Sunday, June 10, 2018

Guru Ngaji


Oleh: Sunarti PrixtiRhq

Ngawi, 10 Juni 2018


Di Mushala Nurul Iman di tempatnya Pak To, ada TPA. Setiap sore pukul 15.00 hingga 16.30. Selain itu ada rumah Tahfidz di lingkungan mushala. Keluarga Pak To sengaja mendirikan rumah khusus untuk anak-anak sekitar. Siswa dan siswinya mulai dari usia playgroup hingga anak-anak SD. Dan ternyata anak santrinya tidak hanya datang dari sekitar rumah dan sekitar desa. Namun mereka juga ada yang berasal dari luar daerah. Tepatnya semacam pondok pesantren. Lebih fokusnya terhadap tahfidz Quran, meskipun tidak meninggalakan materi ajar yang lain. 


Tempat ini sudah berdiri berpuluh-puluh tahun. Sesepuh Pak To mendatangkan guru ngaji dari pondok pesantren yang sudah lama berdiri dan tidak diragukan lagi keilmuannya. Unen-unene wong Jowo "wes nglonthok ilmune". 


Salah satu gurunya adalah Kyai Ekik, begitu panggilannya. Beliau sangat mumpuni di bidang fiqih. Yah, meskipun di rumah tahfidz, tetap diajarkan ilmu fiqih. Agar anak-anak tidak hanya hafal al quran. Kyai Ekik, mengabdikan diri sudah puluhan tahun. Bahkan hingga usia Beliau sepuh.

Karena kecintaan Beliau terhadap anak-anak dan cita-cita besarnya untuk berbagi Ilmu yang dimilikinya. 


Namun kali ini berita tidak sedap sedang menempel di namanya. Bahkan Pak To yang sudah memperlakukan Kyai Ekik sebagai keluarga sendiri, tidak mampu berbuat apa-apa.


Suatu ketika, dia berbincang di depan mushala bersama Pak Min. Dia sampaikan keluhannya pada Pak Min. "Lha piye, Pak, aku serba salah. Anak-anak kuwi butuh ilmu fiqih, tapi giliran diajarkan fiqihnya pada mereka, eh, malah Pak Carik minta dicopot gurunya. Alasannya macam-macam. Padahal kalau bicara fiqih, ada kesamaan pendapat dan ada perbedaan pendapat. Setahuku kali ini sikap Pak Carik sangat tidak baik. Lha ini masalahnya tidak ada perbedaan pendapat kok, malah gurunya diminta milih. Tetap mengajar tapi tidak mengajar fiqih, atau memilih keluar dari pondokan. Rasanya koq aneh ya?" keluh Pak To.


"Masalah sebelumnya apa ya, Pak? Apa mungkin ada suatu hal begitu? Sebelum peristiwa ini. Kan tidak mungkin "ujug-ujug" dipecat" tanya Pak Min keheranan.


"Itu lho, gara-gara membela anak murid di sini. Waktu di cerdas cermat. Beliau sebenarnya jadi salah satu juri. Namun karena juri lain bermain tidak jujur. Sehingga ketika Beliau membela jawaban anak-anak di sini, dikira malah pilih kasih", cerita Pak To.


"Wah, tidak ada yang membela Beliau?" tanya Pak Min.


"Banyak, Pak. Namun karena cerdas cermat yang mengadakan Pak Lurah, sehingga jawaban sesuai keinginan Pak Lurah. Pemenangnya pun demikian. Sehingga Pak Carik yang ketiban sampur untuk menindak lanjuti Pak Ekik. Karena dianggap tidak manut terhadap peraturan", cerita Pak To.


"Sebenarnya masalah fiqih apa ya, Pak?" tanya Pak Min.


"Itu yang di kitab-kitab fiqih bab terakhir. Masalah imamah. Beliau bermaksud meluruskan, bahwa imamah itu diakui oleh seluruh kaum muslimin dan para ulama. Eh malah, anak-anak tidak boleh diajarkan masalah itu", Pak To bercerita dengan wajah sedih.


"Untungnya Pak Kyai Ekik, nglenggono. Beliau meskipun tidak diizinkan berada di rumah tahfidz/pondok ini, Beliau tetap istiqamah dengan keilmuannya. Dan insyaallah kebenaran yang Beliau pegang", sahut Pak Min.


"Iya. Semoga Beliau diberikan kesabaran.

Orang diambil sumber penghidupannya atau jalan datangnya rezeki. Namun rezeki tidak hanya dari Beliau mengajar di sini. Insyaallah, di tempat lain, sangat dibutuhkan ilmunya", kata Pak To.


"Aamiin. Semoga begitu. Mereka lupa, Pak. Dikira rezeki datang dari pekerjaan. Padahal ilmu Beliau lebih mahal dari gaji Beliau.

Kalau orang Jawa bilang "Kebo bule mati setra : wong pinter nanging ora ana kang mbutuhake

(Orang pandai tapi tidak ada yang membutuhkan). Padahal Ilmu yang Beliau miliki ora gemen-gemen.

Akibat dari grusa-grusu mengambil keputusan. Jaman kayak sudah kewolak-walik", sambung Pak Min.


Sambil menggaruk-garuk dahinya yang tidak gatal, Pak Min terlihat resah. Dilanjutkan kata-katanya, "Sekarang banyak yang berlaku seperti paribasan "Segawon gedhe, menang kerahe :

wong kang dhuwur pangkate mesti bae gede panguwasane (Orang berpangkat tinggi wajar jika memiliki kekuasaan yang besar). Hingga yang tak bersalah diperlihatkan seperti orang yang bersalah", lanjut Pak Min lagi.


Tak lama kemudian di mushala lain terdengar suara azan. Mereka berdua segera menuju tempat berwudhlu.


Sekian. 


#RamadanBersamaRevowriter

#RamadanPenuhBerkah

#RamadanBulanPerjuangan

Ramadan Hari ke 25, Bersama Keluarga Pak Min dan Mak Tum. 



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!