Tuesday, June 5, 2018

Framing Media yang Kian Miris


Oleh: Tri S


Kerusuhan di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, serangan bom ke gereja di Surabaya hingga beberapa tempat lain, sangat menyedihkan. Siapapun pelaku dan apapun motivasinya, peristiwa ini harus ditolak. Perbuatan keji ini sangatlah bertentangan sama sekali dengan ajaran Islam. Sangat jelas, syari’ah Islam melarang dengan tegas mengganggu ibadah dan merusak tempat ibadah agama lain, apalagi sampai melukai dan membunuh orang . islam melarang membunuh siapapun tanpa alas an  yang dibenarkan secara syar’i, terlebih jika tindakan itu menimbulkan kematian bagi dirinya. 


Tragedi kemanusiaan berupa teror bom bunuh diri yang terjadi baru-baru ini tentunya membuat banyak pihak, dan tak sedikit yang merasa cemas. Tindakan yang diambil aparat dengan meningkatkan pengamanan pasca peristiwa tersebut, perlu diapresiasi karena dapat meredakan kecemasan masyarakat. Namun, ada hal yang patut dikritisi pada peristiwa ini yakni framming yang dilakukan negara dan diikuti media-media dengan cara mengaitkan terorisme dengan ajaran Islam kaffah dan pengembannya. Opini yang dibentuk melalui pernyataan rezim penguasa dan pemberitaan media, menggiring masyarakat untuk mewaspadai ajaran Islam yang mereka cap radikal dan ekstrimis. 


Bagaimanapun juga, umat Islam menolak terorisme atas nama apapun karena memang tak sesuai dengan nilai-nilai al-Qur'an dan Sunnah, namun seperti lagu lama, setiap ada kejadian teror, Islam yang paling mendapat sorotan. Framing negatif inilah yang harus dikritisi dan ditolak karena dampaknya sangat merugikan dakwah Islam terutama dakwah Islam kaffah. Framing negatif juga mengakibatkan diskriminasi kepada sebagian umat Islam yang berpenampilan syar'i seperti bercadar. Mereka dicurigai dan mengalami prosedur keamanan lengkap dibanding orang-orang yang tidak berpenampilan syar'i. Bahkan, di salah satu kota, ada wanita bercadar yang tidak diizinkan petugas untuk naik transportasi umum karena khawatir menimbulkan kecemasan penumpang yang lain.

Terkait terorisme dan kejahatan serupa, penguasa hendaknya bersikap adil dalam penanganan dan membuat pernyataan karena akan berdampak luas terhadap kondisi sosial masyarakat. Framming yang merugikan Islam dan umat Islam harus segera dihentikan agar tak menimbulkan fitnah yang memicu islamophobia. Pembunuhan melalui teror bom merupakan kejahatan, namun fitnahlah kejahatan tingkat tinggi karena lebih kejam dari pembunuhan dan berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT, apalagi jika Islam yg difitnah. Jika umat mencium ada agenda jahat dibalik kasus terorisme, umat tidak akan diam dan penguasa akan kehilangan kepercayaan dari umat.


Untuk menepis framming kepada dakwah Islam kaffah, aktivitas dakwah harus kian digencarkan dan dibarengi dengan akhlak yang baik. InsyaAllah, dengan dakwah yang istiqomah penuh kesabaran dan akhlakuk karimah, publik tidak akan termakan framming dan label negatif yang disematkan pada Islam kaffah.


Walhasil, sudah seharusnya umat Islam tetap teguh, sabar dan istiqomah dalam perjuangan menegakkan syariah dan Islam kaffah dengan cara atau metode yang benar sebagaimana dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Tidak gentar terhadap setiap tantangan, hambatan dan ancaman hingga cita-cita mulia itu benar-benar tegak. 


(*Penulis adalah pemerhati perempuan dan generasi)


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!