Saturday, June 2, 2018

 DI JALAN DAKWAH KU INGIN SETIA (PART4)



OLEH: RATU IKA CHAIRUNNISA


Sahabat. Aku ingin bicara tentang sahabat. sahabat yang saling menopang dalam taat. Sahabat yang buat pijakan kaki kita di pondasi Iman semakin kuat. Sahabat yang membangkitkan kita berapa puluh kali pun tersungkur dan tetap setia memegang tangan kita erat. Ya, ini tentang sahabat surga. Sahabat di jalan dakwah. Yang dengan melihat pancaran cahaya di wajahnya, keyakinan itu semakin bertambah kuat. Melalui lisan nya, ada lentera yang siap sedia terangi hati yang mulai pekat.

.

.

Dan persahabatan terhebat yang tak pernah sedetikpun hilangkan takjubku padanya, adalah persahabatan Rasulullah Saw dengan para sahabatnya sang generasi mulia.

.

.

Ya, Rasulullah pun butuh sahabat. Tuk emban tugasnya, sebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Manusia sempurna saja, butuh bantuan manusia lainnya. Karena hakikat kita tetaplah sama. Sama-sama manusia yang lemah dan terbatas. Jika kita merasa sakit ketika dipukul. Rasulullah pun sama. Jika kita bisa merasa sedih, kecewa, terluka, bahkan hampir ingin menyerah. Rasulullah pun punya rasa tak beda. Karena kita  sama-sama manusia.

.

.

Dan Abu Bakar adalah sahabat yang paling Rasulullah saw cintai. Ia sahabat yang selalu setia pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Siap sedia mengorbankan seluruh yang dimilikinya demi Allah, Rasul Nya dan tegaknya Islam di penjuru dunia. Rasulullah pun telah menjelaskan bagaimana keutamaan Abu Bakar.


Ia bersabda: “Tak seorang pun yang pernah kuajak masuk Islam yang tidak tersendat-sendat dengan begitu ragu dan berhati-hati kecuali Abu Bakar. Ia tidak menunggu-nunggu atau ragu-ragu ketika kusampaikan hal ini,”


Sampai-sampai Umar bin al-Khattab Radhiyallahu ‘anhu memuji beliau dengan mengatakan:


“Seandainya keimanan Abu Bakar radliallahu ‘anhu ditimbang dengan keimanan penduduk bumi (selain para Nabi dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka sungguh keimanan beliau radliallahu ‘anhu  lebih berat dibandingkan keimanan penduduk bumi”. (HR. Ishaq bin Rahuyah dalam Musnadnya, no. 1266 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul iman, no. 36)


Hingga layaklah gelar Ash-Shiddiq tersemat di belakang namanya. Karena sejak awal risalah Islam disebar oleh Rasulullah Saw. Abu Bakar lah yang selalu membenarkan Rasulullah tanpa sedikit pun keraguan di hatinya. Pada peristiwa Isra’ Mikraj, misalnya. Disaat keraguan menyeruak hebat di dalam dada kaum muslimin. Banyak yang murtad karenanya. Tapi tidak dengan Abu Bakar. Bahkan ia dengan lantang katakan, bahwa jika seandainya Rasulullah menyampaikan yang jauh lebih tidak masuk akal dari itupun, niscaya ia kan terima tanpa tanya dan ragu yang usik iman di hatinya. Masya Allah. Begitulah kokohnya iman Abu Bakar.

 .

.

Dengan iman yang sudah penuhi seluruh rongga hidupnya. Ia menjadi sosok terdepan dalam perjuangan Islam. Lisan, pikiran, harta, bahkan nyawa siap sedia ia wakafkan di jalan dakwah. Dakwah sudah menjadi nafas hidupnya. Hingga bisa terlihat melalui perantara lisannya lah Allah berikan hidayah-Nya kepada generasi pertama Islam (As-Sabiqunal Awwalun). Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin Auf. Adalah nama-nama besar yang terpahat dalam bangunan peradaban Islam yang masuk Islam melalui perantara Abu Bakar.

.

.

.

Masalah pengorbanan harta di jalan dakwah? Abu Bakar juga yang menjadi juaranya. Ia bukan sahabat terkaya, dibandingkan sahabat rasul lainnya seperti Abdurrahman bin Auf. Tapi ia lah yang paling besar pengorbanan harta di jalan Allah SWT.  Tatkala ada seruan Rasulullah untuk memerangi pasukan Romawi, maka semua sahabat berlomba mengeluarkan harta.


Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarokfuri dalam Sirah Nabawiyahnya menyebutkan bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang pertama kali datang kepada Nabi dan menyerahkan seluruh hartanya. Ungkapan yang masyhur sampai saat ini adalah jawaban Abu Bakar ketika ditanya Nabi apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya. Maka ia menjawab,”Aku telah meninggalkan dua hal yang lebih baik dari dunia dan seisinya, yaitu Allah dan Rasul-Nya.”

