasa bersalah apalagi berdosa ( padahal jelas – jelas berdosa ), dengan PD nya membuka aurat, pahkan selfie di media sosial dengan membuka aurat, untuk apa ? untuk memperliahatkan auratnya.


Padahal Allah SWT berfirman : “ Dan katakanlah kepada wanita – wanita yang beriman, hendakwalah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan jangnlah mereka menampakan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya, hendaknya mereka menutupkan khimar ( jilbab ) nya ke dadanya, QS. An- nur : 30 – 31.


Dan baginda Nabi Muhammad SAW, pernah bersabda yang artinya, hai Nabi, katakanlah kepada istri – istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri orang – orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenannya mereka tidak di ganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. QS. Al- Ahzab : 59.


Ayat dan hadist di atas cukuplah menjadi dasar bagi setiap muslimah untuk menutup auratnya, dengan ketentuan yang sesuai syariat, bukan menutup dengan mengikuti hawa nafsu semata, tanpa ilmu dan dalil. Saya yakin setiap muslimah pasti tahu hukum menutup aurat adalah wajib, namun dengan seribu satu alasan hal tersebut tidak di lakukan, karena salah satu alasan klasik ,yaitu tidak siap.


Kenapa kaum muslimah biasa  melakukan hal tersebut ?, karena negara yang mayoritas muslim ini, menganut ide sekularisme ( ide pemisahan agama dari kehidupan ), yang mengakar kuat.


Tidak hanya pada tataran individu, misalnya hadir di majelis ilmu, menutup aurat, setelah keluar dari sana, aurat di buka, sholat menutup aurat setelah itu, di buka lagi, zikir kuat, menggosip sama, dan sebagainya.


Sampai  pada bernegara, yang mana islam mengharamkan riba, sistem ekonomi yang  gunakan sistem ekonomi ribawi, sistem politik dalam islam di larang di gunakan untuk mengurusi negeri ini, pemasukan negara dan daerah, tak sedikit yang bersumber pada usaha yang haram ( miras dan prostitusi dan lainnya).   


Apakah pertanggung jawaban manusia kepada Rabbinya hanya akan di lakukan di ruang ibadah saja?, ataukah malaikat akan mencacat setiap amalan baik yang kita lakukan saja, ataukah malaikat hanya mencatat setiap perbautan buruk yang kita lakukan hanya di area ibadah saja.


Allah pemilik alam semsta ini akan memintai pertanggung jawaban setiap kebaikan dan maksiat yang kita lakukan, meski sebesar biji zarrah, sama halnya dengan para malaikata Allah SWT, akan mencatat di setiap waktu dan tempat, tanpa henti,  seluruh aktifitas yang kita lakukan, tanpa terkecuali, meski di dunia maya sekalipun, mari berhijrah dengan kaffah tidak setengah hati.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!