Sunday, June 3, 2018

Hijrah itu Berat, Yang Gampang itu Maksiat


Oleh : Fitriani S.Pd (Pemerhati Remaja)


"Ngga semudah membalikkan telapak tangan dan tidaklah seinstan memasak mie instan."

Inilah kalimat pamungkas dengan cita rasa pesimis saat seseorang terbentur oleh sesuatu yang menghambatnya untuk move on menjadi lebih baik. 

Diajak ke kebaikan loadingnya minta ampun, giliran untuk hal-hal yang ga penting cepet banget connectnya. 


Kalau disuruh milih surga ato neraka, maka pasti mau surga.

Lah, padahal antara ingin dan action bagaikan langit dan bumi. 


Temans, tau tidak kalau Allah telah mengabarkan bahwa jalan menuju surga itu hanya bisa diraih dengan bekal keta’atan, bukan dengan bekal kemaksiatan. Allah swt akan terus menguji hambaNya yang mengaku beriman. 


Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji? (TQS. Ankabut: 2).


And then, Rasulullah Muhammad saw juga mengingatkan tentang hal ini dalam sabdanya “Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim).


Wish wish.. Jadi ngga aneh ya kalo kita dapatkan orang yang kita ajak atau mungkin diri kita sendiri kadang susah atau masih ada malesnya kalo melakukan kebaikan. Apalagi kita-kita ini dihadapkan pada perkara-perkara yang kita sukai. Kudu mikir dulu seratus kali baru action.


Kenapa demikian? Karna eh karena, syaithon ngga akan pernah berhenti menggoda setiap manusia sampai mengikuti langkah-langkah mereka dan meninggalkan apa-apa yang Allah perintahkan.


“Janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (TQS. Al-Baqoroh:208). 


Tentu saja guys, betapa untuk menjadi remaja sholih atau sholihah di jaman sekarang banyak tantangan dan ujiannya. Tapi eits eits, bukan berarti ini menjadi pembenaran buat kita untuk ngga mau jadi remaja sholih dan sholihah ya??


Apalagi karakter remaja yang punya banyak energy plus potensi, namun cenderung masih labil, punya tingkat ke-penasaran-an yang tinggi, mudah dan cepat mengikuti apa saja yang lagi happening ngga peduli tuh baik apa ngga.

 

Masih terbayang dibenak kita kan temans, tentang kasus seorang anak SMP yang hamil enam bulan karena ulahnya sama pacarnya yang masih memakai seragam merah putih alias masih berada dibangku Sekolah Dasar itu? Naudzubillah ya, temans pada gak mau kan memiliki nasib yang sama seperti kasus diatas? 


Apa mau hanya karena atas nama cinta yang belum halal, masa depan hancur plus malu-maluin keluarga.

Tentu, kasus-kasus sebelumnya juga tak kalah ngerinya.

Pacar bunuh kekasihnya, kasus aborsi, kasus bunuh diri, dan lain-lain. Yang mayoritas pelakunya itu pemuda.


Padahal Allah berfirman  “ Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” ( TQS. Al-Israa’ :32)


Islam : Obat Ampuhnya


Jika dilihat kondisi remaja saat ini bisa kita dapati betapa pembentukan pribadi remaja yang masih sangat rapuh dan jauh dari nilai-nilai Islam. Jelas sudah kondisi generasi kita sedang “tidak sehat” dimana cara berpikir dan bersikap mereka masih belum berada pada posisi yang benar. Prestasi akademik ternyata bukanlah menjadi penentu pasti bahwa remaja bisa otomatis menjadi sholih dan sholihah.


Kok bisa?? Ya bisalah. Pendidikan yang jadi tempat untuk menempa dan membentuk peserta didik memisahkan agama (Islam) dari peraturan kehidupannya. Padahal agama (Islam) adalah lentera kehidupan yang akan menuntun hidup sekaligus membentuk karakter dan kepribadian generasi yang cemerlang. Tapi monsterisasi terhadap agama (Islam) telah membuat pemeluknya menghindar dari agamanya sendiri tak terkecuali remaja-remaja kita. Pelajaran agama di sekolah menjadi pelajaran yang tidak di favoritkan, kajian atau ekstra kurikuler keislaman di sekolah sepi dari peminat, kajian umum di luar sekolah pun menjadi sumber kecurigaan dan ketakutan sekolah dan orang tua akibat dari propaganda jahat pembenci Islam.


Peradaban Barat sekuler berupaya untuk memusnahkan wahyu sebagai otoritas ilmu tertinggi dalam dunia pendidikan untuk kepentingan kolonial mereka. Sekulerisasi ilmu pengetahuan sudah menjelma menjadi musuh dalam selimut umat Islam yang menggerogoti keimanan dan identitas umat. Islam sebagai agama lengkap nan sempurna yang diturunkan oleh Allah swt, Pencipta Semesta dan seisinya seharusnya hadir sebagai satu-satunya obat dan solusi ampuh bagi kehidupan. Termasuk bagaimana Islam punya sistem Pendidikan yang hebat.


Mantap nih….. Islam emang keceh. Potensi yang berlimpah pada diri remaja justru diberikan ruang oleh Islam untuk dikembangkan, tentu dengan tuntunan Islam melalui Al Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan dengan pengekspresian cinta secara bebas ala Sekularisme liberalisme. Karna hanya dengan Islam-lah potensi remaja akan jauh dan terhindar dari melakukan hal-hal yang tidak berfaedah menyalurkan rasa suka secara kebablasan hingga berujung pembunuhan seperti kasus-kasus diatas. Dengan Islam remaja diarahkan dan dipahamkan bagaimana dewasa dalam pandangan Islam, dewasa dalam berpikir dan bersikap. Remaja yang sudah baligh sudah dianggap dewasa dimana pada saat itu mereka menjadi manusia seutuhnya yaitu sebagai seorang mukallaf atau orang yang terbebani hukum syara’. 


“Telah diangkat pena (beban hukum) dari tiga golongan: dari orang gila hingga ia sembuh; dari orang yang tidur hingga ia bangun; dan dari anak-anak hingga ia BALIGH “(HR. Abu Daud).


Itu artinya seorang remaja muslim harus paham dan sadar untuk senantiasa mengaitkan segala apa yang dipikirkan dan lakukan dengan aturan Islam. 


Tentu saja temans, semua itu hanya bisa terwujud jikalau kejayaan Islam itu kembali hadir. Bahkan sebentar lagi dan tidak akan lama lagi.


Maka dari itu, kita sebagai pemuda hijrah yang sungguh-sungguh mau meraih Surga-Nya plus tidak ingin terjerumus ke lembah-lembah nan mengerikan seperti remaja pada umumnya, kudu ngaji dan belajar Islam kaffah. Agar diistiqomahkan dalam hijrah yang penuh dengan onak duri ini.


Terus terus ikut andil untuk menjadi pejuang agama Allah. Bersama menyongsong peradaban mulia yang sebentar lagi kan tiba. Wallahu A'lam Bissawab 




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!