Hingga umar yang berniat mengalahkan Abu Bakar pun mengatakan : "Selamanya, aku tidak akan dapat mengalahkannya dalam hal apapun" [HR Tirmidzi, no. 3675, 


Masya Allah. Ia rela tak menyisakan harta apapun bagi diri dan keluarganya. Kecuali harta tak ternilai yang tetap setia membersamainya. Ya. Allah dan Rasul-Nya menjadi harta termahal yak bernilai harga bagi Abu Bakar. Ia tak takut terhina. Tak khawatir kelaparan. Tak peduli menjadi miskin karenanya. Yang terpenting Allah dan rasul-Nya tetap setia bersamanya itu cukup. Cukup membuat ia menjadi orang paling bahagia. Masya Allah. Sedangkan kita. Dalam jerat kapitalisme saat ini. Berapa banyak yang justru lebih memilih korbankan dakwah tuk raup ampas materi sisa ketamakan para kapitalis durjana.


Dunia kerja telah berhasil ikut menyeret para pengemban dakwah, hingga dakwah hanya diberikan jatah waktu-waktu sisa saja. Seadanya. Sisa letih kita. Sisa perhatian kita. Sisa pikiran kita. Sisa harta kita.  Astaghfirullah. Malu rasanya jika menyandingkan diri dengan para sahabat yang mulia. Entah masih layakkah kita mendapat kemenangan agung dari-Nya. Jika dakwah saja tak menjadi fokus seluruh aktivitas kita bermuara. Entah masih layakkah kita mendapatkan surga-Nya. Jika kekurangan harta saja mampu menahan laju dakwah kita. Tak bisa berlari kencang hanya karena alasan pekerjaan.


Bukan hanya harta atau dakwah dengan lisan yang menjadikan ia selalu terdepan. Ia pun telah buktikan bahwa nyawanya pun siap sedia ia korbankan. Hanya tuk buktikan cinta sejatinya pada sang sahabat yang teramat dicinta. Ya, cintanya pada Rasulullah SAW jauh lebih melangit luas dibanding kecintaannya pada dirinya sendiri.


Lebih baik aku sakit, asal jangan Rasulullah. Lebih baik aku terluka. Asal Rasulullah tetap baik-baik saja. Lebih baik aku yang kehilangan nyawa asal Rasulullah tetap bisa hidup sebagai lentara bagi dunia. Itulah yang ada dalam pikir Abu bakar.


Pada awal permulaan dakwah Islam, misalnya. Iman dalam dada Abu bakar terus menggeliat. Membakar dirinya tuk tak bisa diam menahan panas imannya sendirian. Ia ingin nikmatnya panas ini tersebar ke seluruh alam. Abu bakar lalu berdiri di Masjidil Haram. Menyeru seluruh yang ada di sana untuk mentauhidkan Allah SWT. Meyakini Muhammad sebagai utusan Allah.  Hingga api kemarahan seketika menyulut penduduk Mekah. Emosi mereka terbakar. Hingga dengan beringas, mereka tak segan menyerang Abu Bakar. Ia dikeroyok. Dipukul. Diinjak-injak tanpa ampun. Utbah bin Rabi'ah memukul wajah Abu Bakar dengan sandal hingga lebam. Sampai tak nampak beda antara hidung dan luka lebam yang dideritanya.


Abu Bakar terkulai lemah tak berdaya. Ia tak sadarkan diri. Hingga Bani Taim menduga, bahwa Abu Bakar kan kehilangan nyawa. Namun, Allah masih menghendaki kehidupan menjalar di seluruh tubuhnya. Ia akhirnya sadarkan diri. Seluruh keluarga begitu gembira. Ibunya segera sediakan beragam makanan untuk anak tercinta. Namun apa yang terjadi? Abu Bakar justru menolaknya. Yang ada dalam benaknya adalah Rasulullah SAW. Ia takkan bisa makan sebelum memastikan Rasulullah tetap aman. Ia terus menanyakan keadaan Rasulullah.


Keluarganya pun pasrah. Sang ibu akhirnya memapahnya menemui seorang yang dicintainya. Rasulullah demikian terharu melihat kondisi sahabatnya. Ia seketika mendekap erat tubuh Abu Bakar.


" Aku tidak apa-apa, Rasulullah". Abu bakar berkata lirih dengan susah payah. "Hanya saja wajahku agak lebam"


Masya Allah. Rasa sakit yang hampir menghilangkan nyawanya pun tak terasa jika iman yang bicara. Selalu Rasulullah SAW yang memenuhi seisi ruang hati dan pikirannya. Ya, Inilah persahabatan sesungguhnya. Sahabat yang terus mendekap erat dalam taat. 


=========================

Bersambung.




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!