Tuesday, June 12, 2018

Gaun Indah di Hari Raya


Oleh : Asma Ridha


Ramadhan akan segera berlalu, hari raya sudah menghitung hari. Persiapan menyambutnya pun dengan suka cita. Membeli baju baru, rumah di cat baru, sofa baru, perabotan baru, gorden baru, dan yang lainnya bagi yang mampu dan berkecukupan akan membeli segala hal yang baru-baru.


Variasi kueh di persiapkan untuk menyambut tamu, baik sanak saudara, tetangga dan saudara lainnya. Suka cita berkumpul bersama dan menyambut hari raya dengan segala kesempurnaan yang ada.


Sangat benar hari raya umat muslim yang boleh kita bersuka cita menyambutnya hanya ada pada dua hari raya saja. Yakni hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Maka tidak ada hari raya lain bagi umat muslim yang boleh merayakannya. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata :


قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ


“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main.Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih)


Jadi pada dasarnya keceriaan menyambut hari raya ini tidak ada yang salah. Namun tetap Islam mengajarkan kesederhanaan dan tidak berlebihan. Karena esesnsi idul fitri bukan pada kemeriahan barang dan serba baru segala hal. Namun pada ketaatan dan ketqwaaan yanh semakin tunduk dan patuh kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.


Demikian pula baju baru di hari raya. Tentu hal yang wajar, kita ingin mengenakan yang terbaik di hari tersebut. Membelikan untuk keluarga tercinta, anak dan istri serta orang tua bukanlah hal yang salah ketika rezeki ada dan mampu membelikannya.


Bahkan berbagi kepada yang membutuhkan juga hal yanh diutamakan untuk sama-sama bersuka cita menyambut hari raya umat muslim sedunia. 


Sebagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita mengasihi seorang gadia kecil dii saat anak-anak lain riang gembira di hari raya. Namun justru anak gadis kecil ini tetlihat murung dan sedih.


Rasulullah SAW melihat pakaian anak gadis tersebut dengan banyak tambalan dan sepatu yang dikenakanpun telah usang.  Rasul pun menghampirinya dan anak gadis tersebut menangis tersedu-sedu dengan menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya.


Rasulullah SAW meletakkan tangannya di ataa kepala gadis kecil ini. Dengan suaranya yang lembut :

"Anakku, mengapa engkau menangis ?  Bukankah hari ini adalah hari raya ?"


Si gadia kecil ini terkejut dan tanpa berani mengangkat wajahnya iapun menjawab :


"Pada hari raya ini semua anak inginkan agar dapat berkumpul bersama orang tuanya dengan bahagia. Semua anak bermain dengan gembira. Aku teringat pada Ayahku, karena itulah aku menangis. Ketika itu hari raya terkahir bersamanya, ia membelikan aku gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Dan aku sangat bahagia. Dan ketika ayahku pergi berjihad bersama Rasulullah SAW membela Islam beliaupun syahid dan tak pernah aku bisa bersamanya lagi. Sekaranh Ayahku sudah tidak ada lagi, Aku telah menjadi yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untul siapa lagi?".


Rasulullah SAW dengam jiwa penyayanhnya  berkata :

"Anakku, hapuslah air matamu.. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan aku katakan kepadamu.. Apakah kamu ingin agar aku Rasulullah menjadi ayahmu? Dan apakah kamu ingin Ali menjadi pamanmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu? Hasan dan Husen menjadi adik-adikmu? Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana pendapatmu tengang usulku ini?


Sang gadis kecil terdiam dan mengangkat wajajnya. Memandang dengan rasa takjub orang yang ada di hadapanya. Tanpa ada kata-kata yang terucap hanya mampu mengangguk tanda persetujuannya.


Gadis kecil ini bergandengan tangan dengan Rasulullah SAW menuju rumahnya Rasul mulia. Sesampai di rumah wajah dan kedua tangan gadis kecil ini dibersihkan dan rambutnya disisir. Semua keluarga Rasulullah SAW memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil ini dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan dan uang di hari raya. Hingga anak-anak lainpun iri pada gadis kecil ini dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri. 


Gadis kecil ini berkata :

"Akhirnya aku memiliki seorang ayah ! Di dunia ini tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliko ayah seperti Rasulullah? Memiliki paman seperti Ali yang hatinya sangat mulia. Juga kakak perempuan seperti Fatimah Az-Zahra yang telah menyisir rambutku dan mengenakanki gaun yang indah ini. Aku sangat bahagia memiliki adik Hasan dan Husen. Dan aku juga kini memiliki Ibu bernama Aisyah, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya".


Inilah esensi baju baru, gaun indah dan suka cita di hari raya. Rasulullah SAW tidak melarangnya. Namun tetap dengan kesederhanaan dan tujuan dari berpuasa adalah ketaqwaaan yang sebenar-benarnya taqwa. Dengan prediket taqwa adalah gelar dan sebaik-baik gelar yang patutnya harus diperjuangkan oleh setiap muslim.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!